Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Motoprix Berjalan Tak Sesuai Komitmen, Akses Jalan ke Klinik dan Gereja Dipenuhi Penonton

Heny Pusnita • Minggu, 14 Desember 2025 | 21:40 WIB
 
 
PENONTON : Ribuan penonton nekat menerobos terpal pembatas, menyaksikan pertandingan open race di jalur lintasan hingga menutupi separuh badan Jalan Yos Sudarso, Taman Kota Sampir, Minggu (14/12). 
PENONTON : Ribuan penonton nekat menerobos terpal pembatas, menyaksikan pertandingan open race di jalur lintasan hingga menutupi separuh badan Jalan Yos Sudarso, Taman Kota Sampir, Minggu (14/12). 
SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Dibalik kelancaran dan suksesnya event Motoprix Kotim Open Race yang digelar di Taman Kota Sampit pada 13-14 Desember 2025, ternyata masih menimbulkan kekecewaan. 
 
Kesepakatan rapat yang digelar Selasa (9/12) lalu, dengan Pemkab Kotim, panitia dan pihak gereja tak dijalankan sepenuhnya oleh pihak panitia. 
 
Ketua Dewan Paroki Santo Joan Don Bosco Sampit, Adrianus Salampak kecewa dengan komitmen panitia yang tidak dijalankan maksimal.
 
Sebelumnya panitia sepakat menyediakan akses keluar masuk di Jalan Siswondo Parman sampai ke Jalan Yos Sudarso sisi barat Taman Kota Sampit hingga pertigaan Jalan Pemuda di mana terdapat Klinik Obor Terapung dan Gereja Katolik.
Baca Juga: Polsek Danau Sembuluh Awasi Jalur Trans Sampit-Pangkalan Bun dengan CCTV
 
“Dari awal kami sudah menolak event ini digelar di Taman Kota Sampit, namun karena ada kesepakatan yang menjanjikan akses jalan menuju klinik dan gereja dibuka, tetapi kenyataannya dari Jalan S Parman depan Museum Kayu tertutup penuh parkiran mobil dan motor, sehingga kendaraan juga tidak bisa lewat ke klinik maupun ke gereja," kata Adrianus Salampak.
 
Kondisi tersebut semakin padat saat siang hingga sore hari dan sangat mengganggu aktivitas layanan publik maupun kegiatan gereja.
 
“Kemarin kami ada rapat sampai sore. Ketika mau keluar, itu sulit sekali karena parkir kendaraan sudah dua lapis di kiri dan kanan jalan,” ungkapnya kecewa.
Baca Juga: Belum Ada Sirkuit Standar, Maka Tidak Ada Lagi Road Race di Kotim
 
Adrianus menilai situasi tersebut menunjukkan panitia tidak mampu mengendalikan arus penonton dan parkir kendaraan, padahal akses tersebut telah disepakati sebagai jalur vital yang harus dijaga.
 
“Kalau aksesnya tertutup seperti itu, jelas tidak sesuai dengan perjanjian awal. Seharusnya ujung jalan itu ditutup dari kendaraan penonton, kecuali kendaraan yang memang berkepentingan ke gereja atau ke klinik,” tegasnya.
 
Selain persoalan akses Jalan S Parman, pihak gereja juga menyoroti penerapan jalur steril selebar 2,5 meter di Jalan Yos Sudarso yang dinilai tidak sesuai dengan kesepakatan rapat sebelumnya.
 
“Kesepakatan Selasa lalu sudah jelas dan panitia siap berkomitmen. Ujung Jalan S Parman berbelok ke kiri di Jalan Yos Sudarso sampai ujung Jalan Pemuda disediakan akses jalan 2,5 meter dan steril dari penonton. Tapi, kenyataannya yang kami lihat di lapangan, hanya sebagian saja dan sebagiannya tertutup, itu sama saja akses jalan tidak maksimal disediakan,” tegas Adrianus.
Baca Juga: Cekcok dengan Istri, Pria Asal DKI Ini Minum Cairan Pembersih Lantai
 
Adrianus juga menyoroti kewajiban panitia untuk memastikan akses layanan publik, terutama layanan kesehatan di Klinik Obor Terapung, tetap berjalan normal selama kegiatan berlangsung.
 
