Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Festival Babukung, Perpaduan Budaya dan Ekonomi Kreatif di Jantung Borneo

Ria Mekar Anggreany • Minggu, 9 November 2025 | 07:30 WIB

Kabupaten Lamandau kembali menggelar festival babukung dan juga lamandau festival
Kabupaten Lamandau kembali menggelar festival babukung dan juga lamandau festival


NANGA BULIK, radarsampit.jawapos.com – Kabupaten Lamandau kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat kebudayaan Kalimantan sekaligus destinasi eksotis di jantung Borneo melalui penyelenggaraan Lamandau Festival 2025.

Mengusung tema “Culture Meets Future”, festival ini menjadi ajang pertemuan antara warisan tradisi leluhur dan geliat ekonomi kreatif masa kini.

Festival yang digelar pada 8–14 November 2025 ini menggabungkan dua kegiatan utama, yakni Festival Babukung dan Lamandau Expo, sebagai etalase harmoni antara kebudayaan dan kemajuan daerah.

Acara dibuka dengan ritual Nota Garung Pantan dan Maumpan Bukung. Tahun ini, Festival Babukung terasa lebih istimewa dengan menghadirkan karnaval topeng adat khas Suku Dayak Tomun yang diikuti oleh 88 desa dan komunitas seni.

Tradisi Babukung yang awalnya merupakan upacara pengiring arwah leluhur, kini diperkenalkan ke masyarakat luas sebagai bagian dari kekayaan adat dan budaya Lamandau.

“Babukung bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah napas dari jati diri kami sebagai orang Dayak Tomun,” ujar Wakil Bupati Lamandau Abdul Hamid dalam sambutan pembukaan Lamandau Festival 2025.

Hamid berharap generasi muda melihat bahwa tradisi ini bukan peninggalan masa lalu, melainkan warisan hidup yang terus tumbuh dan relevan.

Menurut Abdul Hamid, Festival Babukung menjadi simbol keberhasilan masyarakat Lamandau dalam merawat tradisi tanpa kehilangan relevansi di tengah perubahan zaman.

Bersamaan dengan perayaan budaya tersebut, pemerintah daerah juga menggelar Lamandau Expo 2025 untuk memperkuat sektor ekonomi kreatif dan pemberdayaan masyarakat.

Pameran ini menampilkan ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari berbagai sektor seperti kriya, mode, kuliner, dan pariwisata. Dengan konsep “Best Deal of the Day”, expo ini diharapkan mendorong pergerakan ekonomi lokal.

“Lamandau Expo menjadi ruang bertemunya pelaku budaya dan pelaku usaha. Keduanya saling menguatkan: budaya menjadi inspirasi, ekonomi menjadi penggerak,” kata Abdul Hamid.

Pemerintah daerah menargetkan nilai transaksi selama expo mencapai lebih dari Rp7 miliar, dengan efek berganda terhadap sektor pariwisata, akomodasi, dan transportasi.

Selama tujuh hari penyelenggaraan, panitia menargetkan lebih dari 100.000 pengunjung, termasuk wisatawan mancanegara yang tertarik dengan wisata budaya Borneo.

Selain karnaval budaya dan pameran, festival ini juga menghadirkan workshop kreatif, kompetisi fotografi budaya, serta konser musik nasional yang menampilkan musisi populer sebagai bentuk kolaborasi antara tradisi dan hiburan modern.

Dengan semangat “Culture Meets Future”, Lamandau Festival 2025 diharapkan dapat menunjukkan bahwa kebudayaan mampu menjadi fondasi pembangunan daerah. Warisan adat dan seni lokal tidak hanya dijaga, tetapi juga dikembangkan agar memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan edukatif bagi masyarakat.

“Kami ingin Lamandau dikenal bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kematangan budayanya. Festival ini adalah undangan bagi dunia untuk melihat bagaimana budaya Dayak Tomun beradaptasi tanpa kehilangan jiwanya,” tutur Abdul Hamid. (mex)

Editor : Slamet Harmoko
#lamandau #jaringan penculikan #Festival Babukung