Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Ada Harapan Harga TBS Naik Lagi, Keinginan Petani di Atas Rp3.500 Per Kg 

Radar Sampit • Senin, 1 Juni 2026 | 20:59 WIB
Ilustrasi seorang petani saat menimbang sawit hasil panennya di pengepul dan langsung menerima pembayaran tunai.(Diolah dengan AI)
Ilustrasi seorang petani saat menimbang sawit hasil panennya di pengepul dan langsung menerima pembayaran tunai.(Diolah dengan AI)

SAMPIT,radarsampit.jawapos.com- Setelah sempat membuat petani menjerit, harga tandan buah segar (TBS) sawit yang sempat anjlok baru-baru ini mulai membaik. Harga salah satu komoditas andalan bagi masyarakat di Kalimantan Tengah (Kalteng) itu kini mulai membaik di tingkat pengepul.

Jika sebelumnya harga sawit di tingkat pengepul berada di bawah kisaran Rp1.500 per kilogram, Senin (1/6) kemarin harga mulai bergerak naik hingga mencapai sekitar Rp2.100 per kilogram.

Kenaikan tersebut disambut positif oleh para petani sawit di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Meski demikian, mereka berharap harga TBS terus merangkak naik sepanjang Juni 2026 hingga kembali ke level normal seperti beberapa waktu lalu, yang sempat mencapai sekitar Rp3.400 per kilogram.

Taufiq, salah satu petani sawit asal Kecamatan Cempaga, menyatakan kenaikan harga TBS saat ini sedikit memberikan harapan bagi petani, setelah sebelumnya pendapatan mereka tergerus akibat anjloknya harga komoditas tersebut.

“Alhamdulillah sekarang sudah mulai naik. Sebelumnya sekitar Rp1.500 per kilogram. Sekarang di pengepul sudah sekitar Rp2.100. Tapi kami berharap kenaikannya terus berlanjut karena harga sekarang masih jauh dari yang pernah kami nikmati,”ujarnya.

Menurut Taufiq, harga ideal bagi petani saat ini berada di kisaran Rp3.400 per kilogram. Dengan harga tersebut, dirinya masih mampu menutupi biaya operasional kebun yang terus meningkat.

“Harga pupuk sekarang mahal. Belum lagi biaya perawatan dan tenaga kerja. Kalau harga sawit masih di kisaran Rp2.100 tentu petani belum terlalu lega,” ungkapnya.

Harapan serupa disampaikan Asman, seorang petani sawit asal Kecamatan Kota Besi. Ia menilai, kenaikan harga saat ini menjadi sinyal positif bagi petani, namun belum cukup untuk mengembalikan kondisi ekonomi mereka yang sempat terpukul akibat anjloknya harga sawit.

Baca Juga: Simak Kesimpulan Rakor di Kementan RI Terkait Harga TBS Sawit. Penerapan Perlu Pengawasan sampai ke Daerah

“Kami bersyukur ada kenaikan, tetapi harapan petani tentu harga bisa kembali seperti sebelumnya, minimal di angka Rp3.400 per kilogram. Dengan harga sekarang keuntungan petani masih sangat terbatas,” imbuhnya.

Asman mengungkapkan, biaya produksi perkebunan sawit terus mengalami peningkatan, terutama untuk kebutuhan pupuk yang menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas tanaman.

“Harga pupuk naik cukup signifikan. Kalau harga sawit tidak ikut naik, tentu memberatkan petani. Karena itu kami berharap tren kenaikan harga ini terus berlanjut selama Juni dan seterusnya,” harap Asman.

Bergeser ke wilayah selatan Kotim, salah seorang petani sawit, Radit Saputra mengungkapkan, pada Jumat (29/5/2026) dirinya menjual TBS ke pengepul di Desa Basirih, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dengan harga Rp1.800 per kilogram.

