RADARSAMPIT.JAWAPOS.COM - Sebagai umat manusia yang hidup di era gempuran inflasi, di mana uang sepuluh ribu rupiah kadang cuma dapat parkir dua kali atau es teh manis plastik kecil di pinggir jalan, membaca berita dari Kabupaten Lamandau ini rasanya seperti sedang membaca fiksi ilmiah.
Tapi percayalah, ini nyata, bukan hoaks grup WhatsApp keluarga.
Di Desa Benakitan, Kecamatan Batang Kawa, saat ini sedang terjadi sebuah peristiwa penting yang barangkali bisa membuat kadar kolesterol dan kebahagiaan melonjak secara bersamaan: Panen Raya Durian.
Baca Juga: Menuju Yogyakarta
Bagi pencinta durian (atau durian enthusiast, biar kerenan dikit), kabar ini jelas sebuah panggilan ibadah. Bayangkan saja, warga setempat menjual durian lokal dengan harga yang sangat tidak masuk akal untuk dompet orang kota: Rp10.000 dapat tiga buah!
Ya, Anda tidak salah baca. Sepuluh ribu rupiah, tiga biji. Di Jawa, uang segitu jangankan buat beli tiga buah, buat bayar ongkos kupasnya saja kadang masih kurang.
Fenomena "durian murah meriah muntah" ini sukses membuat kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Benyawai diserbu wisatawan. Konsep wisatanya pun sangat paripurna.
Anda datang, disuguhi pemandangan hutan hujan tropis yang hijau royo-royo, menghirup udara sejuk yang bebas polusi knalpot, lalu duduk manis sambil ngemil durian langsung dari kebunnya. Sebuah kombinasi yang membuat paru-paru dan lidah sama-sama mengucap syukur.
Kalau setelah makan durian Anda merasa berdosa karena kalori yang menumpuk, Tahura Bukit Benyawai sudah menyediakan solusinya.
Baca Juga: Dari Meja Makan Kembali ke Akar
Anda tinggal jalan kaki, menerobos lebatnya hutan untuk "blusukan" mencari Air Terjun Bongki yang tersembunyi. Hitung-hitung olahraga membakar lemak durian, sambil bonusnya bisa pamer foto estetik di Instagram dengan takarir (caption) religius atau filosofis.
Tapi, di balik urusan perut dan wisata ini, ada narasi yang lebih besar. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Lamandau, Pak Ostra, mengingatkan bahwa Tahura Bukit Benyawai yang luas usulannya mencapai 2.362 hektare ini bukan cuma soal tempat rekreasi.
Kawasan yang melingkupi Desa Benakitan, Ginih, Kinipan, sampai sebagian Kecamatan Delang ini adalah benteng konservasi.
Di sinilah rumah bagi Orangutan, Bekantan, Rusa, hingga burung rangkong. Dan untungnya, pemerintah setempat paham betul cara menjaga hutan tanpa harus membuat warganya kelaparan.
Lewat ekowisata berbasis komunitas, hutan tetap lestari, satwa liar bisa tenang berumah tangga, dan warga sekitar dapat berkah ekonomi dari hasil hutan non-kayu—yang salah satunya ya buah durian tadi.
Pada akhirnya, apa yang terjadi di Lamandau adalah sebuah tamparan lembut buat kita yang sering lupa cara merawat alam. Ketika alam dijaga dengan baik, dia tidak akan pelit.
Dia akan membalasnya dengan udara segar, pemandangan indah, dan tentu saja... durian murah yang harganya bikin dompet menangis bahagia.
Jadi, kapan kita agendakan ke Lamandau? Jangan lupa bawa obat antiseptik, baju ganti, dan yang paling penting: perut yang kosong. (*)