Pelaku Penganiayaan di SPBU Samuda jadi Buronan Polisi
Fahry Ilhami Samosir• Kamis, 7 Mei 2026 | 11:20 WIB
KERIBUTAN: Potongan video keributan di SPBU Samuda yang viral tersebar di media sosial. (Warga/Radar Sampit)
SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Kasus penganiayaan yang terjadi di SPBU Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), kini terus didalami pihak Kepolisian.
Korban bernama Muammar (41), diketahui telah melaporkan kejadian tersebut dan masih menjalani perawatan akibat luka yang dialaminya.
Saat ini, Tim Unit Reskrim Polsek Jaya Karya tengah melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait insiden perkelahian yang diduga dipicu persoalan antrean pengisian BBM subsidi jenis solar tersebut.
Sementara itu, terduga pelaku berinisial P (25) dikabarkan melarikan diri usai melakukan aksi penganiayaan dan hingga kini masih dalam pencarian aparat Kepolisian.
"Kasusnya masih dalam penyelidikan dan pelaku sedang dilakukan pencarian," ujar Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain melalui Kasi Humas Polres Kotim AKP Edy Wiyoko.
Sementara, warga sekitar yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, kondisi di SPBU Samuda memang kerap dipenuhi pelangsir BBM subsidi.
Menurutnya, praktik penggunaan banyak barcode untuk pengisian solar subsidi sudah berlangsung cukup lama.
"Di sana memang sering ramai pelangsir. Bahkan ada yang pegang sampai lima barcode untuk isi solar," ungkap warga tersebut.
Ia menyebutkan, situasi antrean BBM di SPBU tersebut kerap memicu ketegangan antar pengantre, terutama saat stok solar mulai terbatas.
Warga berharap ada penertiban agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
"Selama ini SPBU itu hanya diisi oleh pelangsir (solar-red) saja. Untuk umum jarang ditemukan. Pernah barcode teman saya tiba-tiba digunakan untuk mengisi pertalite di SPBU tersebut. Padahal dia ada di Sampit saja. Cukup aneh," ungkapnya.
Sebelumnya, aksi perkelahian di SPBU Samuda terjadi pada Rabu (6/5) lalu. Peristiwa tersebur sempat menghebohkan warga setempat setelah video dan informasi kejadian beredar luas di media sosial. (sir)