SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Jagung menjadi komoditas yang paling dicari saat malam pergantian tahun. Seolah sudah menjadi tradisi, permintaan meningkat menjelang malam tahun baru.
Fenomena ini membawa berkah tersendiri bagi petani jagung manis di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang berhasil memanen lebih awal dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Salah satunya adalah Sumardianto, petani jagung di Jalan Teratai V, Sampit. Berkat perhitungan waktu tanam yang matang, ia mampu memanen jagung tepat menjelang akhir tahun dan meraup omzet hingga belasan juta rupiah.
“Kami tanam dari pertengahan Oktober supaya bisa panen untuk kebutuhan tahun baru,” ujar Sumardianto saat ditemui Radar Sampit, Senin (29/12/2025).
Pada musim tanam kali ini, Sumardianto menanam bibit jagung jenis harmonis sebanyak lima bungkus, masing-masing berisi 1.700 benih, di lahan seluas kurang lebih 50 x 100 meter persegi.
Dari lahan tersebut, ia menghasilkan sekitar 8.000 buah jagung siap jual. “Keuntungan bersihnya bisa sekitar Rp15 juta,” sebutnya.
Menurutnya, jagung jenis harmonis memiliki masa panen yang relatif singkat. Jika umumnya jagung dipanen pada umur 70–75 hari, varietas ini sudah bisa dipetik pada usia 65 hari.
“Kami memang jaga masa tanamnya khusus untuk kebutuhan tahun baru,” katanya.
Jagung hasil panen kemudian dipilah berdasarkan ukuran dan kualitas. Jagung kualitas A, berukuran besar dengan biji rapat, dijual Rp3.500 per buah. Kualitas B dibanderol Rp3.000 per buah, sedangkan kualitas C seharga Rp2.500 per buah. Jagung dijual dalam bentuk ikatan, masing-masing berisi 10 buah.
“Satu ikat ada yang Rp35 ribu, Rp30 ribu, dan Rp25 ribu, tergantung kualitasnya,” terangnya.
Permintaan pesanan jagung mulai meningkat sejak bebrapa pekan terakhir. Bahkan, dalam sehari pesanan bisa mencapai 500 buah jagung. Sebagian pelanggan sudah mentransfer uang muka dan baru mengambil pesanan pada tanggal 30 atau 31 Desember 2025.
“Puncaknya itu biasanya tanggal 31. Sebelum siang sudah habis semua,” katanya.
Pria yang telah menekuni usaha tani jagung selama lebih dari 25 tahun itu menyebut, pelanggannya tidak hanya berasal dar i Sampit, tetapi juga dari perkebunan sawitan hingga Kabupaten Seruyan. Namun keterbatasan stok membuat Sumardianto terpaksa menolak pesanan dalam jumlah besar.
“Ada yang pesan sampai 2.000 buah, kami tolak, karena untuk kebutuhan Sampit saja sudah kurang,” ujarnya.
Keterbatasan pasokan, menurutnya, disebabkan belum siapnya petani lain untuk panen di akhir Desember. Bahkan di Jalan Teratai V yang biasanya ramai petani jagung, tahun inihanya dirinya yang menanam.
“Petani lain ada yang jagungnya ketuaan, ada juga yang belum siap panen. Banyak faktor, seperti banjir, serangan ulat, sampai jagung kopong,” jelasnya.
Ia menambahkan, jagung miliknya tidak pernah dijual ke pasar. Pembeli atau pedagang datang lnagsung ke lokasi.
“Pemasaran dibantu anak saya melalui media sosial, sehingga pembeli bisa langsung pesan melalui nomor kontak yang tersedia,” ujarnya.
Sementara, petani jagung lainnya, Lasinem mengaku baru mulai menanam jagung pada 1 November. Dengan jenis jagung paragon, ia memperkirakan panen baru bisa dilakukan pertengahan Januari.
“Kami nanam saja, tidak mengejar tahun baru. Untuk penjualan biasanya bakulan nanti datang sendiri, bukan kami yang ke pasar,” kata Lasinem.
Tidak hanya jagung, Lasinem juga menanam jenis tanaman lainnya, seperti kangkung, sawi, terong, ubi rambat, timun, juga kacang tanah. Dia mengungkapkan, musim hujan sempat menimbulkan kendala karena tingkat keasaman tanah meningkat sehingga tanaman menguning.
Menurutnya, tahun ini hasil panen jagung secara umum memang berkurang dan banyak petani tidak sempat panen untuk kebutuhan akhir tahun.
“Tahun ini memang kurang,” pungkasnya. (yn/fm)
Editor : Farid Mahliyannor