Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Penganyam Rotan Semakin Langka, ketika Dilombakan Didominasi Peserta Lansia

Heny Pusnita • Sabtu, 10 Januari 2026 | 05:00 WIB
Seorang pengrajin lokal saat jadi peserta Menjawet Uwei atau menganyam rotan di Gedung Futsal Indoor Stadion 29 November Sampit, Kamis (8/1).
Seorang pengrajin lokal saat jadi peserta Menjawet Uwei atau menganyam rotan di Gedung Futsal Indoor Stadion 29 November Sampit, Kamis (8/1).

 

radarsampit.jawapos.com- Keberadaan produk kerajinan anyaman rotan, di masa sekarang makin tergerus dengan banjirnya beragam perabotan dari bahan olahan pabrik. Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kotawaringin Timur (Kotim), berupaya mempertahankan eksistensi produk khas lokal itu dengan menggelar lomba ‘Menjawet Uwei” atau Menganyam Rotan.

----------------------------------

Diharapkan dengan lomba Menjawet Uwei yang digelar di arena Sampit Expo 2026 itu, bisa menyalakan kembali semangat pelestarian kerajinan tradisional itu,  dengan melibatkan pengrajin lintas generasi.

Jumlah pengrajin yang kian berkurang dari tahun ke tahun, menjadi tantangan serius bagi Dekranasda Kabupaten Kotim. Terutama dalam mempertahankan kearifan lokal dari komoditas lokal.

“Lomba menjawet uwei atau menganyam rotan diikuti para pengrajin dari beberapa kecamatan. Kami berharap 17 kecamatan di Kotim bisa mengutus satu perwakilannya. Namun yang mau mengikuti hanya 7 orang saja,” ujar Ketua Harian Dekranasda Kotim Johny Tangkere, bari-baru tadi (8/11).

Minimnya jumlah peserta menjadi gambaran bahwa pengrajin anyaman rotan semakin langka. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi Dekranasda Kotim untuk terus menjaga keberlanjutan produk kearifan lokal tersebut.

Dari tujuh peserta, sebagian besar sudah lanjut usia. Bahkan, peserta tertua berusia 80 tahun, yakni atas nama Rukayah asal Desa Telaga Baru, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

Rukayah pun mengaku kesulitan menganyam rotan karena bahan rotan yang lentur dengan bilahan tipis. Meski sudah menjadi pengrajin sejak muda, ia jarang menggunakan bahan rotan. Biasanya, ia menganyam menggunakan tali miliar dari plastik keras dan pipih untuk membuat berbagai produk seperti lanjung, tikar, tanggok ayakan, tampah, bakul, dan bintingan.

“Sudah dua kali merombak anyaman. Ini sudah mengulang yang ketiga kalinya. Bilah rotannya kecil dan lentur, jadi agak susah,” tuturnya saat dibincangi Radar Sampit.

Dirinya mengaku sempat merasa minder melihat peserta lain yang hampir menyelesaikan karyanya. Dari tujuh peserta, empat di antaranya membuat bakul dari rotan.

“Yang lain sudah mau selesai, ini masih belum tinggi anyamannya,” cetus Rokayah.

Meski begitu, Kepala Desa Telaga Baru,Nur Firmansyah, yang mengantar-jemput serta mendampingi Rukayah selama lomba, terus memberikan semangat hingga proses menganyamnya selesai.

Baca Juga: Mandau Tua di Sampit Expo, Jejak Identitas Dayak yang Dirawat Puluhan Tahun

"Beliau pernah meraih juara dua dalam lomba kerajinan anyaman rotan tingkat Desa Telaga Baru,  Oktober 2025 lalu. Yang pernah juara 1 tidak ikut jadi peserta, karena kesibukan mengurus kebun," ungkap Nur Firmansyah.

 Rukayah menjadi satu-satunya peserta yang didampingi langsung oleh kepala desanya. Sementara peserta lain datang sendiri tanpa pendamping.

“Bersyukur pian diantar dan ditemani kades sampai selesai. Saya datang sendiri saja, kadesnya tidak tahu ke mana,” ujar Yusrana (68), peserta tertua kedua asal Terantang yang membuat pot bunga dari anyaman rotan.

Selain Rukayah dan Yusrana, peserta lainnya yakni Musi dari Kecamatan Telaga Antang, Winda dari Kotabesi, Sri Astuti dari Mentaya Hilir Utara, Siti Murniyati dari Tualan Hulu, serta peserta terjauh Lili dari Kecamatan Bukit Santuai juga terlihat fokus menganyam rotan dengan kedua tangan terampilnya.

Lomba menganyam yamg digelar di Gedung Futsal Indoor komplek Stadion 29 November Sampit dari pukul 11.00 WIB hingga 16.00 WIB itu dan belum juga rampung. Juri pun akhirnya memberikan kelonggaran waktu agar peserta dapat menyelesaikan karya mereka.

“Tadi sempat beberapa kali mati listrik. Peserta menganyam hanya dengan penerangan lampu ponsel, sampai akhirnya meminta pindah ke teras gedung karena pencahayaannya lebih terang,” kata Ketua Pelaksana Gelora Kriya Dekranasda, Alfisah, yang juga Sekretaris Diskoperindag Kotim.

Panitia lomba juga menyediakan makanan dan minuman serta terus menyemangati peserta.  “Tadinya waktu lomba sampai jam tiga sore. Namun melihat semua peserta belum selesai, akhirnya waktu kami perpanjang sampai selesai,” ujar Alfisah.

Selama lomba berlangsung, sejumlah pelajar SMP bersama guru turut berkunjung untuk menyaksikan langsung proses menganyam rotan.

“Kami juga memberikan edukasi kepada para pelajar. Mereka bisa melihat langsung bagaimana para pengrajin bekerja,” tambahnya.

Hasil karya peserta itu dinilai oleh tiga juri, yakni dr Retno Pecinta Seni, Ahmad Yuliansyah (Guru SMA PGRI Terantang) dan Yusniardi, pengrajin rotan asal Kelurahan Baamang Hulu.

“Penilaian meliputi kerapian, kerapatan, kekuatan, ketahanan, kreativitas, estetika, dan orisinalitas,” jelas Alfisah.

Selain lomba anyam rotan, panitia juga akan menyelenggarakan lomba membuat taplak meja dengan teknik ecoprinting yang akan diikuti 20 pelajar tingkat SMA pada Minggu (11/1), serta lomba mewarnai tingkat PAUD dengan 100 peserta pada Senin (12/1).

Ia berharap peringatan Hari Jadi Kotim ke-73 yang jatuh pada 7 Januari 2026 dan dirangkai dengan berbagai kegiatan ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi UMKM, tetapi juga menjadi momentum penting mengenalkan serta menjaga kelestarian kearifan budaya lokal.

“Kemarin kita sudah melihat proses melamang dan mangenta. Hari ini lomba menjawet uwei. Selama sepekan juga ada 17 atraksi perlombaan dalam Festival Habaring Hurung yang diharapkan menarik pengunjung sekaligus memperkenalkan budaya Kotim,” pungkas Alfisah. (*gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
#dekranasda #para lansia #sampit expo #Stadion 29 November Sampit #semakin langka #Kerajinan tradisional #menganyam #penganyam rotan