SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Perampokan uang ratusan juta yang terjadi di Kecamatan Parenggean, Kotawaringin Timur (Kotim) menimbulkan keresahan masyarakat.
Warga Parenggean khawatir kejadian serupa terulang bila komplotan perampok tidak segera ditangkap. Hal tersebut bukan tanpa alasan, karena para pelaku dilengkapi senjata api.
Kekhawatiran juga dirasakan Panji Trisno, pria 25 tahun asal Lombok, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini. Panji adalah korban yang saat kejadian sedang membawa uang ratusan milik majikannya.
Panji mengungkapkan, sebelum perampokan terjadi dia tidak menaruh curiga, karena memang sehari-harinya dia bekerja dengan Suwardi di PT Sinar Jaya Borneo yang bekerjasama dengan PT Katingan Indah Utama (KIU).
“Saya sudah dua tahun ikut pak Suwardi, sejak tahun 2024, sehari-harinya saya bertugas mengelola uang replas untuk pembayaran buah sawit yang akan masuk pabrik,” ujar Panji.
Panji pun menceritakan kronologis sebelum perampokan terjadi. Seperti biasanya, Panji bersiap berangkat kerja, membawa uang replas ke pabrik.
“Saya menunggu pak Wardi (Suwardi) di rumah, pak Wardi menyerahkan uang Rp. 551.856.000 yang disimpan dalam tas laptop,” ujar Panji mengawali ceritanya.
Pagi itu, dia berangkat ke pabrik dengan mengendarai sepeda motor Honda Beat. Panji membawa uang ratusan juta yang disimpan dalam tas.
Di perjalanan, tepatnya di perbatasan PT Sinarmas Parenggean (SMP) dan PT. Katingan Indah Utama (KIU), tiba-tiba dia dihadang satu orang yang berdiri di jalan.
“Saya tidak menaruh curiga, saya mengira orang yang berdiri itu adalah pekerja PT SMP, di dekat belokan saya langsung ditodong senjata api, seperti pistol, saya pun ketakutan dan pasrah aja,” cerita Panji.
Lanjut cerita Panji, selain satu orang yang menodongkan pistol, terlihat juga dua orang berdiri dekat pepohonan di rerumputan, satu orang liannya seperti sedang mengawasi lokasi kejadian.
“Saya waktu itu tidak bisa berbuat apa-apa dan pasrah, saya ketakutan karena ditodong pistol,” lanjut Panji.
Karena dalam keadaan ketakutan, panji tidak sempat memperhatikan ciri-ciri para pelaku. Namun sekilas yang sempat diingatnya saat itu adalah satu pelaku yang menodongkan pistol.
“Pelaku yang todong pistol, pakai kaos warna hitam dan celana pendek abu-abu, wajahnya tidak jelas karena tertutup kain slayer,” kata Panji.
Ketika itu menurut Panji, pelaku yang todong pistol sempat mendorongnya dari motor dan berucap “serahkan tas”. Karena ketakutan, Panji langsung menyerahkan tas berisi uang itu.
Setelah tas beralih tangan, para pelaku langsung kabur meninggal korban di lokasi kejadian. “Saya sempat melihat, pelaku naik motor Honda Beat warna hitam dan pelat nomor tidak jelas,” cerita Panji.
Panji masih beruntung, karena dia tidak sempat diluka oleh para perampok. Ketika itu dia memang tidak berani melawan (ketakutan). Entah bagaimana jadinya kalau saat itu dia berontak melawan perampok.
Selang berapa lama usai kejadian, baru ada warga yang melintas di Lokasi kejadian, Panji ditolong warga dan diantarkan ke pos pengamanan PT SMP.
“HP dan kunci motor saya diambil pelaku, saya tidak bisa menghubungi. Lalu saya diantarkan oleh warga ke pos PT SMP dan juga melapor ke kantor polisi,” terang Panji.
Panji pun berharap para pelaku segera ditangkap, hingga kini masih syok pas perampokan yang dialaminya.
“Dari total uang yang saya bawa saat itu, sekitar 50 juta itu uang milik orang tuanya saya, uang pembayaran buah sawit,” tukasnya. (*)
Editor : Farid Mahliyannor