PALANGKA RAYA, radarsampit.jawapos.com - Nasib tragis harus diterima Haryono, sopir taksi online yang melaporkan tindakan sadis Brigadir AKS anggota Polresta Palangka Raya.
Sang polisi diketahui membunuh sopir ekspedisi asal Banjarmasin, Kalsel dengan menembakkan pistol ke kepala korban.
Haryono yang juga pelapor tindakan keji itu kini menjadi tersangka, dan kenyataan ini menjadi salah satu misteri yang masih menyelimuti kasus itu.
Pria yang berprofesi sebagai sopir taksi online itu disebut ikut terlibat dalam aksi curat berujung pembunuhan tersebut.
Istri Haryono, YU, mengaku bingung suaminya disebut ikut terlibat. Padahal, perkara itu terbongkar setelah suaminya melapor ke Polresta Palangka Raya.
Informasi diperoleh Radar Sampit, Haryono melaporkan perkara itu pada 10 Desember, empat hari setelah jenazah korban ditemukan.
Menurut YU, suami ada di lokasi saat korban dieksekusi Brigadir AKS. Haryono saat itu dalam posisi menyetir dan mengendarai mobil atas perintah AKS. YU juga menegaskan, suaminya tak tahu rencana AKS sampai akhirnya menghabisi nyawa korban.
Suaminya juga berada di lokasi atas permintaan AKS, karena profesinya sebagai sopir taksi online.
Dari pengakuan suaminya, lanjut YU, AKS dan korban duduk di belakang mobil hingga akhirnya korban meninggal dunia. ”Suami saya tidak terlibat. Dia malah tertekan atas kejadian itu,” jelasnya.
YU menambahkan, harusnya suaminya menjadi saksi yang dilindungi karena membongkar perbuatan oknum tersebut.
”Suami saya juga korban. Cuma sopir. Diminta tolong karena ada kerjaan. Niatnya melapor membuka kebenaran, tapi malah ditetapkan menjadi tersangka,” kata YU sambil meneteskan air mata.
Kuasa hukum Haryono, Parlin B Hutabarat juga memastikan kliennya tidak mengetahui niat AKS hingga perkara itu terjadi. ”Suaminya dipesan oleh pelaku, AKS, tapi tiba-tiba hasil penyelidikan jadi tersangka,” katanya.
Menurut Parlin, terungkapnya kasus itu berkat inisiatif Haryono yang melapor ke polisi. Namun, niat baik itu justru menjadikannya sebagai tersangka.
Parlin mengkritik Polda Kalteng dalam proses penyelidikan dan penyidikan yang terkesan tertutup.
Adapun keterangan yang disampaikan padanya, MH bercerita ke istrinya bahwa terjadi penembakan di dalam mobil. Haryono sempat ketakutan karena AKS menggunakan senjata api.
”Haryono mendengar dua kali (tembakan). Haryono juga sempat dipukul oleh AKS. Kalau mengenai uang ada ditransfer (oleh AKS pada Haryono), namun dikembalikan. Haryono tidak pernah ada kesepakatan dan meminta uang (pada pelaku AKS),” kata Parlin. (daq/ign)
Editor : Slamet Harmoko