SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Dinas Perhubungan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memastikan tiang traffic light baru di persimpangan Jalan HM Arsyad-Pelita, akan dipasang hari ini, Sabtu (28/9).
Pemasangan melibatkan empat teknisi khusus dari CV Malala Kediri yang akan memasang satu titik tiang bando traffic setinggi 7,5 meter dan lebar 7,5 meter.
Termasuk pemasangan jaringan, satu titik penerangan jalan umum dan satu CCTV.
”Hari ini saya bersama teknisi dari Pulau Jawa sudah tiba di Sampit untuk survei ke titik lokasi. Tiangnya juga sudah dibawa ke lokasi," kata Rody Kamislam, Plt Kepala Dinas Perhubungan Kotim saat ditemui di lokasi, Jumat (27/9).
Selama proses pemasangan, ia akan menurunkan petugas Dishub untuk pengaturan lalu lintas.
”Informasi dari teknisinya, estimasi pekerjaan pemasangan tiang beserta jaringannya diperkirakan tiga hari. Ketinggian tiang nantinya juga akan disesuaikan atau sejajar dengan ketinggian jalan aspal," ujarnya.
Terkait biaya satu paket tiang bando traffic light, dipesan melalui pengadaan senilai Rp227 juta.
”Sesuai kesepakatan dalam rapat sebelumnya, biaya pengadaan traffic light ini sepenuhnya ditanggung oleh pihak penabrak tiang traffic light dari PT Amin Permai," katanya.
Insiden kendaraan alat berat yang menyeruduk tiang bando traffic light di Jalan HM Arsyad-Pelita itu terjadi pada 12 Juli lalu. ”Selama kurang lebih dua bulan, traffic light baru didatangkan dan siap dipasang," ujarnya.
Pantauan Radar Sampit, selama kurang lebih dua bulan sejak insiden tersebut, empat titik traffic light di perempatan Jalan HM Arsyad-Pelita tak fungsional.
Tak lama setelah kejadian tersebut, Pemkab Kotim juga sedang meningkatkan Jalan HM Arsyad sisi sebelah timur, sehingga arus lalu lintas dibuka dua jalur pada sisi sebelah barat Jalan HM Arsyad ke arah Bundaran KB.
Sementara itu, terkait rencana tiang traffic light menggunanan sistem katrol tak jadi dilakukan.
”Traffic light dengan sistem katrol tidak jadi. Mungkin nanti akan ada pengadaan berikutnya dipasang di kawasan tertib lalu lintas. Kalau traffic light tiang bando ini sudah eksisting semua. Kalau hanya satu menggunakan katrol, otomatis yang lain harus ngikut," sambung Rody.
Rencana pengadaan traffic light menggunakan sistem katrol awalnya untuk mengantisipasi apabila ada kendaraan angkutan berat yang tingginya melebihi ketinggian tiang bando, dapat ditinggikan atau direndahkan menggunakan sistem katrol.
”Rencana kami menggunakan sistem katrol itu karena khawatir jalur lingkar selatan rusak lagi dan kendaraan angkutan berat kembali masuk kota. Tetapi, alhamdulillah jalan di lingkar selatan sudah di agregat dan sudah fungsional sehingga diharapkan kendaraan alat berat tidak lagi masuk jalan dalam kota," katanya. (hgn/ign)
Editor : Slamet Harmoko