Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Kesan dan Pesan dari Ci Mehong ketika Menikmati Kota Sampit.Dorong Usaha Kuliner Lokal Agar Terus Berinovasi

Yuni Pratiwi Iskandar • Sabtu, 6 Juni 2026 | 15:15 WIB
PIK Baking House by Ci Mehong, salah satu kuliner viral dari Jakarta yang hadir di Kota Sampit, Rabu (3/6).(yuni/radarsampit)
PIK Baking House by Ci Mehong, salah satu kuliner viral dari Jakarta yang hadir di Kota Sampit, Rabu (3/6).(yuni/radarsampit)

Selama dua hari, sosok yang selama ini hanya dikenal netizen penggelar kuliner melalui layar ponsel itu, hadir di Kota Sampit, dalam salah satu kegiatan bazar kuliner depan pusat perbelanjaan,  di bilangan Jalan Sudirman Sampit. Sejak mendarat di Bandara H Asan, Selasa (2/6) influencer ini langsung terkesan dengan tumbuhan Kelakai atau pakis yang menjadi salah satu bahan masakan khas Kalimantan.

---------------------------------------

Dengan tubuh semampai, Tjioe Nofia Handayani atau yang lebih dikenal sebagai Ci Mehong tampil anggun dalam balutan busana cheongsam modern berwarna putih tulang berpadu hitam. Pilihan pakaian yang sederhana namun elegan itu mempertegas karisma perempuan kelahiran Aceh tahun 1970 tersebut.

Tak heran, kehadirannya langsung menyedot perhatian pengunjung ynag penasaran ingin melihat lebih dekat sosok viral dengan slogan khasnya, "yang mau-mau aja".

Radar Sampit pun berkesempatan berbincang santai dengan Ci Mehong di stan PIK Baking House by Ci Mehong, salah satu peserta dalam Bazar Kuliner Viral dari Jakarta yang digelar di Sampit hingga 8 Juni mendatang.

Di tengah kesibukanya melayani pembeli dan berfoto dengan pengunjung, ia bercerita banyak tentang kesan pertamanya menginjakkan kaki di Kota Mentaya.

Perempuan yang dikenal sebagai pebisnis kuliner itu mengaku awalnya datang ke Sampit semata-mata untuk berjualan. Tidak ada agenda khusus untuk berwisata ataupun menjelajahi daerah. Namun pandangan itu berubah sesaat setelah pesawat yang ditumpanginya mendarat di Bandara H Asan Sampit, Selasa (2/6) lalu.

"Jujur, pandangan saya awal ke Sampit ini mau jualan. Saya ke sini bukan tamasya. Tapi saya akui spot-spot di Sampit luar biasa," ujarnya.

Baca Juga: Harga Plastik Naik, Ujian Berat bagi UMKM Kuliner di Kotim

Momen yang paling membekas justru terjadi beberapa menit setelah tiba di Sampit, masih di kawasan bandara. Di sepanjang perjalanan menuju kota, matanya tertuju pada hamparan tanaman pakis yang tumbuh liar di pinggir jalan. Tanpa pikir panjang, ia meminta sopir menghentikan kendaraan.

"Turun-turun dari bandara, eh ada pakis. Saya minta sopir berhenti dulu, saya petik pakis," kata Ci Mehong sambil tertawa.

Bagi masyarakat Kalimantan, tanaman yang dipetik Ci Mehong itu dikenal dengan nama kelakai dan kerap diolah menjadi berbagai masakan khas daerah. Pemandangan tersebut menjadi pengqlaman baru yang menurutnya sulit ditemukan di kota-kota besar.

Selain terkesan dengan kelakai, ia juga memperhatikan bentang alam sepanjang perjalanan yang didominasi perkebunan kelapa sawit. Baginya, sawit menjadi identitas yang sangat melekat dengan daerah ini.

"Sepanjang jalan ada pohon sawitnya. Terus tanah kosong pasti ada pakisnya," ujarnya.

Meski hanya berada di Sampit selama dua hari, Ci Mehong berusaha memanfaatkan waktunya untuk mengenal lebih dekat kota ini. Ia menyusuri tepian Sungai Mentaya, mengunjungi Ikon Jelawat yang menjadi salah satu landmark kota, berburu buah-buahan di kawasan Jalan Sudirman, hingga mendatangi pasar yang ada di Kota Sampit, salah staunya Pasar Subuh, untuk membeli buah labu atau orang Sampit biasa menyebutnya waluh, sebagai bahan untuk membuat donat labu yang dijual di stannya.

