Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Kalteng mulai Dikepung Karhutla Menjelang Musim Kemarau 2026

Agus Jaka Purnama • Kamis, 22 Januari 2026 | 05:00 WIB
Kebakaran lahan di Jalan Robby, dekat Jalan Sudirman Sampit, wilayah Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Rabu (21/1/2026).
Kebakaran lahan di Jalan Robby, dekat Jalan Sudirman Sampit, wilayah Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Rabu (21/1/2026).

radarsampit.jawapos.com- Peristiwa musiman berupa terbakarnya hutan dan lahan di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng), bisa kembali terjadi di tahun 2026. Perlu diingat, tahun 2023 silam, kualitas udara di daerah ini pernah menjadi yang terburuk Se Indonesia, akibat kabut asap. Bencana tersebut berpotensi terulang apabila tidak diantisipasi.

----------------------------

Masih awal tahun 2026, peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah muncul di beberapa wilayah Kalteng. Sementara Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal Februari nanti, mulai memasuki musim kemarau.

Tercatat, sudah sejumlah peristiwa karhutla dilaporkan. Seperti pada Kamis (15/1/2026), lahan seluas sekitar 6 hektare di Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, hangus terbakar.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukamara, baru-baru tadi juga melaporkan telah terjadi kebakaran di lahan kering berpasir, di Desa Sungai Pasir, Kecamatan Pantai Lunci.

Karhutla juga terjadi di Kabupaten Gunung Mas (Gumas). Sekitar 15 hektare lahan dilaporkan hangus terbakar di wilayah Desa Batu Nyapau, Kecamatan Tewah, Senin (19/1) sekitar pukul 14.05 WIB.

Upaya pemadaman dilakukan dengan mengerahkan satu unit mobil Armored Water Cannon (AWC) milik Polres Gumas, satu unit truk pemadam kebakaran, dan dua unit mobil BPBD. Petugas memadamkan api dengan cara mengepung titik-titik kebakaran agar tidak meluas.

Dalam proses pemadaman, petugas sempat mengalami kendala keterbatasan sumber air, jarak pengisian ulang tangki yang cukup jauh, serta gangguan teknis pada mesin pompa. Sekitar satu jam kemudian, api berhasil dipadamkan dan tidak merambat ke kawasan hutan lainnya.

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) dan tim gabungan, belum lama tadi juga disibukkan mengatasi karhutla di sejumlah titik di Kecamatan Arut Selatan dan Kecamatan Kumai, pada Minggu (18/1) sampai Senin (19/1).

BPBD Kobar mencatat, luas lahan terbakar di kilometer 19 mencapai sekitar 1,25 hektare, sedangkan di kilometer 8 seluas 0,53 hektare.

Sementara itu, di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Karhutla juga terjadi, seiring melonjaknya hotspot (titik panas).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotim mencatat, sebanyak 54 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah ini hingga 20 Januari 2026.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan berdasarkan rekapitulasi kondisi karhutla 2026, hotspot tersebar di sejumlah kecamatan, dengan sebaran tertinggi berada di wilayah Antang Kalang.

“Dari data yang kami miliki, total hotspot Januari 2026 sebanyak 54 titik. Ini menjadi perhatian serius karena sebagian wilayah Kotim masuk kategori rawan karhutla,” ujarnya, Rabu (21/1).

Masih berdasarkan data BPBD Kotim, Kecamatan Antang Kalang tercatat sebagai wilayah dengan hotspot terbanyak, yakni 21 titik. Selanjutnya Kecamatan Mentaya Hulu sebanyak 5 titik, Pulau Hanaut 4 titik, Cempaga dan Telaga Antang masing-masing 2 titik, serta sejumlah kecamatan lainnya dengan satu titik panas.

Selain itu, BPBD Kotim juga mencatat telah terjadi kebakaran lahan di beberapa wilayah kecamatan.

“Luas lahan terbakar masih tergolong kecil, namun kondisi ini tidak boleh dianggap sepele karena potensi meluas tetap ada, terutama di wilayah dengan karakteristik lahan gambut,” imbuh Multazam.

Ditegaskannya, BPBD bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan dan verifikasi di lapangan.

Selain itu, BPBD Kotim juga merilis perbandingan hotspot bulanan pada periode 2023 hingga 2026. Dari grafik perbandingan tersebut, terlihat lonjakan hotspot umumnya terjadi pada pertengahan hingga akhir tahun, terutama pada bulan Agustus hingga Oktober. Namun, kemunculan hotspot sejak Januari 2026 ini,  menjadi sinyal awal yang perlu diantisipasi.

 

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun. Pencegahan harus dilakukan sejak dini agar tidak terjadi kebakaran yang lebih luas,” tegas Multazam.

BPBD Kotim juga meminta peran aktif masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan titik api atau aktivitas mencurigakan yang berpotensi memicu kebakaran. Masyarakat juga diminta agar tidak membakar lahan, karena bisa memicu kembali terjadinya bencana kabut asap.(oes/gus)

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#kemarau #kalteng #karhutla