Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Pembuktian Mentalitas Tiga Singa, ”Footbal Coming Home” atau ”Footbal Coming to Madrid”

Gunawan. • Minggu, 14 Juli 2024 | 14:14 WIB
Photo
Photo

Dalam kurun 58 waktu terakhir Tim Tiga Singa di kancah sepakbola dunia seperti kehilangan taring.

Tepatnya di Piala Dunia 1966, Inggris yang saat itu berstatus sebagai tuan rumah ,terakhir kali merasakan gelar juara.

Selebihnya, negara yang mengklaim sebagai pencetus sepakbola modern ini, tak lebih sebagai pelengkap dan malah  lebih terkenal dengan kompetisi liganya yang jempolan.

Pencapaian terbesar Inggris setelahnya adalah Semifinalis Piala Dunia 1990 dan 2018, serta di ajang Piala Eropa sebagai  Runner up.

Sungguh hal yang ironis bagi negara yang menggaungkan "football coming home". Bahkan, era generasi emas Inggris di Piala Dunia 2006 Jerman yang saat itu dimotori oleh nama top seperti David Beckham, Steven Gerrard, Frank Lampard ,Wayne Rooney hingga Michael Owen hanya mentok sampai perempat final setelah dikalahkan Timnas Portugal.

Pemain top dan menjadi andalan klub dengan nilai pasar mahal hingga Pelatih luar berpengalaman  dari Fabio Capello hingga Sven Goran Erikson, ditopang liga teratas premier league, belum juga membuahkan hasil.

Masalah mentalitas acapkali menghantui "The Three Lions". Entah kejumawaan dan dominasi para pemain di level klub hilang entah kemana ketika sudah berkostum Tim Nasional Inggris.

Titik kebangkitan Timnas Inggris sebenarnya mulai terlihat dalam 6 tahun terakhir. Inggris mulai menaruh kepercayaan kepada pelatih lokal, Gareth Southgate.

Dengan berani mencoba nama-nama baru dan memberi kepercayaan kepada pemain muda, seperti Bukayo Saka, Phil Foden hingga Declan Rice.

Selain itu, ia mulai beradaptasi kepada skema sepakbola modern dan meninggalkan gaya " kick and rush" yang selama ini melekat di Timnas Inggris.

Alhasil, transisi tersebut mampu membawa Inggris ke Semifinal Piala Dunia 2018 Rusia,sayang masalah mentalitas kembali kambuh.

Usai unggul  lebih dulu melalui " freekick" Kierran Trippier,  Inggris justru mampu diambil alih keunggulan oleh Kroasia,melalui Gol Ivan Perisic dan Mario.Mandzukic.Skor akhir 2-1 untuk Kroasia,kembali mengubur mimpi Inggris.

Beralih ke ajang Piala Eropa 2020, Inggris yang berstatus sebagai tuan rumah final ,mampu melaju ke pertandingan terakhir.Kali ini yang dihadapi adalah Timnas " Gli Azzuri" Italia,yang notabene saat itu diatas kertas jauh di bawah Inggris,dari nilai pasar pemain.

Baru 2 menit berjalan pertandingan babak pertama, Inggris sudah membuka keran gol melalui  Luke Shaw.

Sontak saja, Stadion Wembley kebanggaan Inggris bergemuruh. Angin segar akan " footbal coming home" kembali berhembus di deretan lautan suporter nuansa warna putih Timnas Inggris.

Di babak kedua, hal yang seperti biasa terjadi. Mental Inggris kembali menjadi malapetaka, melalui Andrea Barzagli , Italia berhasil menyamakan kedudukan dan memaksakan pertandingan hingga adu penalti.

"Saat penalti dimulai ,saya sudah matikan TV, saya sudah tahu ini masalah mental dan Inggris tidak punya itu" ungkap Veri, Suporter Inggris.

Pesimistis suporter Inggris tersebut tidaklah beralasan, berkaca dari pengalaman bagaimana mental Inggris di tingkat kejuaraan dunia sebelumnya.

Sepuluh menit setelahnya ia kembali menghidupkan televisinya dan benar saja ,terlihat Timnas Inggris yang tertunduk lesu, sekaligus menandakan Inggris melanjutkan tren buruknya.

 

Piala Eropa 2024

Tepat 15 Juli 2024 yang akan datang di Olympiastadion Berlin, Timnas Inggris kembali menapaki partai puncak,walaupun dengan penampilan yang jauh dari ekspektasi, banyak yang sepakat Inggris melaju karena dinaungi dewi fortuna.

Sebelum kejuaraan, Timnas Inggris berstatus sebagai unggulan,dengan rata-rata nilai pasar pemain  yang paling mahal diantara unggulan.

Namun, dalam perjalanananya  Harry Kane Cs. hampir saja dihentikan oleh Slovakia dan Swiss di fase gugur.

Selalu ketinggalan diawal dan mampu mengatasi ketertinggalan  tersebut diyakini merupakan kebangkitan mentalitas Inggris.

Lawan yang dihadapi Inggris di final ,bukanlah kaleng-kaleng yaitu Tim Matador Spanyol, berstatus pemilik tiga mahkota piala eropa dan memainkan sepakbola indah nan meyakinkan sepanjang turnamen membuat status Inggris di final bukanlah unggulan.

Pembuktian Inggris sebagai penemu sepakbola modern,akan benar-benar diuji. Dengan mentalitas yang mulai bangkit dan mata pisau talenta muda bersinar, Jude Bellingham, mampukah Inggris meredam bocah ajaib Lamine Yamal dan Sepakbola Indah Spanyol?

Tiga Singa sudah lama dinantikan membawa pulang trofi ke tanah Inggris. Apakah akan menjadi " footbal coming home" atau " footbal coming to Madrid". (Sabriannor, Wartawan Radar Sampit di Kuala Kapuas)

Editor : Gunawan.
#euro 2024 #final Euro 2024 #inggris #spanyol