Radarsampit.jawapos.com – Terletak di sebelah timur Kota Suci Yerussalem, Laut Mati telah menarik pengunjung dari seluruh Cekungan Mediterania selama ribuan tahun.
Laut ini merupakan salah satu tempat peristirahatan kesehatan pertama di dunia dan telah menjadi pemasok berbagai macam produk, mulai dari aspal untuk mumifikasi Mesir hingga kalium untuk pupuk.
Saat ini, wisatawan mengunjungi laut tersebut di pesisir pantai Israel, Yordania, dan tepi barat.
Laut disebut "mati" karena kadar garamnya yang tinggi, mencegah organisme akuatik makroskopis, seperti ikan dan tumbuhan akuatik untuk hidup di dalamnya.
Meskipun terdapat sejumlah kecil bakteri dan jamur mikroba, tidak ada bentuk kehidupan yang dapat bertahan dalam air garam ini.
Secara geologi, laut mati terbentuk tiga juta tahun yang lalu ketika timbul retakan kecil pada lembah sungai Yordan (Jordan Rift Valley), di mana air laut masuk dan terkumpul, iklim kering dan evaporasi tinggi meningkatkan konsentrasi mineral dalam air.
Garam, kapur, dan gipsum terdapat pada sepanjang retakan ini dan menyebabkan kandungan garamnya tertinggi dari seluruh laut di dunia.
Kadar garamnya sekitar 32% dibandingkan terhadap kadar garam rata-rata 3% pada Laut Tengah.
Sejak dahulu, material yang terdapat dalam laut mati diketahui mempunyai efek untuk mempercantik kulit.
Dengan mengoleskan lumpur ini ke tubuh, mineral yang terkandung di dalamnya terbukti dapat memperbaiki kulit, melancarkan sirkulasi darah dan dapat membantu kesehatan.
Selain itu, kandungan garam yang tinggi membuat tubuh manusia selalu terdorong ke atas dan mengapung.
Pada saat banjir, kandungan garam Laut Mati dapat turun dari biasanya 35% menjadi 30% atau lebih rendah.
Laut ini hidup kembali untuk sementara waktu setelah musim dingin yang hujan.
Pada tahun 1980, setelah satu musim dingin yang hujan, Laut Mati yang biasanya berwarna biru tua berubah menjadi merah.
Para peneliti dari Universitas Ibrani Yerusalem menemukan bahwa laut tersebut dipenuhi oleh alga yang disebut Dunaliella.
Dunaliella pada gilirannya memelihara halobacteria yang mengandung karotenoid (berpigmen merah), yang keberadaannya menyebabkan perubahan warna.
Sejak tahun 1980, cekungan tersebut telah kering dan alga serta bakteri tidak kembali dalam jumlah yang dapat diukur.
Pada tahun 2011 sekelompok ilmuwan dari Be'er Sheva, Israel dan Jerman menemukan retakan di dasar Laut Mati dengan cara menyelam dan mengamati permukaannya.
Retakan ini memungkinkan air tawar dan payau masuk. Mereka mengambil sampel biofilm di sekitar retakan tersebut dan menemukan banyak spesies bakteri dan archaea.
Saat ini, kondisi Laut Mati menyusut dengan cepat; luas permukaannya saat ini adalah 605 km 2 (234 mil persegi), setelah sebelumnya seluas 1.050 km 2 (410 mil persegi) pada tahun 1930.
Beberapa usulan pembangunan kanal dan jaringan pipa, seperti proyek Pengangkutan Air Laut Merah–Laut Mati yang dibatalkan, telah diajukan untuk mengurangi penyusutannya. (sbn)
REFERENSI: Wikipedia.org, National Geographic, Virtual Israel Experience'Dead Sea
Editor : Gunawan.