Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Pertempuran Sukamara Pecah di Tepi Sungai Jelai, Pejuang Kemerdekaan Diberondong Peluru Kompeni (1)

Fauziannur • Sabtu, 17 Agustus 2024 | 09:30 WIB

 

 

PAHLAWAN: Para pahlawan asal Sukamara yang gugur di medan perang saat melawan penjajah dan dimakamkan di TMP Bumi Loka Sukamara.   
PAHLAWAN: Para pahlawan asal Sukamara yang gugur di medan perang saat melawan penjajah dan dimakamkan di TMP Bumi Loka Sukamara.  

RADAR SAMPIT - Sejarah mencatat perjuangan masyarakat Sukamara dalam mempertahankan kemerdekaan. Berikut rangkumannya dikutip dari Sejarah Sukamara yang diterbitkan Pemerintah Daerah tahun 2016.

Kabar berita merdekanya Republik Indonesia baru sampai Oktober 1945. Kabar itu disambut sukacita masyarakat Sukamara. Bendera Merah Putih pun mulai berkibar di Sukamara pada tanggal 25 Oktober 1945.

Suasana siap mempertahankan kemerdekaan pun menyelimuti masyarakat Sukamara dan siap berperang hingga titik darah penghabisan.

Gerakan itu pun mendapat perhatian dari Belanda yang ingin merebut wilayah Kalimantan, termasuk wilayah Sukamara. Pertempuran tak terelakan dan tercatat terjadi dua kali pertempuran dahsyat.

Pertempuran pertama pecah pada Jumat, 25 Januari 1946 di tepian sungai Jelai. Pasukan Belanda, yang lebih dikenal dengan NICA menggunakan senjata modern, sedangkan tentara Republik Indonesia dan rakyat Sukamara bersenjatakan dum-duman, sumpit damak beracun, dan senjata ala kadarnya.

Kendati tidak seimbang, namun perjuangan rakyat berhasil menewaskan pasukan NICA. Merasa pasukannya tewas, Belanda semakin membabi buta dan beringas menembakan senajata otomatis, sementara pasukan rakyat Sukamara kehabisan peluru dum-duman dan damak sumpitan.

Melihat situasi itu, pimpinan Angkatan Muda, Iskandar, memberi komando agar pasukan mundur ke hutan dan benteng pertahanan di daratan yang dijaga oleh Makmur Jalil.

Dalam pertempuran tersebut, para pejuang yang gugur, yakni Nazir Adam dan Mail Ahmad. Mereka berada di galangan perahu tepi sungai dan tidak mau menyingkir saat berondongan peluru membabi buta.

Beberapa di antaranya juga terkena tembakan, seperti Tindih pada punggung, Syamsul Bahri di pergelangan tangan, dan Gusti Kader kaki belakang hingga akhirnya meninggal dunia.

Pasukan Belanda pun merapat ke daratan Sukamara sambil memberondong tembakan. Setibanya di daratan, pasukan kolonial membakar rumah-rumah warga. Tercatat sekitar 70 rumah yang hangus. Terkecuali masjid Al-Aqsa yang dibiarkan.

Setelah membumihanguskan kampung Sukamara, sore harinya pasukan NICA meninggalkan Sukamara dan membawa penghulu bernama H Bakri ke arah Kuala Jelai.

Dalam perjalanan menuju Kuala Jelai, pihak Belanda sempat singgah di Kepala Pulau Panjang untuk menguburkan salah satu korban dari pihak mereka, yakni Letnan Rode Kruis.

Gerakan dan serangan pasukan Belanda ke Sukamara itu menjadi memantik simpati dan solidaritas perjuangan tentara republik di Pangkalan Bun, Kuala Jelai, Teluk Bogam, dan wilayah lainnya.

Sejak Januari 1946, terjadi pergerakan dan konsolidasi pasukan ke wilayah Sukamara. Gerakan mempersiapkan diri itu lebih baik dari pasukan RI itu dikendalikan oleh Gubernur Kalimantan Tengah saat itu bernama Mohammad Nur. Sebab itulah gerakan tersebut dikenal dengan nama sandi Ekspedisi MN 1001. (***/ign)

Editor : Slamet Harmoko
#perjuangan #NICA #sungai jelai #kemerdekaan #Pertempuran Sukamara #kalteng #sukamara #bendera merah putih #perang kemerdekaan