
Kepada Yth. Bupati Kotawaringin Timur
Bapak Halikinnor
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
"Membangun daerah ibarat menenun kain; Setiap benang aspirasi warga adalah penguat bagi motif kemajuan yang ingin Bapak wujudkan."
Bersama surat ini, izinkan saya, Elina Alifia Callysta seorang pelajar SMPN 1 Kotabesi yang mencintai tanah ini, menyampaikan beberapa butir pemikiran yang lahir dari pengamatan terhadap dinamika masyarakat. Sejauh mata memandang, kami melihat jejak-jejak perubahan yang telah Bapak torehkan. Ibarat pelukis yang mengerjakan kanvas raksasa, warna-warna kemajuan mulai tampak nyata. Namun, layaknya sebuah lagu yang membutuhkan harmoni agar terdengar sempurna, izinkan saya menciptakan satu nada tambahan dalam melodi surat ini.
Maksud dari surat ini adalah untuk menyampaikan harapan dan saran mengenai beberapa hal yang sedang terjadi di kabupaten Kotim tercinta. Di balik kemajuan yang ada, saya melihat masih terdapat riak konflik yang jika tidak dimitigasi sejak dini, dapat menghambat visi besar Bapak untuk daerah ini. Berikut adalah beberapa poin yang saya usulkan:
- Identifikasi Wilayah secara Menyeluruh
Konflik di berbagai wilayah Kabupaten Kotim sering kali dipicu oleh kurangnya data akurat mengenai batas wilayah. Celah inilah yang memicu perselisihan. Oleh karena itu, kita memerlukan identifikasi wilayah secara menyeluruh. Tujuannya bukan hanya mencatat apa yang ada, tetapi memahami elemen di dalamnya untuk menentukan arah pembangunan yang lebih terstruktur.
Data yang sering saya temukan di beberapa laporan warga dan berita platform media sosial tersebut juga sangat krusial untuk menyelesaikan masalah yang baru-baru ini terjadi, seperti sengketa kewajiban plasma 20%. Ketidakjelasan batas lahan dan minimnya komunikasi perusahaan adalah akar masalahnya. Dengan data yang akurat mengenai daftar penerima plasma, dan batas lahan, masyarakat dapat memverifikasi informasi dengan jelas.
Selain itu, potensi wilayah seperti di kecamatan Kotabesi dapat dimaksimalkan. Sebagai "leher" penghubung Sampit dengan wilayah utara dari jalur lintas provinsi, Kotabesi berpotensi menjadi rest area (titik singgah terpadu). Tempat ini hendaknya tidak hanya menyediakan fasilitas dasar, tetapi menjadi etalase produk lokal, kuliner khas, dan pusat edukasi budaya. Dengan arsitektur yang menarik sehingga dapat menciptakan lapangan kerja baru dan tentu dengan perencanaan pembangunan yang maksimal.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





