radarsampitjawapos.com-Pengurus Pusat Muhammadiyah memastikan, awal puasa Ramadan tahun 1447 Hijriah/2026, jatuh pada Rabu (18/2).
Sementara Pemerintah Indonesia akan memutuskan awal Ramadhan 1447 Hijriah setelah sidang isbat,.Selasa (17/2) petang.
Adanya potensi perbedaan awal puasa, Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nasir mengajak masyarakat menyikapinya dengan cerdas dan tasamuh.
Haedar menegaskan, perbedaan awal puasa sangat mungkin terjadi. Baik di Indonesia maupun negara lain. Menurutnya, hal itu akan terus terjadi selama umat Islam belum memiliki satu kalender tunggal. Dirinya pun mengajak masyarakat bersikap cerdas dan tasamuh menyikapinya. Tidak perlu berlebihan menyikapi perbedaan yang mungkin terjadi.
”Di situlah sebagai ruang ijtihad tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain. Dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri,” ungkapnya, Selasa (17/2).
Haedar menyampaikan, perbedaan harus disikapi dengan arif dan bijaksana. Apalagi bila mengingat tujuan pelaksanaan ibadah puasa sebagai jalan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Menurut dia, yang menjadi fokus adalah hal substantif, yakni menjadikan ibadah puasa menghadirkan kebaikan dalam hidup.Baca Juga: Masyarakat Bisa Pantau Langsung Proses Pengamatan Hilal
Dengan peningkatan takwa kepada Allah SWT, Haedar berharap, hubungan sosial kemasyarakatan juga semakin baik dengan menebar kebaikan hidup bagi sesama dan lingkungan semesta.
Berbagai urusan lanjutnya, jangan sampai mengganggu tujuan utama mencapai takwa. Dia yakin, dengan bekal kecerdasan dan keimanan, umat Islam akan meraih ketakwaan dan meningkat derajat kemuliaan.
”Dalam konteks yang lebih luas, dengan Ramadan diharapkan kita menjadi umat yang terbaik. Baik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuan yang kian tinggi dan menebar segala kebaikan yang makin luas,” papar Haedar.
Ia menambahkan,ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan nafsu dan hasrat yang merusak kerekatan sosial. Termasuk mengajari muslim untuk bersabar.
Apalagi lanjutnya, di era media sosial yang selalu memancing hasrat manusia untuk melampiaskan amarah, kebencian, dan perselisihan, puasa seharusnya menjadi tameng untuk menangkal dan menahan hawa nafsu agar diri terkontrol.
”Dengan berbagai macam informasi, postingan, yang kira-kira memberi suasana panas dalam kehidupan sosial kebangsaan kita. Maka puasa harus menjadi kanopi sosial kita,” pungkas Haedar.(jpc/gs)
Editor : Agus Jaka Purnama