SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) belum menunjukkan tanda mereda.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit menyebut wilayah ini masih minim potensi hujan, sementara lima titik panas (hotspot) kembali terdeteksi hingga Sabtu pagi (18/7/2026).
Berdasarkan informasi prakiraan potensi pertumbuhan awan hujan yang berlaku mulai Sabtu (18/7) pukul 07.00 WIB hingga Minggu (19/7/2026) pukul 07.00 WIB, BMKG menyatakan secara umum Kabupaten Kotim tidak berpotensi mengalami pertumbuhan awan hujan yang signifikan.
Baca Juga: Bahaya! Kotim Peringkat Kedua Luasan Karhutla di Kalimantan Tengah
Kondisi tersebut membuat potensi terjadinya karhutla tetap tinggi, terlebih sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah, termasuk Kotim, masih berada pada kategori sangat mudah terbakar berdasarkan analisis parameter cuaca BMKG untuk 18 hingga 19 Juli 2026.
Situasi itu sejalan dengan hasil pemantauan satelit yang masih mendeteksi titik panas di sejumlah wilayah Kotim.
Data rekapitulasi hotspot yang diakses BMKG pada Sabtu (18/7) pukul 07.00 WIB menunjukkan terdapat lima titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (level 8). Titik panas tersebut tersebar di empat kecamatan.
Rinciannya, dua hotspot berada di Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, masing-masing terpantau pada Jumat (17/7) pukul 12.36 WIB dan Sabtu (18/7) pukul 01.22 WIB.
Baca Juga: Petani Kotim Masih Aman dari Gagal Panen, Tantangan Diprediksi Muncul Usai Panen
Selanjutnya, satu hotspot terdeteksi di Desa Parebok, Kecamatan Teluk Sampit. Sementara itu, dua hotspot lainnya berada di Desa Hanjalipan, Kecamatan Kota Besi.
Seluruh hotspot tersebut terpantau oleh satelit NOAA-20 dengan radius kemungkinan sekitar 1.125 meter dan dikategorikan sebagai pixel hotspot berkepercayaan tinggi.
Meski jumlah hotspot menurun dibandingkan beberapa hari sebelumnya, BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak lengah.
Minimnya peluang hujan membuat vegetasi dan lahan gambut semakin kering sehingga api dapat dengan mudah muncul dan meluas apabila terjadi pembakaran.
BMKG mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu api, terutama di kawasan hutan, kebun, dan lahan gambut.
Di sisi lain, pemerintah daerah bersama BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, dan instansi terkait terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada September mendatang.
Berdasarkan evaluasi BMKG sebelumnya, musim kemarau tahun ini diprakirakan lebih panjang dengan kondisi yang lebih kering, sehingga risiko karhutla diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa pekan ke depan. (oes)
Editor : Slamet Harmoko