PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Luapan pertemuan Sungai Arut dan Sungai Lamandau mulai menggenangi permukiman warga di Desa Kumpai Batu Bawah (KBB), Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, Senin (18/5). Banjir juga berdampak pada sejumlah wilayah lain di Kecamatan Arut Utara dan Kecamatan Kotawaringin Lama.
Berdasarkan pantauan di lapangan, air telah memasuki pekarangan rumah warga, menggenangi sekolah dasar, serta merendam area perkebunan sayur mayur. Meski belum berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat, warga mulai khawatir apabila debit air terus meningkat dan memicu gagal panen.
Desa KBB diketahui merupakan desa transmigrasi tertua di Kotawaringin Barat yang berada di bantaran daerah aliran Sungai Arut dan Sungai Lamandau. Wilayah ini juga menjadi salah satu daerah langganan banjir setiap tahun.
Setiap musim banjir, petani di desa tersebut kerap mengalami kerugian akibat gagal panen, terutama untuk komoditas sayur mayur seperti sawi.
Warga Desa Kumpai Batu Bawah, Moko, mengatakan luapan air sungai saat ini sudah memasuki area permukiman dan lahan pertanian warga.
“Kalau warga yang menanam menggunakan sistem polibag, tanaman masih bisa dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi. Namun, sebagian besar petani menanam langsung di lahan pertanian. Kalau air semakin dalam, dipastikan petani kembali merugi,” ujarnya.
Sementara itu, peningkatan debit Sungai Arut juga mulai dirasakan warga di kawasan bantaran sungai di wilayah perkotaan, salah satunya di Gang Kerbau, Kelurahan Baru, Pangkalan Bun.
Di kawasan tersebut, air sungai sudah mencapai bibir jalan permukiman. Warga khawatir banjir akan terjadi apabila hujan di wilayah hulu terus turun dan menyebabkan debit sungai meningkat.
“Di kawasan perkotaan, Gang Kerbau biasanya paling pertama terdampak luapan Sungai Arut dan paling lama surut. Air sungai tinggal sedikit lagi masuk ke permukiman. Semoga tidak terjadi banjir karena kasihan anak-anak yang mau berangkat sekolah,” kata Ikas, warga Gang Kerbau. (tyo/yit)
Editor : Heru Prayitno