Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rest Area Kotabesi sebagai Etalase Kuliner Khas Daerah

Heru Prayitno
Penulis: Heru Prayitno❯
Ilustrasi Kotabesi menjadi rest area yang menyediakan produk lokal, kuliner khas, dan pusat edukasi budaya. (foto: gemini generated picture)
Ilustrasi Kotabesi menjadi rest area yang menyediakan produk lokal, kuliner khas, dan pusat edukasi budaya. (foto: gemini generated picture)

Advertisement

 

Kepada Yth. Bupati Kotawaringin Timur

Bapak Halikinnor

Advertisement

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

"Membangun daerah ibarat menenun kain; Setiap benang aspirasi warga adalah penguat bagi motif kemajuan yang ingin Bapak wujudkan."

Bersama surat ini, izinkan saya, Elina Alifia Callysta seorang pelajar SMPN 1 Kotabesi yang mencintai tanah ini, menyampaikan beberapa butir pemikiran yang lahir dari pengamatan terhadap dinamika masyarakat. Sejauh mata memandang, kami melihat jejak-jejak perubahan yang telah Bapak torehkan. Ibarat pelukis yang mengerjakan kanvas raksasa, warna-warna kemajuan mulai tampak nyata. Namun, layaknya sebuah lagu yang membutuhkan harmoni agar terdengar sempurna, izinkan saya menciptakan satu nada tambahan dalam melodi surat ini.

Advertisement

Maksud dari surat ini adalah untuk menyampaikan harapan dan saran mengenai beberapa hal yang sedang terjadi di kabupaten Kotim tercinta. Di balik kemajuan yang ada, saya melihat masih terdapat riak konflik yang jika tidak dimitigasi sejak dini, dapat menghambat visi besar Bapak untuk daerah ini. Berikut adalah beberapa poin yang saya usulkan:

  1. Identifikasi Wilayah secara Menyeluruh

Konflik di berbagai wilayah Kabupaten Kotim sering kali dipicu oleh kurangnya data akurat mengenai batas wilayah. Celah inilah yang memicu perselisihan. Oleh karena itu, kita memerlukan identifikasi wilayah secara menyeluruh. Tujuannya bukan hanya mencatat apa yang ada, tetapi memahami elemen di dalamnya untuk menentukan arah pembangunan yang lebih terstruktur.

Data yang sering saya temukan di beberapa laporan warga dan berita platform media sosial tersebut juga sangat krusial untuk menyelesaikan masalah yang baru-baru ini terjadi, seperti sengketa kewajiban plasma 20%. Ketidakjelasan batas lahan dan minimnya komunikasi perusahaan adalah akar masalahnya. Dengan data yang akurat mengenai daftar penerima plasma, dan batas lahan, masyarakat dapat memverifikasi informasi dengan jelas.

Selain itu, potensi wilayah seperti di kecamatan Kotabesi dapat dimaksimalkan. Sebagai "leher" penghubung Sampit dengan wilayah utara dari jalur lintas provinsi, Kotabesi berpotensi menjadi rest area (titik singgah terpadu). Tempat ini hendaknya tidak hanya menyediakan fasilitas dasar, tetapi menjadi etalase produk lokal, kuliner khas, dan pusat edukasi budaya. Dengan arsitektur yang menarik sehingga dapat menciptakan lapangan kerja baru dan tentu dengan perencanaan pembangunan yang maksimal.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SampitIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Samibus, Transportasi Umum Masa Depan Kotim

Samibus, Transportasi Umum Masa Depan Kotim

inovasi Samibus (Sampit Mini Bus), sebuah moda transportasi umum yang terinspirasi dari Mikrotrans. Transportasi dengan tenaga listrik

Merdeka Sebelum Pukul Lima, Sebuah Ketimpangan Akses di Mentaya Seberang

Merdeka Sebelum Pukul Lima, Sebuah Ketimpangan Akses di Mentaya Seberang

Ketimpangan akses ini pun turut dirasakan oleh anak-anak sekolah di Mentaya Seberang, terutama ketika mereka harus mengikuti kegiatan hingga

 Fenomena Boti di Sampit Bukan Lagi Persoalan Kecil

 Fenomena Boti di Sampit Bukan Lagi Persoalan Kecil

Saat ini fenomena “boti” atau laki-laki yang berperilaku menyerupai perempuan semakin terlihat terbuka di lingkungan remaja dan sekolah.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement

Populer