Mengutip radarsampit.jawapos.com pemungutan suara tahap pertama di tingkat Senat UPR baru saja ketok palu, dan hasilnya? Belum ada pemenang mutlak. Tapi, konstelasi sudah mengerucut jadi tiga nama besar yang dipastikan melaju ke babak penentuan alias grand final.
Di papan klasemen sementara, Dr. Thea Farina, S.H., M.Kn. sukses melesat di posisi puncak dengan mengantongi 16 suara senat. Sementara di belakangnya, ada dua profesor senior, yakni Prof. Bhayu Rhama dan Prof. Liswara Neneng, yang kompak berbagi angka dengan raihan masing-masing 11 suara.
Mereka berdua berhak mendampingi Thea masuk ke putaran penentuan yang konon katanya nasib akhirnya bakal ikut ditentukan oleh "surat sakti" tangan Kementerian di Jakarta.
Bagi Mbak Thea kalau boleh saya memanggilnya begitu agar terasa lebih akrab, pencapaian 16 suara ini bukan cuma perkara menang angka di atas kertas. Perempuan kelahiran tahun 1984 ini punya kedekatan emosional yang jero (dalam) banget sama UPR.
Gimana ndak jero, Lur? Beliau ini adalah putri dari mantan Rektor UPR sendiri, Prof. Elia Embang. Istilahnya, Mbak Thea ini sudah main petak umpet di koridor kampus UPR bahkan sebelum dia tahu rasanya jadi mahasiswa.
Kampus ini sudah seperti halaman rumah sendiri tempat dia tumbuh, kuliah S1 Hukum di sana, sebelum akhirnya merantau berburu gelar Magister ke Surabaya dan meraih Doktor Ilmu Hukum di Universitas Brawijaya Malang.
Karirnya di UPR juga ndak instan langsung loncat. Beliau merangkak dari bawah: jadi dosen biasa, ngurusin penjaminan mutu, jadi Ketua Jurusan, Wakil Dekan, sampai sekarang menjabat Dekan Fakultas Hukum UPR dengan gelar akademik Lektor Kepala.
Pengalaman komplit inilah yang bikin dia pede bilang kalau dia paham luar dalam soal UPR, bukan cuma dari kacamata birokrat, tapi juga dari kacamata emosional seorang "anak kandung" kampus.
Dalam jualan programnya, Mbak Thea membawa jimat kampanye yang dinamai THEA BISA. Isinya lima arah transformasi menuju tahun 2030 yang kalau disederhanakan pakai bahasa warung kopi ya kira-kira begini: UPR kudu unggul secara global, inklusif (ndak membeda-bedakan latar belakang), kolaboratif, berdampak nyata buat warga Kalteng, dan tetap membumi berbasis kearifan lokal tanpa gagap sains-teknologi.
Salah satu gagasannya yang menurut saya patut diacungi jempol adalah janjinya untuk memanusiakan mahasiswa. Kata beliau, mahasiswa itu alasan utama kampus ada, jadi kalau bikin kebijakan ya mahasiswa kudu diajak jagongan, bukan cuma dijadikan objek penderita.
Tapi ya balik lagi, Lur. Unggul di putaran pertama senat itu baru modal awal. Babak penentuan di tingkat Kementerian nanti jalurnya penuh misteri. Dua profesor di belakangnya tentu ndak bakal tinggal diam dan punya strategi masing-masing buat membalikkan keadaan.
Siapa pun yang terpilih nanti, tugasnya berat. UPR itu menampung harapan masa depan anak-anak muda Kalimantan Tengah. Jadi rektor itu bukan cuma soal megah-megahan pakai toga di ruang ber-AC, tapi soal bagaimana menggerakkan seluruh kekuatan kampus biar lulusannya ndak cuma nambah angka pengangguran intelektual di daerah.
Kita tunggu saja, apakah Mbak Thea bakal sukses meneruskan takhta sang ayah menjadi UPR 1, atau justru para profesor senior yang bakal melakukan epic comeback di menit-menit akhir. (*)