SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kemunculan beruang liar di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali membuat warga resah.
Setelah sebelumnya seekor beruang viral muncul di Desa Bukit Raya, Kecamatan Cempaga, kini dua ekor anak beruang kembali terekam video warga di kawasan Samuda.
Video tersebut beredar luas di media sosial dan memperlihatkan dua anak beruang berada di area yang diduga ladang milik warga. Satwa liar itu terlihat berjalan di sekitar semak dan kebun sebelum akhirnya menjauh.
Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, mengatakan pihaknya masih melakukan penelusuran untuk memastikan titik lokasi kemunculan dua beruang tersebut.
“Kalau di narasinya disebut di Samuda. Dari pengamatan video, lokasinya seperti di ladang dan beruang berjumlah dua ekor, masih anak. Untuk dua video yang beredar itu, lokasi pastinya masih kami telusuri,” kata Muriansyah, Rabu (13/5/2026).
Ia mengungkapkan, sebelum video dari Cempaga dan Samuda ramai beredar, pihaknya juga menerima laporan kemunculan beruang di Desa Kandan, Kecamatan Kotabesi sekitar sepekan lalu.
Namun setelah sempat terlihat warga, beruang tersebut tidak muncul lagi dan diduga hanya melintas di kawasan itu.
“Di wilayah Desa Kandan setelah muncul sudah tidak terlihat lagi. Dugaan sementara memang hanya melintas,” ujarnya.
Menurut Muriansyah, kemunculan beruang di sekitar ladang, kebun hingga permukiman warga dipicu rusaknya habitat alami satwa tersebut. Kondisi itu membuat beruang keluar hutan untuk mencari makanan.
“Faktor utama karena habitat beruang rusak, sehingga mereka keluar mencari makan,” katanya.
Selain kerusakan habitat, musim kemarau juga disebut turut memengaruhi perilaku satwa liar tersebut. Saat sumber air dan pakan di dalam hutan berkurang, beruang mulai bergerak ke wilayah aktivitas manusia.
“Ketika kemarau, di habitatnya beruang kekurangan makan dan minum. Akhirnya keluar mencari sumber makanan baru,” jelasnya.
Ia menyebut kawasan kebun dan permukiman menjadi sasaran karena menyediakan banyak makanan yang mudah ditemukan, seperti buah nangka, nenas, rambutan, buah naga hingga cempedak milik warga.
Tak hanya itu, sampah rumah tangga yang dibuang sembarangan juga dinilai memancing beruang datang mendekati permukiman.
“Beruang juga memakan sisa sampah rumah tangga yang dibuang warga sembarangan,” ujarnya.
Muriansyah menyoroti masih adanya kebiasaan warga membuang sampah di semak-semak belakang rumah maupun di tepi jalan, terutama di kawasan yang berbatasan dengan semak belukar seperti wilayah Kelurahan Baamang Barat.
“Di daerah dekat semak belukar masih ada warga yang membuang sampah sembarangan di belakang rumah atau pinggir jalan. Itu bisa memancing satwa datang,” tegasnya.
BKSDA mengimbau masyarakat agar tidak mendekati ataupun mencoba mengusir beruang secara langsung karena berisiko memicu serangan. Warga diminta segera melapor jika menemukan kemunculan satwa liar di sekitar lingkungan mereka. (oes)
Editor : Slamet Harmoko