Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Merdeka Sebelum Pukul Lima, Sebuah Ketimpangan Akses di Mentaya Seberang

Heru Prayitno • Sabtu, 30 Mei 2026 | 11:11 WIB

 

Maharani Ayu Diah Warman dari SMPN 1 Sampit membacakan surat langsung di hadapan Bupati Kotawaringin H Halikinnor di halaman kantor Radar Sampit 25 Mei 2026.
Maharani Ayu Diah Warman dari SMPN 1 Sampit membacakan surat langsung di hadapan Bupati Kotawaringin H Halikinnor di halaman kantor Radar Sampit 25 Mei 2026.

 

Kepada Yang terhormat Bupati Kotawaringin Timur

Ayahanda H. Halikinnor

di Sampit

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita semua.

Perkenalkan Ayahanda, saya Maharani Ayu Diah Warman dari SMPN 1 Sampit. Tahun lalu saya pernah menyuarakan tentang "Sampit Kota Inklusif". Namun hari ini, izinkan saya kembali mengetuk pintu hati Ayahanda melalui sepucuk surat ini, sebab nyatanya inklusivitas itu masih seakan berhenti di tepian Sungai Mentaya.

Saya menyaksikan sendiri bagaimana para lansia harus melangkah perlahan dengan tangan gemetar saat menaiki kapal penyeberangan.

Ketika air sungai surut, dermaga menjadi curam dan licin, terutama bagi para lansia serta saudara-saudara kita penyandang disabilitas. Ketimpangan akses ini pun turut dirasakan oleh anak-anak sekolah di Mentaya Seberang, terutama ketika mereka harus mengikuti kegiatan hingga sore hari.

Sebagian orang mengenal pukul lima sore sebagai waktu syahdu untuk menanti senja. Namun, ketika saya mengikuti diskusi forum OSIS bersama SMPN 6 Mentaya Seberang, saya justru menyaksikan pukul lima sebagai lonceng peringatan yang mencekam bagi teman-teman saya.

Di tengah riuhnya forum, perhatian mereka perlahan tak lagi tertuju pada pembicara, melainkan pada jarum jam dengan raut wajah penuh kegelisahan. 

Kecemasan itu bukan tanpa alasan, sebab tepat pukul lima sore, layanan kelotok penyeberangan sebagai satu-satunya akses pulang akan berhenti beroperasi. Seolah-olah, masa depan dan hak mereka untuk belajar dibatasi oleh waktu yang berhenti tepat saat matahari mulai condong ke barat.

Beberapa waktu lalu, saya mencoba mengikuti jejak kaki mereka. Saya berdiri di dermaga, terjebak di tengah deru mesin motor yang mengantre, hingga satu jam lamanya.

Di bawah terik yang memanggang kulit dan aroma solar yang menyesakkan, saya merasakan sendiri betapa "mahalnya" arti sebuah waktu bagi warga Seberang. Ternyata, kemerdekaan untuk menyerap ilmu di tanah Kotim ini masih terbelenggu oleh jam operasional penyeberangan sungai.

Ayahanda, jarak Kota Sampit dan Mentaya Seberang tidak sampai dua kilometer, tetapi ketimpangan aksesnya terasa ribuan mil jauhnya.

Sejak saya duduk di kelas tiga SD, rencana pembangunan jembatan Mentaya terus menjadi harapan yang kami dengar. Kini, saat saya duduk di kelas delapan SMP, harapan itu menggantung di atas derasnya arus sungai tanpa kepastian.

 Di sana saya bertemu Bapak Muhid, warga Seberang, yang berkata bahwa kabar pembangunan sering kali hanya datang dan bisikan mulut ke mulut.

Namun Ayahanda, ini bukan sekadar informasi atau pembangunan yang tertunda. Ini tentang nyawa yang dipertaruhkan. Saya mendengar kisah warga kritis yang harus menahan sakit di atas kelotok, sementara ambulans hanya bisa menunggu di seberang sungai.

Karena itu, kami tidak hanya membutuhkan janji, tetapi jembatan yang benar-benar mampu menyambungkan harapan masyarakat Seberang dengan kemajuan daerah.

Saya memahami bahwa membangun jembatan tidak semudah membalik telapak tangan, karena membutuhkan biaya besar dan banyak pertimbangan.

Tetapi, jika kita melihat dari kacamata efisiensi jangka panjang, jembatan ini adalah solusi investasi paling mendasar. Betapa indahnya jika suatu hari nanti, melihat Jembatan Mentaya berdiri kokoh sebagai ikon baru Kotim, dengan mobil dan motor yang berlalu lalang tanpa hambatan.

Sehingga akses kesehatan, pendidikan dan ekonomi lancar, menyatukan wilayah Sampit dan Seberang.

Terima kasih, Ayahanda karena telah bersedia mendengar suara jujur dari saya. Bagi kami Ayahanda adalah jawaban dari penantian panjang ini. Sehingga Mentaya Seberang bukan lagi "halaman belakang" yang sunyi, melainkan bagian kemajuan Kotim.

Hormat Saya,

Maharani Ayu Diah Warman

(Siswa SMPN 1 Sampit)

Catatan redaksi: Rubrik ini dirancang sebagai ruang aspirasi, gagasan, dan suara hati pelajar untuk pemerintah daerah, khususnya Bupati Kotawaringin Timur. Surat terbuka ini berisi tentang pendidikan, sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, kesehatan, teknologi, fasilitas publik, hingga mimpi para pelajar  terhadap masa depan Kotawaringin Timur.

 

Editor : Heru Prayitno
#Surat untuk Bupati Kotawaringin Timur #SMPN 1 Sampit