SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Petani di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi kemarau panjang akibat fenomena El Niño. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menyiapkan cadangan air melalui pembangunan embung di lahan pertanian.
Ketua Kelompok Tani Mandiri Makmur, Sutiawan, mengatakan para petani sejak awal telah memantau informasi terkait potensi perubahan iklim yang dapat berdampak pada sektor pertanian.
“Walaupun kami petani, kami tetap memantau informasi yang berkaitan dengan pertanian, termasuk potensi El Niño. Karena itu sejak awal kami sudah menyiapkan langkah antisipasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Kelompok Tani Mandiri Makmur memiliki total lahan sekitar 108 hektare. Namun dari luas tersebut, baru sekitar 35 hektare yang telah diolah melalui program cetak sawah rakyat (CSR).
Menurut Sutiawan, salah satu langkah yang dilakukan petani untuk menghadapi ancaman kekeringan adalah membangun embung di setiap petak lahan pertanian. Embung tersebut berfungsi menampung air yang dapat dimanfaatkan saat musim kemarau.
“Kurang lebih setiap satu hektare lahan kami buat embung sebagai cadangan air. Ini salah satu cara untuk mengurangi dampak kekeringan,” jelasnya.
Selain memanfaatkan embung, para petani juga berharap adanya dukungan pemerintah dalam penyediaan sumber air dalam berupa sumur bor. Menurutnya, keberadaan sumber air tersebut akan sangat membantu petani dalam memaksimalkan produksi pertanian.
Ia menyebutkan, idealnya setiap 10 hektare lahan membutuhkan satu sumber air dalam. Dengan demikian, untuk lahan seluas 35 hektare diperlukan sekitar tiga hingga empat sumber air dalam agar kebutuhan air dapat terpenuhi secara optimal.
“Kami berharap pemerintah dapat membantu menyediakan sumber air dalam agar petani bisa lebih maksimal dalam mengelola lahan,” tambahnya.
Sutiawan menambahkan, pihaknya telah mengusulkan bantuan tersebut sejak tahun lalu dan berharap dapat direalisasikan pada tahun ini.
“Tahun lalu kami sudah mengusulkan bantuan itu. Mudah-mudahan bisa direalisasikan tahun ini, biasanya bantuan seperti itu turun sekitar bulan Juni atau Juli,” ungkapnya.
Selain menyiapkan cadangan air, para petani juga mulai mempertimbangkan penanaman komoditas hortikultura yang relatif tidak membutuhkan banyak air, seperti kacang panjang dan jagung.
“Tanaman hortikultura tidak terlalu membutuhkan banyak air. Apalagi sekarang sudah ada pabrik jagung di daerah ini, sehingga hasil panennya juga memiliki pasar,” ucapnya.
Ia menambahkan, masa tanam padi di wilayah tersebut berkisar antara tiga hingga empat bulan, sementara fenomena El Niño diperkirakan berlangsung sekitar empat bulan. Dengan kondisi tersebut, para petani berharap panen dapat dilakukan sebelum dampak kemarau panjang semakin terasa. (ktr-2/sla)
Editor : Slamet Harmoko