”Penghasilan jualan, sawit, dan hampir semua sektor sepertinya menurun. Banyak teman-teman ngeluh sawitnya ngetrek karena nggak kuat memupuk. Banyak juga yang dagangannya sepi . Tapi harga-harga kebutuhan naik terus," keluh Andre, salah satu warga Nanga Bulik.
Keluhan banyak masyarakat ini tampaknya langsung ditanggapi oleh sejumlah instansi. Sehingga kemarin (14/4), dalam sehari ada tiga titik pasar murah yang tersebar dan digelar oleh pihak yang berbeda.
Pertama dari Kejaksaan Negeri Lamandau. Dimana secara serentak Se Kalteng mereka menggelar bazar murah Ramadan. Harga yang ditawarkan untuk per paket sangat murah, sehingga banyak warga berbondong-bondong untuk datang.
”Benar, hari ini kami kembali menggelar bazar. Hanya dengan menebus Rp50 ribu, warga bisa mendapatkan paket sembako senilai Rp120 ribu. Kita sediakan kuota untuk 100 paket," ujar Kajari Lamandau melalui kasi pidsusnya, Donny Mahendra.
Sementara itu, di balai Desa Kujan juga didrop sebanyak 1000 paket sembako dari pemerintah provinsi untuk beberapa desa di Kecamatan Bulik. Sebelumnya harga jual paket sembako di pasar penyeimbang ini ditetapkan Rp50 ribu /paket, namun tiba-tiba di tengah jalan gubernur menelpon dan meminta harga diturunkan menjadi Rp20 ribu /paket berisi beras, minyak goreng dan susu.
Terpisah, di halaman masjid Baiturrahman, dalam dua hari terakhir ini juga ada bazar pasar murah yang diselenggarakan oleh Kodim 1017 Lamandau . Berbeda dengan dua bazar sebelumnya yang mengharuskan pembelinya memiliki kupon terlebih dahulu, pada bazar kali ini diperuntukan bagi masyarakat umum. Sehingga siapapun boleh membeli.
”Kita menggandeng toko grosir, sehingga paket sembako yang dijual bisa lebih murah dari harga pasaran. Setiap paketnya dijual seharga Rp150 ribu. Dan selama dua hari ini telah disiapkan sebanyak 400 Paket, karena hari pertama antusiasme sangat tinggi, 100 paket yang disiapkan kurang, dan hari ini disiapkan lagi 300 an paket," ungkap Dandim 1017/LMD, Letkol Inf Dwi Dipoyono. (mex/gus) Editor : Administrator