Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Enam Desa di Kabupaten Kotawaringin Timur Masih Kesulitan Jaringan Internet

Yuni Pratiwi Iskandar • Rabu, 30 Oktober 2024 | 12:14 WIB

 

Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Kotawaringin Timur Marzuki
Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Kotawaringin Timur Marzuki

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com -  Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim)  terus berupaya meningkatkan layanan telekomunikasi di daerah-daerah terpencil yang masih terkendala akses internet.  Melalui program pemasangan Starlink,  Kotim menargetkan untuk menghilangkan blank spot dan susah sinyal di seluruh wilayah pada tahun 2025.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kotim Marjuki menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari pengembangan jaringan intra pemerintah daerah. 

"Pemerintah daerah mengembangkan jaringan intra pemerintah daerah,  pengertiannya tentu pelayanan telekomunikasi jadi kewenangan pemerintah daerah.  Salah satunya adalah pengembangan jaringan intra pemerintah daerah,  di sini kita diberi kewenangan untuk meningkatkan layanan komunikasi,"  ujarnya.

Marjuki mengakui bahwa wilayah Kotim terdiri dari 168 desa,  17 kelurahan,  dan 17 kecamatan dengan luas 16.796 kilometer persegi.  Ada beberapa desa yang masih blank spot dan susah sinyal.

Berdasarkan data diskominfo,  pada awal tahun 2024 terdapat delapan desa yang mengalami blank spot dan 30 desa yang susah sinyal. Melalui program Starlink,  Kotim berhasil mengurangi jumlah desa yang susah sinyal menjadi 6 desa.  

"Sekarang kita bisa memperkecil menjadi sisa enam desa yang susah sinyal.  Ini nanti akan kita usulkan kembali di 2025 dengan pengadaan Starlink,"  ujarnya.

Desa yang susah sinyal yaitu, Desa Sungai Ubar Mandiri, Tumbang Koling, Rawa Sari, Ganepo, Tanah Mas, dan Desa Selucing Cempaga Hulu. Marjuki menyebut sinyal di enam desa tersebut timbul tenggelam dan pihaknya berupaya pada tahun 2025 mendatang bisa tuntas, dan semua desa dapat terakses internet dengan baik. 

Pada tahun 2024 ini, pemerintah daerah melalui Diskominfo Kotim telah memasang empat unit Starlink di tiga desa dan satu kecamatan,  yaitu di Kecamatan Tualan Hulu,  Sungai Hanya,  Desa Biru Maju,  dan Desa Hanjalipan.  Marjuki menegaskan bahwa program Starlink ini sangat efektif untuk mengatasi masalah blank spot dan susah sinyal di daerah-daerah terpencil.  

"Yang blank itu tidak ada lagi,  karena mereka dengan berbagai upaya untuk mendapatkan layanan internet.  Tetapi pemerintah daerah dalam hal ini Kotawaringin Timur ingin memastikan dan permanen,"  ujarnya.

Kalau kita pasang Starlink ini di daerah-daerah yang memang jangkauannya luas sekali,  seperti Tumbang Koling itu dimungkinkan,  karena di sana listrik sudah ada.  Jadi,  memang kelebihan Starlink ini di samping itu satelit,  yang penting ada listrik,  kecepatannya memang sangat bagus dan area untuk layarnya juga lebih luas"  jelasnya.

Marjuki juga menjelaskan bahwa program Starlink ini telah memberikan dampak positif bagi masyarakat di daerah yang terlayani.  "Jadi,  seperti kita ketahui di Sungai Hanya maupun di Biru Maju kemarin,  masyarakat di sana sangat senang sekali.  Kemudian di Hanjalipan sekarang sudah terlayani dengan baik untuk jaringan internetnya,"  ujarnya.

 "Jadi, kita namakan bahwa 2025 Kotim ini tidak ada lagi jarak, dengan mempersempit ruang dan waktu. Saya bisa memastikan 2025 itu tidak ada lagi kita ini blank spot maupun susah sinyal.  Karena komitmen pemerintah daerah dalam hal ini Pemkab Kotim bahwa dengan adanya Starlink ini,  saya rasa sangat dimungkinkan,  karena pengadaan Starlink lebih murah dibandingkan VSAT,"  ungkapnya.

Marjuki juga menjelaskan tentang program VSAT yang merupakan program pemerintah pusat melalui Kementerian Kominfo.  Diterangkannya, VSAT  merupakan program pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Kominfo. VSAT ini banyak diajukan untuk sektor pendidikan maupun sektor keamanan.  

Kotim tahun ini mendapatkan 31 unit VSAT. Tetapi yang sudah terpasang baru 24 dan dilaporkan sudah berjalan dengan baik.  Dan ini kelebihannya tidak memerlukan listrik. 

”Jadi,  dia langsung satelit.  Jangkauannya memang tidak terlalu luas,  hanya 5-60 meter dari area tempat dipasang,  misalnya di sekolah. Tapi ini sangat membantu sekali di sektor pendidikan untuk layanan ujian-ujian sekolah yang online semua,"  jelas Marjuki.  

Harapannya, dengan adanya program Starlink dan VSAT,  akses internet di Kotim semakin merata dan dapat mendukung kemajuan di berbagai sektor,  terutama pendidikan. (yn/yit) 

 

Editor : Heru Prayitno
#internet #kominfo #desa terpencil #sampit