SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Denting musik tradisional mengalun pelan ketika dua pekuntau berdiri berhadapan di depan gapura kayu berukir khas Dayak. Tiga benang membentang di antara tiang kayu.
Inilah Lawang Sakepeng, ritual pembuka yang bukan sekadar seni silat, melainkan pintu adat sarat makna dalam tradisi Dayak Ngaju.
Ritual ini kembali diperagakan dalam Festival Budaya Habaring Hurung (FBHH) 2026 di kawasan Stadion 29 Nopember Sampit, Jumat (9/1/2026).
Di hadapan ratusan pasang mata, Lawang Sakepeng tampil sebagai simbol penyambutan sekaligus penjaga nilai-nilai adat yang diwariskan turun-temurun.
Koordinator lomba Lawang Sakepeng, Agus Sanang, menjelaskan bahwa kesenian ini berakar dari filosofi mendalam. Gerakan silatnya terinspirasi dari gerak hewan beruk yang kemudian dikembangkan menjadi rangkaian jurus bermakna.
“Gerakannya meniru hewan beruk, lalu dikemas menjadi seni silat. Dari situ lahir Lawang Sakepeng yang sampai sekarang masih hidup dan dijaga masyarakat Dayak, khususnya di Kalimantan Tengah,” ujarnya.
Dalam praktik adat, Lawang Sakepeng kerap ditampilkan pada acara pernikahan, penyambutan tamu kehormatan, maupun kegiatan adat lainnya. Ritual ini menjadi penanda bahwa seseorang tidak bisa begitu saja memasuki suatu wilayah tanpa melalui prosesi adat.
Makna utama Lawang Sakepeng terletak pada simbol “pintu adat”. Gapura kayu yang dihiasi ukiran burung enggang dan motif tanaman rambat menjadi batas sakral.
Tiga benang yang melintang di tengah gapura melambangkan bahaya, hubungan yang tidak baik, dan maut.
“Benang itu harus diputus. Filosofinya, tamu atau rombongan yang masuk diharapkan terbebas dari pengaruh buruk, kesialan, atau niat tidak baik yang dibawa dari luar,” jelas Agus Sanang.
Pemutusan benang dilakukan melalui rangkaian gerak silat yang tegas dan terukur, diiringi musik tradisional. Prosesi ini menjadi simbol pembersihan sekaligus doa agar kegiatan yang akan berlangsung berjalan aman dan membawa kebaikan.
Di tengah arus modernisasi, Lawang Sakepeng tetap menemukan ruang hidupnya. Pelestarian seni ini dilakukan melalui sanggar-sanggar budaya, sekolah, kecamatan, hingga perguruan pencak silat di Kotawaringin Timur.
Agus menilai minat masyarakat terhadap Lawang Sakepeng justru terus meningkat. Hal itu tercermin dari jumlah peserta lomba pada FBHH 2026 yang lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Ini menandakan Lawang Sakepeng bukan hanya bertahan, tetapi terus diterima generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya mereka,” pungkasnya.
Di balik setiap ayunan tangan dan hentakan kaki, Lawang Sakepeng bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah pesan adat—bahwa setiap langkah masuk ke sebuah ruang kehidupan harus diawali dengan penghormatan, pembersihan, dan niat baik. (oes)
Editor : Slamet Harmoko