Mampu Biayai Dua Anaknya hingga Sarjana
Admin • Jumat, 12 Maret 2021 | 14:28 WIB
Sukani, Petani Sukses di Pangkalan Bun
Menjadi seorang petani merupakan pilihan Sukani (62). Dari hasil bertani itu pula dia bisa menyekolahkan dua putranya sampai lulus sarjana.
RINDUWAN, Pangkalan Bun
Aktivitas Sukani sehari-hari dihabiskan di kebun Jalan Pramuka, Desa Pasir Panjang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat. Di lahan seluas satu hektare miliknya itu, ada beragam tanaman.
Tanaman itu di antaranya, cabai, semangka, pepaya, pisang, dan buah naga. Semuanya ditanam karena memiliki potensi nilai jual yang tinggi. Selain kebun itu, dia juga memiliki kebun di lokasi lain, yakni di Desa Kumpai Batu Atas.
”Saya mengurus dua kebun. Pertama di Jalan Pramuka ini ada tanaman tumpang sari, yakni buah naga dan cabai. Sedangkan di kebun kedua di Desa Kumpai Batu Atas ada cabai rawit, cabai hijau, dan semangka," kata Sukani.
Dia menuturkan, menjadi petani cabai harus telaten. Merawat tanaman itu memang dilihat mudah, tapi sebenarnya sulit. Apalagi di musim penghujan. Selain mudah busuk, juga mudah diserang hama.
”Selama tujuh tahun ini, saya telaten menanam cabai. Kalau ada hama, tinggal disemprot pakai cairan khusus untuk cabai," ujarnya.
Sukani mengungkapkan, masa awalnya bertani di Pangkalan Bun sangat susah, karena tanahnya tidak sesubur seperti tempat asalnya di Banyuwangi, Jawa Timur. Meski demikian, dia terus berusaha dan bangkit untuk mencoba bertanam sayuran. Apalagi saat itu di Pangkalan Bun belum banyak yang bertanam sayur, sehingga jadi peluang sangat bagus dan nilai jualnya masih tinggi.
”Saya tergiur karena harga sayuran masih mahal. Setelah tahu celahnya dan ditelateni, hasilnya selalu ada," ujarnya.
Menurutnya, menanam cabai harus diperlakukan seperti anak sendiri. Setiap satu batang harus diperhatikan. Apabila ada yang mulai kering, harus cepat dipangkas.
”Sebenarnya petani bakal semangat ketika harga cabai mahal. Pohonnya bakal dirawat dan diperhatikan. Seperti sekarang ini harga cabai rawit cukup tinggi," ujarnya.
Dia menuturkan, cabai per satu kilogram dari petani diambil tengkulak dengan harga Rp 80 ribu. Harga tersebut sangat bagus untuk petani cabai.
”Kalau sekarang ini harga cabai mahal, kami senang karena untung," ujarnya. Sebaliknya, apabila harga cabai anjlok, petani juga merugi.
”Menunggu sampai cabai merah itu sangat lama. Karena itu, harga yang murah itu sangat tidak sebanding," tambahnya.
Sukani mengatakan, harga cabai normal dari petani berkisar antara Rp 50 ribu per kilogram. Harga tersebut sudah ada untung meski tidak banyak. Namun, ketika ada harga lebih tinggi, pihaknya sangat senang.
”Harga cabai mahal karena banyak yang gagal panen. Terus terang saja, harga seperti sekarang sangat kami nanti," ungkapnya.
Meski demikian, lanjut Sukani, harga cabai di Pangkalan Bun lebih sering turun dibanding naik. ”Sejak Idul Adha sampai awal tahun ini, harga bertahan Rp 45 ribuan. Itu harga yang diambil dari tengkulak. Itu untung, tapi sangat sedikit," katanya.
Untuk menyiasati penghasilannya, Sukani belakangan ini menjalankan tumpang sari. Sedikit demi sedikit kebunnya ditanami buah naga. Tanaman itu dinilai sebagai prospek yang sangat menjanjikan.
”Dari satu hektare lahan yang awalnya untuk cabai dan tomat, sekarang saya tambah buah naga. Cabai jalan, buah naga juga jalan," ujarnya.
Menurutnya, dengan tumpang sari, ketika harga cabai turun, masih ada yang diharap dari tanaman lain. Namun, untuk buah naga memang belum maksimal, karena masa tanamnya belum genap satu tahun.
”Jika nanti buah naga sudah bagus, kemungkinan cabai bisa kalah. Tapi, tidak masalah karena buah naga juga masih sangat menjanjikan," katanya.
Lebih lanjut Sukani mengatakan, dia juga mengembangkan tanaman cabai di kebun Desa Kumpai Batu Atas. Kebun di desa itu sangat cocok untuk cabai karena tidak mudah terserang hama.
”Nantinya satu hamparan kebun kami di Kumpai Batu Atas akan dikembangkan cabai saja. Paling kalau kemarau ditambah semangka dan melon," ucapnya.
Sukani mengaku senang berani sejak muda. Di kampung asalnya dia sudah bertani. Namun, karena banyak yang berprofesi serupa, persaingan jauh lebih banyak.
Setelah merantau dan mengembangkan pertanian di Pangkalan Bun, dia mulai bangkit karena pesaingnya sedikit dan peluang pasarnya sangat besar. Dia mengurus dua kebun sekaligus dibantu istri dan seorang anak buahnya. Untuk bertanam dan perawatan dikerjakan sendiri.
”Terkadang kalau panen saya suruh orang membantu. Kalau semuanya saya, tidak mampu juga," bebernya.
Dari hasil bertani, Sukani bisa menyekolahkan dua putranya hingga perguruan tinggi. Semuanya berkat hasil bertani. ”Saya merantau dan memilih bertani karena desakan ekonomi. Saat itu anak saya sudah pada besar dan mau masuk perguruan tinggi," kenangnya.
”Alhamdulillah, sekarang keduanya sudah lulus kuliah. Satunya sarjana hukum dan satunya ilmu komunikasi. Sekarang kerja di luar negeri," tambahnya.
Sukani mengaku bangga bertani di Kobar, karena bisa memasok kebutuhan sayuran dan buah untuk masyarakat. ”Setidaknya buah yang saya jual masih segar, sehingga bermanfaat bagi banyak orang," pungkasnya. (***/ign) Editor : Admin