SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Dua pekerja kebun kelapa sawit di Kecamatan Mentaya Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mengalami luka cukup parah setelah diserang seekor beruang madu.
Peristiwa ini terjadi pada Rabu (16/7/2025) dan langsung mendapat respons dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit.
Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah, menjelaskan bahwa pihaknya menerima laporan kejadian tersebut dari perusahaan pada Jumat (18/7/2025).
Berdasarkan keterangan korban, insiden terjadi saat seorang pekerja tengah memanen tandan buah segar kelapa sawit menggunakan alat bernama egrek.
"Ketika beristirahat, egrek yang digunakan pekerja itu terjatuh dan menimpa simpukan atau tumpukan pelepah kering sawit. Tanpa diketahui, ternyata di balik simpukan itu ada seekor beruang madu yang kemungkinan sedang beristirahat," ujar Muriansyah, Minggu (20/7/2025).
Tiba-tiba, beruang tersebut menyerang pekerja panen secara membabi buta. Korban berteriak meminta pertolongan.
Seorang petugas pengumpul buah yang mendengar teriakan itu segera datang ke lokasi. Namun nahas, beruang juga menyerangnya.
"Keduanya mengalami luka cukup parah dan langsung dilarikan ke fasilitas kesehatan milik perusahaan," jelas Muriansyah.
Merespons kejadian ini, BKSDA langsung memberikan sejumlah arahan kepada pihak perusahaan guna mencegah serangan lanjutan.
Pertama, aktivitas panen di sekitar lokasi kejadian diminta untuk dihentikan sementara waktu.
Kedua, petugas konservasi dari perusahaan diminta mengecek lokasi guna memastikan apakah beruang tersebut memang bersarang di area tersebut atau hanya melintas. Sebab berdasarkan pengakuan pekerja yang diserang juga melihat anak beruang.]
“Ketiga, kami minta perusahaan segera memasang spanduk peringatan di lokasi kejadian agar pekerja lain lebih waspada,” tegas Muriansyah.
Selain itu, BKSDA juga akan turun langsung ke lapangan untuk melakukan observasi dalam pekan ini. Langkah tersebut dilakukan untuk memetakan potensi konflik lanjutan dan mengantisipasi serangan serupa.
“Kami akan observasi secepatnya dan terus berkoordinasi dengan pihak perusahaan,” pungkasnya.
Setelah observasi dan beruang masih berada di lokasi, barulah nanti pihak memutuskan apakah harus memasang perangkap untuk menangkap satwa dilindungi itu.
Beruang madu (Helarctos Malayanus) merupakan satwa yang dilindungi di Indonesia. Konflik antara manusia dan beruang madu di wilayah perkebunan di Kalimantan kerap terjadi akibat tumpang tindih habitat dengan aktivitas manusia, terutama pada kawasan yang berbatasan dengan hutan. (*)
Editor : Slamet Harmoko