Oleh: Sabrianoor
”Satu bulan gaji guru honorer, hanya senilai hidangan malam penutup wakil rakyat. Nasibnya tak jadi topik di Debat Pilkada”
Demikian petikan video viral pengakuan sekelompok guru yang berani mengungkap gajinya yang begitu tak layak dalam hitungan bulan. Mereka adalah guru-guru Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-kanak (TK).
Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak merupakan jenjang dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Nominal gajinya pun lebih sedikit dari gaji guru honorer yang pernah viral, yakni Rp600 ribu per bulan.
Mereka rata-rata mendapatkan gaji di bawah Rp300 ribu per bulan.
Mirisnya, mereka sudah mengabdi menjadi guru Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-kanak (TK) selama puluhan tahun. "Sudah 15 tahun, gaji Rp50 ribu," ucap seorang guru PAUD yang sudah tak muda lagi.
Dari kutipan di atas, mencerminkan bagaimana sistem di Indonesia masih belum mampu mengatasi permasalahan kuno yang masih eksis hingga sekarang.
Darurat empati terhadap guru honorer di Indonesia disinyalir menjadi salah satu sebab.
Barometer ini bisa dilihat dari isi gagasan yang ada dalam mayoritas debat pasangan calon baik gubernur hingga bupati pada Pilkada yang tengah hangat sekarang.
Dari sekian banyak debat publik di momen Pilkada yang ada di Indonesia, bisa dibilang sangat sedikit calon yang menyentuh gaji guru honorer.
Mungkin guru honorer masih jadi minoritas dan lemah, sehingga tidak menarik untuk diulik para paslon.
Hal ini jelas menandakan segala upaya sosialisasi adalah kepentingan buta, bukan nurani yang memanggil untuk berdiri di belakang seluruh unsur masyarakat.
Beralih di debat calon Gubernur PIlkada Kalteng. Tak ada yang bersuara, tak ada yang resah atau mungkin karena lemahnya guru honorer sehingga tidak kelihatan gaungnya, tema ini tidak menarik.
Bayangkan, begitu banyak generasi yang lahir dari tangan guru salah satunya honorer, tapi sedikit yang peduli.
Jika elite politik saja kebanyakan tak melihat, bagaimana warganya atau hal ini mungkinkah diakibatkan "perut besar" elit keputusan dan wakil rakyat sehingga tak mampu melihat kesedihan di balik ketulusan para guru.
Gaji dan pemasukan para wakil rakyat saja yang harusnya mengangkat mereka.
Lihatlah perbandingannya. Satu bulan gaji para honorer mungkin hanya senilai hidangan makan malam penutup mereka satu kali santap.
Sarkasme ini tak lain bermaksud, mari tengoklah mereka, dengarlah cerita mereka.
Angkatlah mereka, karena mayoritas sudah banyak mendiskriminasi mereka. Dalam hukum, mereka sudah sering dipertemukan dengan pisau hukum yang tajam.
Dilaporkan atas nama perlindungan anak, disoroti ketika berbuat salah, tapi sedikit yang melihat apa yang telah mereka perbuat.
Hati mereka kebanyakan murni ingin generasi bangsa ini diangkat derajatnya meskipun harus menginjak kepala mereka pada kenyataannya. )* Wartawan Radar Sampit di Kuala Kapuas
Editor : Slamet Harmoko