SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kritik pedas dari warga kembali mengarah ke wajah Kota Sampit. Pasalnya, kota yang pernah berjaya sebagai penerima penghargaan Adipura kini dinilai semakin kumuh.
Catatan menunjukkan, Sampit terakhir kali meraih penghargaan Adipura kategori kota kecil terbersih pada tahun 1997, 2012, 2013, 2014, dan 2018. Setelah itu, penghargaan prestisius di bidang kebersihan lingkungan itu tak pernah lagi mampir.
“Dulu Sampit lebih bersih. Sekarang malah makin semrawut,” tulis Rahmad Hidayat, salah satu netizen di media sosial yang juga pemerhati lingkungan di Sampit, Rabu (24/9/2025).
Salah satu polemik yang ramai dibicarakan adalah keberadaan depo sampah. Warga menilai lokasi depo tidak tepat dan justru menambah masalah.
“Dulu ada tempat pembuangan sementara (TPS), jadi gampang buang sampah. Sekarang harus ke depo yang jauh, Kalau mau diambil ke rumah harus bayar Rp30 ribu per bulan pula. Itu berat bagi sebagian warga,” ujar Basuni, warga Baamang.
Selain itu, pembangunan tempat berdagang yang tidak memperhatikan estetika kota juga jadi keluhan. Kawasan sekitar Taman Kota Sampit dan Terowongan Nur Mentaya disebut makin semrawut karena penataan tak rapi.
Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim telah mengikuti rapat persiapan penilaian Adipura tingkat Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2025. Agenda itu telah berlangsung di Palangka Raya, Senin (23/9/2025).
Kegiatan itu juga sekaligus disertai sosialisasi Perencanaan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) serta Program Strategis KLH/BPLH.
Harapannya, langkah ini bisa membuka jalan bagi Sampit untuk kembali meraih Adipura. Namun bagi masyarakat, lebih penting dari sekadar penghargaan adalah kebersihan dan estetika kota yang benar-benar terjaga.
“Penghargaan itu bonus. Yang utama, Sampit harus bersih lagi seperti dulu,” pungkas Ojan, warga Sampit lainnya. (oes)
Editor : Slamet Harmoko