KUALA PEMBUANG, radarsampit.jawapos.com – Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Seruyan menjajaki kerja sama dengan pihak ketiga untuk mengembangkan industri pengolahan rotan hingga menembus pasar ekspor. Langkah ini dilakukan untuk mengoptimalkan potensi rotan daerah sekaligus meningkatkan nilai tambah dan membuka peluang usaha bagi perajin lokal.
Kepala Disperindagkop Seruyan Adhian Noor mengatakan, pihaknya berencana mempelajari pengembangan industri rotan di Kabupaten Katingan yang telah didukung peralatan dari kementerian dan bekerja sama dengan perusahaan eksportir.
“Kita diminta Pak Bupati untuk belajar ke Katingan, bagaimana mereka bisa berhasil mengembangkan pengolahan rotan melalui kerja sama dengan pihak ketiga,” ujarnya, Selasa (27/10).
Menurut Adhian, potensi rotan Seruyan tersebar di sejumlah wilayah, termasuk Desa Bahaur dan Derangga, Kecamatan Hanau. Berdasarkan data Disperindagkop, potensi rotan di kedua desa tersebut diperkirakan mencapai 102 hektare, mencakup tanaman budidaya dan rotan yang tumbuh secara alami.
Potensi tersebut dinilai menjanjikan untuk dikembangkan menjadi industri pengolahan. Terlebih, Kabupaten Katingan yang telah memiliki industri rotan masih membutuhkan pasokan bahan baku dari luar daerah.
Adhian menyebutkan, pihaknya telah berkomunikasi dengan PT Harmoni Usaha Indonesia (HUI), perusahaan yang bergerak di bidang ekspor rotan. Perusahaan tersebut menyatakan terbuka untuk bekerja sama selama rotan dari Seruyan memenuhi standar produksi dan kualitas yang ditetapkan.
Untuk memenuhi persyaratan tersebut, Seruyan berencana memanfaatkan dukungan Kabupaten Katingan dalam proses standardisasi. Rotan dari Seruyan dapat dipelajari dan diuji terlebih dahulu di Katingan sebelum daerah itu mampu menerapkan standar sendiri.
“Katingan siap membantu proses standardisasi. Rotan kita bisa dipelajari dan diuji terlebih dahulu di sana, sampai nantinya kita mampu menerapkan standar sendiri,” jelasnya.
Meski demikian, Adhian menegaskan pengembangan industri rotan harus tetap memperhatikan kebutuhan perajin lokal. Saat ini, permintaan produk anyaman rotan Seruyan, seperti tas dan berbagai kerajinan lainnya, mulai meningkat. Produk tersebut juga mulai diminati sebagai cendera mata dan kebutuhan instansi.
Namun, peningkatan permintaan belum diimbangi ketersediaan bahan baku. Perajin di wilayah Hanau, Seruyan Tengah, hingga Seruyan Hulu masih kesulitan memperoleh rotan untuk memenuhi pesanan.
“Kita ingin memastikan kebutuhan perajin lokal terpenuhi. Jangan sampai rotan yang ada langsung dibawa keluar, sementara kebutuhan lokal belum terpenuhi,” tegasnya.
Menurut Adhian, pengembangan industri rotan tidak hanya berpotensi meningkatkan pendapatan petani dan pencari rotan, tetapi juga membuka peluang penghasilan tambahan bagi masyarakat melalui kegiatan penganyaman dan pembuatan produk jadi sesuai permintaan pasar.
Untuk mendukung rencana tersebut, Disperindagkop Seruyan mengusulkan pembentukan unit pelaksana teknis (UPT) pengelolaan rotan. UPT itu diharapkan menjadi penggerak pengolahan, peningkatan kualitas produk, serta koordinasi dengan mitra usaha.
Pihaknya juga telah berkomunikasi dengan kementerian dan Pemerintah Kabupaten Katingan untuk membahas langkah pengembangan industri rotan yang dapat diterapkan di Seruyan.
“Kita ingin potensi rotan ini benar-benar memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Bukan hanya menjual bahan mentah, tetapi juga membuka peluang usaha bagi perajin lokal,” pungkasnya. (rdw/yit)
Editor : Heru Prayitno