Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

 Fenomena Boti di Sampit Bukan Lagi Persoalan Kecil

Heru Prayitno
Penulis: Heru Prayitno❯
Siswa SMKN 4 Sampit Gabriella Siagara didampingi Direktur Radar Sampit Siti Fauziah memberikan karangan bunga kepada Bupati Kotawaringin Timur H Halikinnor usai membacakan surat untuk Bupati Kotim di halaman Radar Sampit, 25 Mei 2026. (Foto: Prokom Pemkab Kotim)
Siswa SMKN 4 Sampit Gabriella Siagara didampingi Direktur Radar Sampit Siti Fauziah memberikan karangan bunga kepada Bupati Kotawaringin Timur H Halikinnor usai membacakan surat untuk Bupati Kotim di halaman Radar Sampit, 25 Mei 2026. (Foto: Prokom Pemkab Kotim)

Advertisement

Kepada Yth. Bupati Kotawaringin Timur

Bapak H Halikinnor

Dengan hormat, 

Advertisement

Saya menulis surat ini sebagai seorang pelajar yang merasa sedih, takut, dan prihatin melihat kondisi pergaulan remaja saat ini di Kota Sampit.

Saya bukan ingin menghina siapa pun, tetapi saya ingin menyampaikan kenyataan yang benar-benar terjadi di lingkungan sekolah kami dan sudah menjadi pembicaraan banyak pelajar.

Saat ini fenomena “boti” atau laki-laki yang berperilaku menyerupai perempuan semakin terlihat terbuka di lingkungan remaja dan sekolah.

Advertisement

Hal yang dulu dianggap aneh dan memalukan, sekarang perlahan mulai dianggap biasa. Kami melihat sendiri ada pelajar laki-laki yang berbicara dengan gaya perempuan, berjalan seperti perempuan, bersikap kemayu, menyukai aksesoris wanita, bahkan berpenampilan menyerupai perempuan di lingkungan sekolah.

Yang membuat hati saya sedih adalah keadaan ini seperti dibiarkan begitu saja. Tidak ada pembinaan yang benar-benar serius. Tidak ada perhatian khusus untuk membantu mereka memperbaiki diri. Bahkan sebagian siswa mulai menganggap perilaku seperti itu sebagai sesuatu yang normal dan lucu untuk ditonton.

Sebagai pelajar, saya merasa takut melihat perubahan lingkungan sekolah kami. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat membentuk karakter laki-laki dan perempuan yang baik justru perlahan kehilangan arah pembinaan moralnya.

Kami takut generasi muda di Kotawaringin Timur akan semakin rusak karena pengaruh media sosial, budaya luar, dan lingkungan pergaulan yang salah.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SampitIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Lomba Menulis Surat untuk Bupati Jadi Ruang Literasi Pelajar Kotim

Lomba Menulis Surat untuk Bupati Jadi Ruang Literasi Pelajar Kotim

Ribuan gagasan, harapan, hingga kritik membangun dari pelajar di Kabupaten Kotim bermuara dalam ajang Menulis Surat untuj Bupati

Brain Rot Mengancam Masa Depan Pelajar

Brain Rot Mengancam Masa Depan Pelajar

Surat untuk Bupati Kotawaringin Timur halikinnor dari siswa MTsN 1 Kotawaringin Timur Aqifa Ekto Nayla tentang Brain Rot mengancam pelajar

Dibalik Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Surat untuk Bupati Kotim.Terungkap Fenomena Sosial dari Sudut Berbeda

Dibalik Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Surat untuk Bupati Kotim.Terungkap Fenomena Sosial dari Sudut Berbeda

Dibalik Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Surat untuk Bupati Kotim. Terungkap Fenomena Sosial di sekolah dan masyarakat dari Sudut Berbeda

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement

Populer