SAMPIT,radarsampitjawapos.com- Sendimentasi atau pendangkalan dasar Sungai (Sei) Mentaya, dari arah muara Teluk Sampit sampai ke arah Pelabuhan Sampit, cukup lama terjadi dan mengganggu kelancaran aktivitas pelayaran.
Persoalan ini kembali jadi sorotan. Seperti ketika Anggota Komisi V DPR RI Muhammad Syauqie inspeksi ke Sampit, sekaligus meninjau aktivitas arus mudik di pelabuhan dan di jalur trans Kalimantan, Senin (16/3).
Dirinya ingin masalah tersebut akan dibawa dan dibahas di tingkat pemerintah pusat bersama kementerian terkait, guna mencari solusi penanganannya.
Ia mengatakan, kondisi sedimentasi yang tinggi di Sungai Mentaya tidak hanya terjadi di Kotim, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di wilayah Kalimantan yang memiliki banyak jalur transportasi sungai.
“Terkait pendangkalan alur Sungai Mentaya, mungkin itu juga berlaku di seluruh Indonesia. Di Kalimantan Tengah sendiri banyak alur-alur sungai yang sedimentasinya tinggi,” ujar Syauqie.
Menurutnya, persoalan tersebut perlu penanganan yang serius karena dapat berdampak pada kelancaran transportasi sungai dan aktivitas perekonomian masyarakat.
Syauqie juga menyatakan, pengerukan alur sungai tidak sepenuhnya dapat menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Karena itu, diperlukan skema kerja sama dengan pihak ketiga agar upaya pengerukan dapat dilakukan.
“Pengerukan alur itu tidak bisa menggunakan APBN secara langsung. Karena itu kita membutuhkan kerja sama dengan pihak ketiga untuk melakukan pengerukan alur sungai,”imbuhnya.
Meski demikian, Syauqie menegaskan pihaknya akan mengoordinasikan persoalan tersebut dengan mitra kerja Komisi V DPR RI di tingkat pusat, seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perhubungan.
“Nanti ini juga akan kami bahas di pusat sebagai anggota Komisi V DPR RI. Kami akan menyampaikan bagaimana kondisi di daerah, termasuk dengan mitra kerja kami dari Kementerian PU dan Kementerian Perhubungan, agar bisa mencari solusi terhadap alur sungai yang sedimentasinya tinggi ini,” paparnya.
Politikus PAN ini berharap, jika pengerukan alur Sungai Mentaya dapat segear dilakukan, sehingga akan memberikan dampak positif bagi kelancaran transportasi sungai serta mendukung aktivitas perdagangan dan perekonomian masyarakat di Kotim.
Anggota DPRD Kalteng Sudarsono juga menegaskan, pentingnya pengerukan alur Sungai Mentaya guna mengatasi persoalan pendangkalan yang selama ini menjadi kendala transportasi di Pelabuhan Sampit.
Ia menegaskan, pihaknya memiliki tanggungjawab untuk memantau arus mudik sekaligus memperhatikan berbagai persoalan yang berkaitan dengan transportasi di daerah tersebut. Pasalnya, Sampit merupakan salah satu titik arus mudik yang cukup padat, baik melalui jalur laut, udara maupun darat.
Sudarsono mengungkapkan, saat melakukan komunikasi dengan pihak KSOP Sampit, salah satu persoalan yang kembali mencuat adalah pendangkalan alur Sungai Mentaya yang hingga kini masih menjadi kendala utama bagi aktivitas pelayaran.
Dirinya juga sepakat, satu-satunya cara untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan melakukan pengerukan alur sungai, agar kapal penumpang maupun kapal barang dapat beroperasi dengan lebih lancar.
“Dari dulu sampai sekarang kendalanya hampir sama, yaitu pendangkalan alur. Satu-satunya cara mengatasinya adalah dengan pengerukan,” tegas Politikus Golkar ini.
Karena itu, ia bersama anggota legislatif dari Dapil II mendorong Pemkab melalui Dinas Perhubungan, KSOP Sampit, serta pihak terkait lainnya untuk mencari solusi terbaik agar pengerukan alur sungai bisa segera dilakukan.
“Kami mendorong agar Pemkab Kotim, Dinas Perhubungan, KSOP dan pihak terkait bisa duduk bersama mencari solusi, apakah melalui pihak ketiga atau melalui Kementerian Perhubungan,” imbuh Sudarsono.
Menurutnya, berdasarkan regulasi yang ada, jalur Sungai Mentaya merupakan jalur komersial sehingga pelaksanaan pengerukan kemungkinan besar melibatkan pihak ketiga. Namun hingga saat ini, pihak ketiga yang diharapkan dapat melakukan pengerukan tersebut masih belum memberikan respons.
Meski demikian, pihaknya akan terus mendorong agar persoalan tersebut mendapat perhatian serius sehingga pengerukan dapat segera direalisasikan.
“Kami dari sisi politik atau legislatif berkewajiban mendorong agar pengerukan ini bisa terlaksana. Harapan kita, kalau pengerukan sudah dilakukan maka ke depan tidak ada lagi kendala atau keluhan,” imbuh Sudarsono.
Ia menambahkan, jika alur Sungai Mentaya sudah kembali normal, maka arus transportasi kapal penumpang, kapal barang, maupun kapal komersial lainnya akan semakin lancar. Hal itu dinilai penting karena Sampit merupakan salah satu pintu gerbang utama Kalimantan Tengah melalui jalur laut.
“Harapan kita, kalau pengerukan bisa dilakukan maka jalur kapal penumpang maupun barang bisa lebih lancar sehingga Sampit benar-benar menjadi salah satu pintu gerbang Kalimantan Tengah, tanpa kendala,” pungkas Sudarsono.
Sementara itu diketahui, pengerukan alur Sungai Mentaya terakhir kali dilakukan pada Juni 2015 oleh Kementerian Perhubungan. Pengerukan juga pernah dilakukan tahun 2011, dengan biaya mencapai Rp25 miliar lebih.
Pengerukan tersebut berhasil menambah kedalaman sungai yang sebelumnya hanya sekitar minus 2,3 meter LWS (Low Water Spring) ; merujuk pada kedalaman air di area perairan, pelabuhan, atau sungai yang diukur pada kondisi pasang surut terendah (LWS). Setelah itu kedalaman menjadi menjadi minus 4 meter LWS.
Diperkirakan, titik paling dangkal atau critical area saat ini berada di sekitar Tanjung Serambut dan kawasan Samuda, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan. Situasi itu berdampak menghambat alur lalu lintas kapal dari dan ke Pelabuhan Sampit serta Pelabuhan Bagendang.
Kedalaman alur masuk sering kali kurang dari 3 meter, yang menyebabkan kapal berukuran besar harus menunggu air pasang berjam-jam untuk bisa melintas. Pemicunya, sedimentasi lumpur yang tinggi di sepanjang sekitar 42 nautical mile (kurang lebih 70 km) alur sungai.
Berdasarkan catatan PT Pelindo III Cabang Sampit, kondisi alur Mentaya pada tahun 2012, kedalaman sungai sekitar minus 4 meter LWS. Dengan kedalaman itu, kapal kargo yang bisa masuk bermuatan 3.000 Dead Weight Tonnage (DWT) dan tongkang 5.000 DWT.(ang/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama