SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sepanjang 2025 berkali-kali digempur cuaca ekstrem. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sebanyak 26 kejadian terjadi selama satu tahun terakhir.
Angka ini dinilai cukup tinggi dan menjadi alarm kewaspadaan bagi masyarakat.Dari total kejadian, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang menjadi wilayah paling terdampak dengan 14 insiden.
Disusul Baamang 6 kejadian, Kota Besi 3 kejadian, Cempaga Hulu 2 kejadian, dan Mentaya Hilir Selatan 1 kejadian.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, menegaskan bahwa data tersebut menunjukkan wilayah Kotim semakin rentan terhadap dampak cuaca ekstrem.
“Ini bukan sekadar angka. Ini peringatan bagi kita semua agar lebih waspada. Jika masyarakat lengah, risikonya bisa sangat besar,” ujarnya, Rabu (31/12).
Menurut BPBD, cuaca ekstrem yang terjadi didominasi angin kencang, hujan lebat berintensitas tinggi, serta petir. Kondisi ini memicu berbagai kerusakan, mulai dari bangunan rusak, pohon tumbang, gangguan jaringan listrik, hingga potensi kecelakaan di jalan raya.
Sementara itu, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Kalimantan Tengah periode 31 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026. Suhu muka laut (SST) di perairan selatan Kalteng yang cukup hangat meningkatkan penguapan dan massa uap air di atmosfer. Ditambah adanya perlambatan angin (konvergensi) serta kelembapan tinggi, potensi pembentukan awan hujan semakin besar.
Situasi ini membuat BPBD mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama saat cuaca berubah tiba-tiba. Warga diminta mengamankan atap rumah, memangkas pohon yang berpotensi tumbang, menghindari berteduh di bawah pohon saat petir, serta segera melapor jika terjadi insiden.
“Kesiapsiagaan harus menjadi kesadaran bersama. Pemerintah bekerja, tapi masyarakat juga harus aktif melindungi diri dan lingkungan,” tegas Multazam.
BPBD memastikan terus memperkuat koordinasi lintas sektor, meningkatkan edukasi kebencanaan, serta mempercepat respons darurat untuk menekan risiko dan dampak cuaca ekstrem di Kotim. (oes)
Editor : Slamet Harmoko