RADAR SAMPIT - Di antara sejumlah penemuan-penemuan manusia dari hasil kemajuan teknologi, seperti telepon, kendaraan mesin hingga kecerdasan buatan, tidak ada yang sekontroversial penemuan di bidang Bioteknologi, seperti bayi tabung dan kawin silang antar hewan.
Ayam ras yang banyak dikonsumsi manusia merupakan salah satu hasil rekayasa genetika yang berhasil dan bermanfaat.
Dari keberhasilan tersebut manusia mulai mencoba untuk mengkawin silangkan hewan berbeda spesies, dengan melalui metode menyuntikkan sperma ke sel telur hewan yang punya kerabat cukup jauh.
Persilangan antarspesies di dalam dunia binatang sudah banyak terjadi. Meskipun biasanya perkawinan antarspesies ini menghasilkan keturunan yang mandul atau steril.
Pada genus kuda-kudaan (Equus) sudah banyak terjadi persilangan. Contohnya adalah : Zedonk (zebra jantan dan keledai betina )
Pernahkah Anda membayangkan bagaimana seandainya kalau hal itu terjadi pada manusia?
Ya! Beberapa ilmuwan telah mencoba manusia dan simpanse yang berasal dari spesies berbeda dikawinkan atau disilangkan?
Dilansir dari publikasi pada jurnal Pubmed " Ilya Ivanov and His Experiments on Cross Breeding Humans and Anthropoid Apes", Proyek perkawinan atau persilangan antara manusia dan simpanse sebenarnya sudah lama dilakukan.
Ilmuwan asal Uni Soviet bernama Ilya Ivanovich Ivanov melakukan eksperimennya di tahun 1920-an.
Diterangkan bahwa spesies hybrid dari dua buah spesies tersebut memang sudah pernah dicoba untuk "diciptakan" oleh para ilmuwan. Spesies hybrid (campuran) tersebut dinamakan humanzee.
Humanzee ini berasal dari kata human X chimpanzee atau manusia X simpanse.
Menurut penamaan portmanteau untuk spesies hybrid biasanya spesies jantan terlebih dahulu disebutkan lalu diikuti spesies betina.
Jadi, humanzee ini adalah keturunan dari manusia laki-laki dengan simpanse betina. Sedangkan chuman yaitu berasal dari kata chimpanzee dan human adalah kebalikan dari humanzee.
Ivanovixh berangkat ke Kota Conakry di Negara Guinea (yang waktu itu merupakan koloni Perancis) di Afrika.
Ivanovich menginseminasi (proses pembuahan dengan cara memasukkan sperma ke dalam rahim) sperma manusia ke dalam beberapa simpanse betina. Namun, semuanya tidak membawakan hasil.
Ivanovich juga berniat untuk menginseminasi sperma simpanse ke dalam tubuh manusia wanita, namun niat itu ditentang keras oleh pemerintah kolonial Perancis di Guinea sehingga proyek tersebut dibatalkan.
Akan lebih terlihat “manusiawi” untuk menyuntikkan sperma manusia ke dalam simpanse betina dibandingkan menyuntikkan sperma simpanse ke dalam tubuh manusia wanita.
Hingga akhir karir saintifiknya pada saat ia dibuang oleh pemerintahan Soviet karena mengkritik kebijaksanaan pemerintah Soviet di tahun 1930.
Ivanovich tidak pernah berhasil untuk "membuat" spesies hybrid yang dinamakan humanzee.
Namun, penelitian tidak berhenti untuk menghasilkan humanzee ini. Para ilmuwan ingin mendapatkan spesies yang “unggul” dengan menyilangkan manusia dan simpanse.
Sifat superior daripada simpanse ini tentu saja adalah kekuatan fisiknya. Seekor simpanse jantan dewasa mempunyai kekuatan fisik 5 hingga 8 kali kekuatan pria manusia dewasa.
Baca Juga: Ibu Kota Nusantara Siap Gelar Upacara HUT ke-79 Kemerdekaan RI
Sehingga diharapkan dari manusianse akan didapatkan kekuatan seekor simpanse dengan kemampuan otak seorang manusia.
Lalu, bagaimana nanti kalau yang lahir ternyata seekor atau seorang humanzee yang selemah manusia dan sebegal simpanse ?
Para ilmuwan tidak menyerah begitu saja. Pada tahun 1977, seorang ilmuwan Amerika Serikat, J Michael Bedford, menemukan fakta bahwa sperma manusia ternyata bisa menembus membran luar yang melindungi sel telur seekor babun.
Babun adalah seekor kera yang secara genetik hubungannya paling jauh dengan manusia dibandingkan simpanse, gorila ataupun orangutan.
Namun begitu, kehamilan dari buah persilangan yang diharapkan tetap tidak kunjung tiba.
Persilangan antara manusia dan simpanse yang satu suku ini (Hominini) sampai hari ini sama sekali belum membuahkan hasil meskipun ada yang mencoba mengklaim keberhasilan ini seperti di China di tahun 1960-an dan juga di Amerika Serikat sebelum Perang Dunia II, namun tidak pernah ada bukti nyata mengenai keberhasilan ini. (*)
Editor : Gunawan.