Sepan Biha bukan sekadar tempat bersejarah. Di sinilah, pada masa awal kemerdekaan, para pejuang Kalimantan ditempa dan berlatih menghadapi pasukan penjajah.
RIFANI, radarsampit.jawapos.com
Kabut tipis masih menggantung di atas pepohonan kala langkah Bupati Seruyan Ahmad Selanorwanda, menapaki jalan setapak di kawasan Sepan Biha, Kecamatan Seruyan Hulu, Rabu (12/11) pagi.
Udara hutan terasa lembap, aroma tanah basah menyeruak, dan suara serangga hutan bersahutan seolah menyambut perjalanan napak tilas mengenang para pahlawan daerah.
Kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan. Di lokasi bersejarah yang menjadi saksi perjuangan para pejuang Kalimantan, dilangsungkan apel penghormatan, dilanjutkan dengan napak tilas menuju kawasan hutan, sebuah tradisi yang terus dijaga agar semangat kemerdekaan tak lekang dimakan waktu.
Namun tahun ini ada yang berbeda. Usai prosesi penghormatan, Bupati Ahmad memilih untuk bermalam di tengah hutan, berkemah bersama para peserta.
Tenda-tenda berdiri di bawah rimbunnya pepohonan, diiringi cahaya obor yang temaram.
”Kami ingin merasakan langsung suasana yang mungkin pernah dialami para pejuang ketika berjuang di rimba ini,” ujarnya dengan nada haru.
Sepan Biha bukan sekadar tempat bersejarah. Di sinilah, pada masa awal kemerdekaan, para pejuang Kalimantan ditempa dan berlatih menghadapi pasukan penjajah. Kini, di area yang sama berdiri Taman Makam Pahlawan Sepan Biha dan Tugu Peringatan yang mencatat nama-nama pejuang dari berbagai desa di Seruyan Hulu: Tumbang Manjul, Tumbang Laku, Tumbang Kubang, hingga Buntut Sapau.
Nama-nama seperti Hamdan, Hayon, Engkang, Markasan, Silie Abdul Gani, Arsyad, Djamal, Dombe, Ohon, Rais, Ijum Mamat, Tjai Mamat, Djuki Mamat, Kamis Pandau, Mahat Nyahu, Pudji Lotai, Segarang Latu, dan Sabran, abadi di batu peringatan, menjadi pengingat akan keberanian generasi terdahulu yang rela mengorbankan segalanya demi kemerdekaan.
”Sepan Biha adalah saksi bisu pengorbanan putra-putra daerah yang berjuang tanpa pamrih. Semangat mereka harus menjadi inspirasi bagi kita untuk membangun Seruyan yang maju dan bermartabat,” tutur Ahmad Selanorwanda dalam sambutannya.
Malam itu, di antara nyala api unggun dan cerita para tetua adat, nilai-nilai perjuangan seolah hidup kembali. Para peserta yang kebanyakan generasi muda, mendengarkan kisah perjuangan dengan mata berbinar.
Melalui kegiatan ini, Bupati berharap agar semangat keberanian, keikhlasan, dan pengabdian kepada bangsa tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi juga menjadi api yang terus menyala di dada generasi muda Seruyan.
”Pahlawan mungkin telah tiada,” ucapnya dengan suara pelan. “Tapi semangat mereka harus terus hidup, dalam kerja, dalam pengabdian, dan dalam cinta pada tanah air,” katanya. (***/ign)
Editor : Gunawan.