“Walaupun di depan klinik dibuka 2,5 meter, ambulans tetap tidak bisa masuk karena akses di ujung jalan tertutup semua oleh parkir kendaraan,” katanya.
 
Dalam rapat koordinasi yang difasilitasi Pemkab Kotim pada Selasa (9/12) lalu, juga sudah ditegaskan bahwa jalur evakuasi medis tidak boleh terhalang dalam kondisi apa pun.
 
Akses mobilisasi pasien menuju Klinik Obor Terapung harus tetap terbuka, dengan ruang bebas minimal 2,5 meter yang benar-benar fungsional untuk ambulans dan kendaraan medis.
 
Selain itu, area Jalan Yos Sudarso yang telah dipasangi pagar pembatas oleh panitia juga diwajibkan steril dari penonton demi keselamatan dan kelancaran layanan publik.
 
“Sudah kami sampaikan dalam rapat bahwa kami bukan menolak event. Tapi, menolak lokasi diadakan di Taman Kota Sampit. Dulu panitia juga berjanji menyediakan akses jalan, tetapi fakfa di lapangan tidak sesuai harapan, bahkan penonton sampai memanjat pagar menyaksikan dari berbagai sisi hingga mendekati lintasan arena. Tahun ini, janji panitia tetap sama, tetapi tetap saja komitmen panitia tidak dijalankan sepenuhnya sesuai dengan kesepakatan," ujarnya.
Baca Juga: Tragedi Sebabi: Setelah Balita, Korban Tewas Akibat Keracunan Bertambah
 
Pantauan Radar Sampit, pengawasan panitia terhadap penonton masih sangat minim. Panitia hanya mengingatkan sesekali, sementara penonton mengabaikan arahan panitia, menerobos batas terpal di trotoar, bahkan nekat menyaksikan jalannya pertandingan hingga separuh badan Jalan Yos Sudarso. Hal ini pun membuat ruang lintasan pembalap menyempit. 
 
Disisi lain, event ini terkesan dipaksakan dan kurang persiapan yang matang. Tak ada penyediaan tempat sampah di berbagai sudut, sehingga penonton meninggalkan sampah sembarangan.
Kondisi sampah yang berserakan semakin terlihat jelas usai event selesai sekitar jam 18.00 WIB. Penonton pulang tanpa rasa bersalah mengotori kawasan Taman Kota Sampit yang berubah kotor dipenuhi sampah yang berserakan.
 
Muhammad Hasbi Ketua Club Cipta Mentaya Production yang juga sebagai Panitia Penyelenggara Motoprix Kotim Open Race mengatakan bahwa panitia sudah berupaya memastikan akses keluar masuk yang ingin ke Klinik Obor Terapung dan ke Gereja tidak akan tertutup, namun ia tak bisa menjamin 100 persen steril dari penonton. 
Baca Juga: Inilah Kronologi dan Dugaan Penyebab Kecelakaan Maut Truk vs Pikap di Cempaga
 
Panitia juga menyetujui permintaan pihak gereja agar memberikan akses 2,5 meter dari trotoar dan berjanji event open race terakhir digelar di Taman Kota Sampit tahun ini.
 
"Kami sudah ada pembicaraan dengan Dishub Kotim terkait parkir penonton. Kenyataan berubah karena kondisi di lapangan, penonton sulit dikendalikan. Namun, secara garis besar event ini tidak mengganggu gereja, karena jemaat gereja masih bisa keluar masuk," kata Hasbi.
 
Pihak panitia juga sudah memastikan akses jalan bisa dilalui kendaraam mobil dan motor ke arah klinik maupun gereja.
 
"Paginya saya kami sudah mengecek akses jalan bisa dilewati dan bisa masuk aman-aman saja. Sabtu kemarin saya videokan kondisinya dan saya kirimkan ke Pak Salampak, tidak ada komentar, kami menganggap beliau sudah acc tidak mempermasalahkan hal itu," pungkasnya. (hgn)
 
 
Editor : Slamet Harmoko
#sampit #Motoprix #kotim #klinik #kalteng #gereja