SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Warga Kecamatan Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, dibuat resah dengan kemunculan seekor buaya di sebuah waduk milik perkebunan kelapa sawit.
Lokasi kemunculan reptil besar itu diketahui sering menjadi tempat bermain dan memancing anak-anak setempat.
Kepala Resort Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sampit Muriansyah, membenarkan adanya laporan tersebut.
Ia mengatakan pihaknya menerima dua laporan kemunculan buaya di dua kecamatan berbeda, yakni Parenggean dan Teluk Sampit.
“Ada dua laporan yang cukup mengkhawatirkan. Yang di Parenggean ini, buaya terlihat di waduk salah satu perkebunan kelapa sawit. Di sekitar waduk itu banyak aktivitas anak-anak, seperti bermain dan memancing,” jelas Muriansyah, Minggu (26/10/2025).
Informasi tersebut, lanjutnya, disampaikan oleh Kepala Desa Karang Tunggal Rohmad, yang berharap buaya segera ditangkap agar warga merasa aman.
Namun, BKSDA Sampit tidak bisa melakukan penangkapan karena bukan lagi menjadi kewenangannya.
“Harapan warga agar buaya segera ditangkap tentu kami pahami. Tapi karena bukan kewenangan kami lagi, otomatis pendanaannya juga tidak ada,” terang Muriansyah.
Menurutnya, sejak terbitnya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang perubahan atas UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAE), penanganan konflik satwa buaya kini menjadi kewenangan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), bukan lagi di bawah BKSDA.
“Ya, memang betul. BKSDA (Kementerian Kehutanan) tidak menangani buaya lagi. Kewenangan itu sudah beralih ke KKP,” ujarnya.
Meski begitu, BKSDA Sampit tetap berupaya membantu melalui langkah mitigasi dan edukasi kepada masyarakat. Sebab, di Kotim belum ada petugas dari KKP yang secara khusus menangani satwa air tersebut.
“Karena kondisi di Kotim belum ada petugas KKP, kami tetap berusaha memitigasi dan menangani persoalan yang ada, tapi lebih ke edukasi,” jelas Muriansyah.
Upaya tersebut dilakukan dengan memasang spanduk imbauan, memberikan pengarahan kepada warga, serta menyosialisasikan tiga faktor utama yang menyebabkan buaya mendekati perairan pemukiman.
“Kami juga rutin mengingatkan warga agar berhati-hati saat beraktivitas di sungai. Saat kunjungan ke desa atau sekolah, kami sampaikan langsung agar masyarakat lebih waspada,” katanya.
Selain di Parenggean, kemunculan buaya juga dilaporkan terjadi di kawasan wisata Teluk Sampit. Laporan itu menambah kekhawatiran karena lokasi tersebut sering ramai pengunjung.
“Kalau di Teluk Sampit, karena itu tempat wisata, otomatis masyarakat jadi khawatir,” tutur Muriansyah.
BKSDA Sampit mengimbau warga agar tidak melakukan tindakan berisiko seperti mencoba menangkap atau mengusir buaya tanpa pendampingan pihak berwenang.
“Kami berharap masyarakat tetap tenang, tapi juga waspada. Jangan panik, yang penting selalu berhati-hati,” pungkasnya.
Seperti diketahui keberadaan buaya menjadi momok menakutkan bagi masyarakat Kotim. Namun di sisi lain predator ini termasuk salah satu hewan dilindungi negara.
Masalah baru muncul semenjak penanganan buaya tak lagi kewenangan BKSDA, otomatis perlu dibentuk segera tim atau instansi yang menangani masalah buaya itu.(oes)
Editor : Slamet Harmoko