SAMPIT,radarsampitjawapos.com- Potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat dampak krisis di Timur Tengah, mulai direspon pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Isu tersebut nampaknya menimbulkan kecemasan, karena akan berdampak berantai terhadap berbagai sektor ekonomi masyarakat.
Seperti diungkapkan Rahmatnoor, salah satu pelaku ekonomi sekaligus Ketua salah satu komunitas UMKM di Kotim. Ia menilai kebijakan kenaikan BBM nantinya akan menjadi pukulan berlapis-lapis bagi masyarakat.
“BBM itu bukan hanya soal bahan bakar, tapi fondasi seluruh aktivitas ekonomi. Kalau naik, dampaknya langsung ke semua sektor, dari produksi sampai konsumsi,” ujarnya kepada Radar Sampit, Rabu (25/3).
Selain itu lanjutnya, potensi krisis ekonomi berantai yang bisa menghantam seluruh lapisan masyarakat. Dampaknya tidak berdiri sendiri, tetapi menjalar dari satu sektor ke sektor lain, menciptakan tekanan yang luas dan sulit dihindari.
Dirinya berkaca dari beberapa negara di kawasan Asia Tenggara. Menurut Rahmat, sejumlah negara seperti Vietnam, Laos, hingga Kamboja telah lebih dulu menaikkan harga BBM akibat lonjakan harga minyak dunia.
Di Indonesia lanjutnya, harga BBM memang masih tertahan oleh skema subsidi. Namun tekanan global terus meningkat, dan dampaknya sudah mulai terasa di daerah, termasuk Kabupaten Kotawaringin Timur.
Menurut Rahmat, sektor pertama yang akan terpukul adalah transportasi dan distribusi. Kenaikan harga BBM akan mendorong lonjakan ongkos angkut barang, yang kemudian secara cepat merembet ke harga kebutuhan pokok.“Tidak ada jeda. Begitu ongkos naik, harga di pasar ikut naik. Ini yang paling cepat dirasakan masyarakat,” cetusnya.
Dampak berikutnya lanjut Rahmat, akan menghantam sektor produksi, terutama UMKM, petani, dan nelayan. Biaya operasional meningkat, mulai dari bahan baku, distribusi, hingga penggunaan alat berbasis BBM. Di sisi lain, daya beli masyarakat justru cenderung melemah.
“UMKM ini diapit dua tekanan biaya naik, tapi pembeli turun. Ini kondisi paling berbahaya karena bisa mematikan usaha kecil secara perlahan,” tegasnya.
Melebar ke sektor pertanian dan perikanan. Menurut Rahmatnoor, kenaikan BBM bahkan bisa mengganggu produksi. Nelayan, misalnya, sangat bergantung pada solar untuk melaut. Ketika harga naik, aktivitas melaut berpotensi berkurang, yang berujung pada penurunan pasokan ikan di pasar.
Efek berantai ini pada akhirnya bermuara pada rumah tangga. Masyarakat akan menghadapi kenaikan harga hampir di semua lini, mulai dari bahan pokok, transportasi, hingga kebutuhan harian lainnya.
“Yang paling terasa itu di dapur rumah tangga. Pengeluaran pasti naik, sementara pendapatan belum tentu ikut naik. Ini yang membuat masyarakat makin tertekan,” ujarnya.
Lebih jauh, Rahmatnoor mengingatkan bahwa kondisi ini berpotensi memicu inflasi daerah dan memperlebar kesenjangan ekonomi. Apalagi, daerah seperti Kotim sangat bergantung pada distribusi barang dari luar wilayah, sehingga lebih sensitif terhadap kenaikan biaya logistik.
Sementara itu, di tingkat regional, sejumlah negara bahkan sudah mulai mengambil langkah darurat, mulai dari pembatasan konsumsi BBM hingga penyesuaian harga untuk menjaga pasokan.
“Jika Indonesia akhirnya mengikuti tren kenaikan harga BBM, maka dampaknya hampir pasti akan meluas ke seluruh sektor. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat di daerah menjadi kelompok yang paling rentan menanggung beban,” papar Rahmatnoor.
Sementara itu di sisi lain, pasca libur lebaran, Pemerintah Kabupaten Kotim memastikan ketersediaan bahan pokok dalam kondisi aman, meski terjadi kenaikan harga pada sejumlah komoditas di pasaran.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi UKM Perdagangan dan Perindustrian Kotim Muslih mengungkapkan, hasil pemantauan pihaknya menunjukkan stok dan pasokan bahan kebutuhan masyarakat masih mencukupi.“Dari hasil pengecekan kami, untuk pasokan dan stok masih aman,” ujarnya.
Namun demikian, ia mengakui adanya kenaikan harga di beberapa pasar, terutama pada komoditas tertentu. Kondisi ini dipengaruhi berkurangnya jumlah pedagang, khususnya penjual ayam, yang belum kembali beraktivitas usai mudik Lebaran.
“Ada beberapa harga yang naik karena penjual ayam sementara ini jumlahnya berkurang dan masih banyak yang mudik, sehingga berdampak pada harga,” jelasnya.
Berdasarkan pantauan di Pasar Kramat, harga ayam saat ini berada di kisaran Rp45.000 hingga Rp50.000 per kilogram. Sementara itu, harga ikan tongkol tercatat sekitar Rp45.000 per kilogram.
Untuk komoditas cabai, harga cabai keriting berada pada kisaran Rp90.000 hingga Rp100.000 per kilogram, sedangkan cabai rawit mencapai Rp110.000 hingga Rp120.000 per kilogram.
Meski terjadi fluktuasi harga, Muslih menegaskan pihaknya akan terus melakukan pemantauan secara berkala guna memastikan stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok di pasaran.(ang/yn/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama