”Kami perlu mengasah kemampuan, karena risiko nyawa menjadi taruhan. Makanya kami terus asah kemampuan," kata Kepala Disdamkarmat Kotim Hawianan.
Dia menuturkan, tugas pemadam kebakaran sangat mulia. Namun, selama ini dinas tersebut seperti dipandang sebelah mata. Hanya ketika ada musibah saja baru diperlukan.
”Di saat tiada musibah, kami ini tidak dipandang, tapi ketika musibah datang, baru melihat betapa pentingnya keberadaan kami bagi masyarakat,” ujarnya.
Meskipun demikian, lanjutnya, hal yang patut ditanamkan di dalam hati setiap personel adalah jiwa pengabdian dan loyalitas. Sebagaimana istilahnya, pantang pulang sebelum padam, walau nyawa taruhannya.
Selain memadamkan api, mereka memiliki tugas penyelamatan (rescue). Apalagi saat musim hujan banyak laporan warga tentang gangguan satwa liar, seperti ular dan lainnya. Selain itu, saat kemarau banyak sarang tawon.
”Dan ini pelayanan cuma-cuma yang kami lakukan untuk masyarakat," katanya.
Melalui latihan bersama tersebut, diharapkan kedua kabupaten bisa saling berbagi dan bertukar pengalaman, sehingga diharapkan dapat melayani masyarakat dengan lebih baik.
Sementara itu, Sekretaris Satpol PP dan Damkar Lamandau Eriati mengatakan, pemadam kebakaran merupakan pekerjaan sosial yang bekerja dengan hati. Namun, para personelnya tetap perlu dibekali dengan kemampuan untuk menghadapi berbagai kondisi di lapangan, baik kebakaran maupun penyelamatan.
Tujuan pihaknya melakukan latihan bersama dengan Disdamkarmat Kotim, untuk berbagi tugas dan pekerjaan. Menurutnya, Kotim dan Lamandau mempunya kondisi alam yang berbeda, di mana di Lamandau tidak ada lahan gambut.
Pihaknya juga berlatih penanganan kebakaran di lahan gambut. Lahan yang jauh dari sumber air, karena Lamandau menurutnya wilayah perbukitan. Karena itu pihaknya ingin belajar cara mencari air di lahan yang jauh dari jalan.
”Kami juga evakuasi hewan berbahaya dengan alat sederhana. Kami pun membantu membersihkan rumah warga setelah kebanjiran. Menyedot sumbatan saluran air. Sebenarnya itu bukan tupoksi kami, tapi apa boleh buat. Harus kami lakukan demi kemanusiaan," ujarnya.
Pada kegiatan tersebut dilakukan pelatihan penyelamatan hewan berbahaya dengan menghadirkan aktivis pecinta satwa liar yang menerangkan teori serta praktik langsung penanganan hewan berbahaya, seperti ular kobra, ular sanca, dan biawak.
Harie, aktivis pecinta satwa liar memberikan contoh cara penanganan hewan liar di hadapan personel dari Kotim dan Lamandau. Dengan adanya pelatihan tersebut, diharapkan apabila ada warga yang melapor tentang keberadaan satwa liar, seperti ular maupun biawak, para personel sudah mengetahui bagaimana cara menanganinya.
”Saat menyelamatkan satwa liar, yang terpenting itu mental dan perlu tenang," kata Harie. (yn/ign) Editor : Administrator