Petani lainnya, Muhammad Aliyanto juga menyebutkan, harga sawit di wilayah Bapanggang Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, sudah mencapai Rp1.950 per kilogram, pada hari itu.

Diungkapkannya, sebelumnya pada Kamis (21/5/2026), harga TBS di tingkat pengepul hanya berada di kisaran Rp1.700 hingga Rp2.000 per kilogram.

Anjloknya harga TBS tersebut dinilai sangat memberatkan petani, khususnya di wilayah hilir Kotim yang harus mengeluarkan biaya operasional cukup besar untuk membawa hasil panen menuju pengepul.

Mansyah, yang juga salah seorang petani sawit, mengaku biaya produksi terus meningkat seiring naiknya harga bahan bakar minyak (BBM). Menurut dia, upah panen di kebunnya mencapai Rp400 per kilogram.

Setelah dipanen, pihaknya masih harus mengeluarkan biaya angkut dari kebun menuju tepi sungai sekitar Rp100 per kilogram. Selanjutnya, buah sawit diangkut menggunakan kelotok menuju lokasi pengepul dengan tambahan biaya sekitar Rp150 per kilogram.

“Kalau dijual ke pengepul hanya Rp2.000 per kilogram, sisa keuntungan sangat sedikit,” keluhnya,”

Sementara itu, petani yang memiliki kendaraan sendiri dan dapat menjual langsung ke pabrik kelapa sawit (PKS) masih memperoleh harga lebih tinggi, yakni berkisar Rp2.250 hingga Rp2.600 per kilogram.

Namun harga tersebut masih dianggap belum ideal karena berada di bawah ketetapan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.

Selain persoalan harga, petani juga mengeluhkan ketatnya proses grading di pabrik. Tingkat kematangan buah, ukuran tandan, hingga kondisi fisik sawit menjadi faktor yang menentukan harga jual.

Selain di Kotawaringin Timur, harga TBS di wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) juga membaik. Hal itu tidak lepas dari tren positif setelah Wakil Menteri Pertanian Sudaryono meminta seluruh stakeholder di daerah mengambil langkah untuk menyikapi anjloknya harga TBS.

Di Kabupaten Kotawaringin Barat harga beli ditingkatkan petani dari pengepul masih berkisar antara Rp2400 sampai Rp2500 perkilogramnya, sebelumnya ditingkatkan petani hanya Rp2000 sampai Rp2200 setelah sebelumnya sempat menyentuh harga tertinggi Rp3300 perkilogramnya.

Indra, seorang petani sawit di kilometer 16, Jalan Lintas Pangkalan Bun menuju Kotawaringin Lama, mengaku semangatnya kembali pulih setelah sebelumnya harga sempat anjlok hingga mencapai Rp600 perkilogramnya.

"Saat turun dua Minggu terakhir, sempat down juga semangat, tetapi ketika ada statemen dari Wamentan, perlahan harganya mulai merangkak naik," ujarnya, Senin (1/6).

Menurutnya, saat ini persoalan yang dihadapi petani kelapa sawit bukan hanya pada masalah harga yang rendah, tetapi juga masalah tingginya harga-harga pupuk.

"Kalau dilahan gambut pupuk yang digunakan, dari Dolomit sampai NPK, terutama NPK 16 harganya sudah tembus di harga 1 juta rupiah per sak, tidak sebanding dengan harga jual buah sawit," beber Indra.

Petani sawit lainnya, Iwan mengaku ia sengaja menahan untuk tidak memanen buah kelapa sawit dikebunnya, karena harganya masih belum bisa menutup biaya perawatan.

"Biar saja saya tahan dulu, kalau melihat perkembangannya bakal naik lagi, harusnya sudah saya panen seminggu yang lalu, semoga harganya semakin meningkat dalam sepekan ke depan," pungkasnya. (ang/oes/tyo/gus)

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#Harga TBS Sawit #merangkak naik #tandan buah segar #petani #pengepul