Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dari Meja Makan Kembali ke Akar

Heru Prayitno
Penulis: Heru Prayitno❯
Ilustrasi pengelolaan sampah dapur menjadi pupuk kompos untuk tanaman sayur di pekarangan rumah. (Gemini Generated Image)
Ilustrasi pengelolaan sampah dapur menjadi pupuk kompos untuk tanaman sayur di pekarangan rumah. (Gemini Generated Image)

Advertisement

Kepada Yth 

Ayahanda H. Halikinnor, S.H., M.M

Di Tempat

Advertisement

Teriring doa tulus saya panjatkan pada Ayahanda beserta seluruh keluarga senantiasa diberikan kesehatan yang sempurna, kekuatan, dan keberkahan oleh Tuhan yang Maha Esa dalam menjalankan amanah memimpin kabupaten tercinta. Perkenalkan, nama saya Angelina Hilmiyah Guenens, siswi SMP Negeri 1 Sampit sekaligus seorang putri daerah yang merasa sangat bangga dan bersyukur telah terlahir di atas tanah Kotawaringin Timur. Saya bangga tumbuh di tengah masyarakat kotim yang dikenal begitu kompak, rukun dalam keberagaman, dan memiliki semangat gotong royong yang tinggi.

Melalui tulisan pena ini, saya ingin menyampaikan kegelisahan saya mengenai masalah pengelolaan sampah dapur di lingkungan komplek perumahan yang selama ini hanya dianggap sebagai beban yang sia-sia. Sampah sisa makanan seringkali hanya dibuang begitu saja ke depo sampah, menimbulkan aroma tidak sedap yang mengganggu kenyamanan, dan berakhir menjadi limbah yang tidak berguna. Padahal, jika kita teliti, sampah tersebut memiliki potensi besar jika dikelola dengan tepat sejak dari lingkup rumah tangga. Masalah ini mengingatkan saya pada pengalaman puitis saat berkunjung ke Denpasar, Bali. Di sana, saya melihat sebuah harmoni di antara manusia dan bumi, di setiap halaman rumah, mereka memahat galian tanah, sebuah tabung sunyi yang ditutup seng sebagai tempat mengolah sampah dapur. Tak ada aroma yang menusuk, hanya ada harapan yang tumbuh menjadi rimbunnya cabai dan segarnya bayam, di mana setiap keluarga mampu memanen keberkahan dari halaman mereka sendiri secara gratis melalui proyek satu rumah satu tabung kompos.

Urgensi dari ide ini sangat nyata jika melihat fakta lapangan saat ini. Menurut data yang saya baca dari portal Berita Sampit dan prokalteng 2025, Kalimantan Tengah saat ini menghasilkan timbunan sampah hingga 1.259 ton setiap harinya, di mana komposisi terbesarnya adalah sampah dapur atau sisa makanan yang mencapai angka 35,57 persen. Sangat memprihatinkan mengetahui puluhan persen potensi organik ini terbuang sia-sia di depo sampah, padahal jika dikelola melalui tabung kompos di setiap rumah, hal ini dapat menciptakan kemandirian ekonomi keluarga sekaligus mengurangi beban penanganan sampah daerah secara drastis.

Advertisement

Sebagai solusi, saya berkeinginan Ayahanda dapat berkenan memberikan arahan kepada kelurahan terkait untuk mengadakan sosialisasi gerakan "Satu Rumah Satu Tabung Kompos" melalui peran seluruh Ketua RT di Kotawaringin Timur. Keluarga saya telah menerapkan metode ini dan terbukti sangat membantu ekonomi pribadi, terutama saat harga bahan pokok seperti cabai melonjak tinggi di pasar. Dengan memanen hasil tanam sendiri yang disuburkan oleh pupuk kompos rumahan, pengeluaran dapur yang awalnya membengkak bisa berkurang drastis karena kita tidak perlu membeli bahan-bahan tersebut.

Besar keinginan saya agar usulan ini tidak hanya berhenti di atas kertas, namun dapat menjadi langkah nyata bagi kemajuan bumi Habaring Hurung ini. Terima kasih atas segala dedikasi Ayahanda tuk mendengarkan suara hati rakyat kecil ini. Bersama kita bangun kotim jadi indah.

Hormat Saya,

Angelina Hilmiyah Guenens

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SampitIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Fenomena 'Boti' Ramai di Kalangan Pelajar, DPRD Kotim Minta Pembinaan Remaja Diperkuat

Fenomena 'Boti' Ramai di Kalangan Pelajar, DPRD Kotim Minta Pembinaan Remaja Diperkuat

Fenomena “melambai” atau yang dikenal dengan istilah “boti” yang belakangan ramai diperbincangkan di kalangan pelajar menjadi perhatian DPRD

Merdeka Sebelum Pukul Lima, Sebuah Ketimpangan Akses di Mentaya Seberang

Merdeka Sebelum Pukul Lima, Sebuah Ketimpangan Akses di Mentaya Seberang

Ketimpangan akses ini pun turut dirasakan oleh anak-anak sekolah di Mentaya Seberang, terutama ketika mereka harus mengikuti kegiatan hingga

Jangan Korbankan Pelajar SMP Negeri 3 Sampit

Jangan Korbankan Pelajar SMP Negeri 3 Sampit

di sekitar SMP Negeri 3 Sampit berdiri sebuah depo sampah yang menjadi sumber aroma bau. Pelajar terganggu saat sekolah

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement

Populer