Tidak hanya itu,  Ci Mehong juga sempat mengunjungi lokasi pemakaman massal yang berkaitan dengan tragedi Sampit tahun 2001. Baginya, perjalanan ke suatu daerah tidak lengkap jika hnaya melihat sisi modern nya tanpa memahami sejarah di kota tersebut.

Sebagai pebisnis kuliner, perhatiannya tentu tidak lepas dari urusan makanan. Selama berada di Sampit, ia menyempatkan diri mencoba sejumlah rumah makan yang telah lama dikenal,terutama di tepian Sungai Mentaya.

Awalnya, ada kuliner yang dicobanya belum sesuai harapan. Namun setelah terus mencari dan mencoba berbagai tempat makan, ia menemukan an menu yang cocok di lidahnya.

"Pertama cicipi asal, terus zonk. Terus kita lihat-lihat lagi rumah makan di pinggir Sungai Mentaya. Ternyata enak ya, saya cocok dengan masakannya," ungkap Ci Mehong.

Kehadiran bazar kuliner viral dari Jakarta di Sampit menurut Ci Mehong menunjukkan antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap perkembangan dunia kuliner. Ia melihat peluang usaha di kota ini masih terbuka lebar.

"Bagus sih ya. Jualan juga bagus, ramai. Pembeli pasti balik deh. Kalau kita jualannya ramai, enggak perlu minum air Sungai Mentaya istilahnya, pasti balik. Ada cuan, cuan, cuan," katanya sambil tertawa.

Di stan miliknya, Ci Mehong membawa beragam produk andalan PIK Baking House. Mulai dari donat labu, marmer cake, lapis legit, kentang kacang teri Medan, hingga bika Ambon yang menjadi salah satu produk terlaris.

Menurutnya, sebagian produk dibuat langsung di Sampit. Namun untuk menjaga kualitas rasa, sejumlah bahan utama tetap didatangkan dari Jakarta.

"Donat labu dan marmer cake dibuat di Sampit. Kalau bika Ambon kita bawa, kita frozen, sampai sini dipanaskan lagi. Butter juga kita bawa dari Jakarta karena di sini enggak ada yang jual," terang Ci Mehong.

Ia mengakui, harga produknya memang tidak murah, berkisar antara Rp20 ribu hingga Rp300 ribu. Namun menurutnya hal itu sebanding dengan kualitas bahan yang digunakan.

"Makanya mahal, karena kita pakai bahan yang mehong. Kita menjaga kualitas, rasanya juga lain," ujarnya dengan gaya khas.

Dari seluruh produk yang dibawa ke Sampit, bika Ambon menjadi yang paling banyak dicari pembeli. Ci Mehong meyakini popularitas produk tersebut tidak terlepas dari peran media sosial yang selama ini turut menmbesarkan namanya.

Mengenai peluang kuliner Sampit untuk berkembang hingga tingkat nasional, Ci Mehong menilai potensi itu sangat besar. Namun perkembangan ekonomi daerah, khususnya sektor sawit yang menjadi tulang punggung masyarakat, turut memengaruhi daya beli dan perkembangan usaha kuliner.

Menurutnya, pelaku usaha kuliner harus terus berinovasi dan tidak boleh bertahan pada pola lama jika ignin bertahan dalam persaingan."Harus update terus. Enggak boleh itu-itu saja. Kita harus update terus supaya bisa mengikuti pasar dan melihat peluang yang ada," pesannya.

Hanya dua hari berada di Kota Sampit, namun pengalaman yang diperoleh Ci Mehong terasa jauh lebih panjang dari waktu yang dijalaninya. Dari memetik kelakai di pinggir jalan, mencicipi kuliner lokal, menyusuri Sungai Mentaya, hingga berinteraksi denagn masyarakat, semua menjadi cerita yang akan dibawanya pulang.

Bagi Ci Mehong, Sampit ternyata bukan sekadar tempat berjualan. Kota ini meninggalkan kesan tersendiri, sebuah daerah yang menurtunya menyimpan banyak potensi, baik dari sisi alam, kuliner , maupun keramahan masyarakatnya.(*/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
#Ci Mehong #Bazar Kuliner #Bika Ambon #Kelakai #kuliner