SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Video perjuangan sekelompok guru di Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mendadak viral di media sosial.
Dalam video yang diunggah akun Facebook bernama Ernawati, para guru tampak menyeberangi jembatan kayu rusak yang nyaris putus demi bisa sampai ke sekolah tempat mereka mengajar.
Dengan langkah hati-hati, mereka meniti papan kayu reot yang disusun seadanya. Di bawah jembatan, mengalir sungai yang siap menelan siapa pun yang terpeleset.
Meski berisiko, semangat para pendidik itu tak surut sedikit pun. Sambil menuntun sepeda motor dan membawa perlengkapan mengajar, mereka tetap melangkah.
“Benar, itu kami saat kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) di SDN 1 Batuah,” ujar AR, salah satu guru di Desa Terantang, Jumat (10/10/2025).
Menurut AR, jembatan yang menghubungkan Desa Terantang dan Batuah itu memang sudah lama rusak. Jembatan tersebut dibangun secara swadaya oleh warga dan tak pernah mendapat perbaikan permanen. Akibatnya, setiap kali air pasang, bagian bawah jembatan tergerus dan cepat rusak.
“Kalau air sungai naik, kayunya sering hanyut. Tapi karena ini satu-satunya akses menuju sekolah, mau tidak mau kami tetap lewat sini,” jelasnya.
Video itu langsung menuai gelombang empati dari warganet. Banyak yang menaruh hormat atas dedikasi para guru di pelosok, tapi juga tak sedikit yang menyesalkan kondisi infrastruktur yang memprihatinkan.
“Salut buat para guru yang tetap semangat demi anak-anak. Tapi miris, harusnya jembatan seperti ini sudah diganti permanen,” tulis seorang pengguna Facebook di kolom komentar.
“Jangan tunggu ada korban baru diperbaiki,” tambah warganet lain.
AR dan warga sekitar berharap pemerintah daerah segera memperbaiki jembatan secara permanen. Selain guru, warga dan anak-anak sekolah juga melintasi jalur itu setiap hari.
“Kalau tidak segera diperbaiki, bisa-bisa nanti ada yang jatuh. Kami cuma ingin jembatan yang aman untuk dilalui,” harapnya.
Perjuangan para guru di Seranau ini menjadi potret nyata bagaimana semangat mencerdaskan anak bangsa tetap menyala, bahkan di tengah keterbatasan. Mereka tidak hanya mengajar di ruang kelas, tapi juga memberikan teladan tentang arti keberanian dan pengabdian tanpa batas. (oes)
Editor : Slamet Harmoko