Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Kian Tertekan, Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Farid Mahliyannor
Penulis: Farid Mahliyannor❯
ilustrasi nilai tukar Rupiah dengan Dolar AS/AI
ilustrasi nilai tukar Rupiah dengan Dolar AS/AI

Advertisement

 

Radarsampit.jawapos.com - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di awal Juni 2026 ini kian mengkhawatirkan setelah terpantau terus merangkak naik hingga mendekati level psikologis baru, yakni Rp18.000 per dolar AS.

Berdasarkan data pasar spot pada Rabu (3/6/2026), mata uang Garuda kini tertahan di kisaran Rp17.896 hingga Rp17.927 per dolar AS akibat kuatnya tekanan eksternal dan keperkasaan indeks dolar global.

Advertisement

Tren pelemahan yang terjadi secara beruntun ini menjadi sinyal lampu kuning bagi stabilitas instrumen keuangan domestik serta memicu kewaspadaan tinggi dari para pelaku pasar dan pembuat kebijakan.

Meski demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi nasional. Purbaya meyakini perekonomian Indonesia masih menjadi salah satu yang paling menjanjikan di kawasan.

Advertisement

Sebagai langkah antisipasi, Bank Indonesia (BI) telah melakukan intervensi di pasar obligasi untuk menjaga stabilitas keuangan. Pemerintah juga menyiapkan strategi jangka pendek, menengah, dan panjang guna memastikan pertumbuhan ekonomi domestik tetap terjaga.

Selain faktor domestik, Purbaya menyinggung perkembangan geopolitik global, khususnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang disebut semakin mendekati kesepakatan damai. Menurutnya, deeskalasi konflik di Timur Tengah tersebut diproyeksikan akan membantu mengurangi tekanan global terhadap nilai tukar rupiah dalam waktu dekat.

Namun di sektor perdagangan internasional, lonjakan kurs dolar AS saat ini tetap menjadi pisau bermata dua dengan dampak yang sangat kontras.

Sektor industri manufaktur dan importir nasional, khususnya di Jawa Timur, langsung dihadapkan pada lonjakan biaya operasional (cost of production) yang signifikan, mengingat sebagian besar bahan baku dan komponen penolong masih harus didatangkan dari luar negeri.

Sebaliknya, bagi sektor berorientasi ekspor seperti komoditas perkebunan, pertanian, dan industri kreatif, situasi ini di atas kertas memberikan potensi margin keuntungan yang lebih besar dalam bentuk valuta asing. Meskipun keuntungan ekspor tersebut sering kali tetap tereduksi oleh tingginya biaya logistik internasional yang dipatok dalam dolar.

Advertisement
Editor : Farid Mahliyannor
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SampitIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Sejumlah Guru di Palangka Raya Berprestasi di Ajang Duta CBP Rupiah 2026

Sejumlah Guru di Palangka Raya Berprestasi di Ajang Duta CBP Rupiah 2026

Guru-guru di Kota Palangka Raya meraih sejumlah prestasi dalam Pemilihan Duta Guru Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah Tahun 2026

Rupiah Terus Melemah, Masuk 5 Mata Uang Terlemah di Dunia

Rupiah Terus Melemah, Masuk 5 Mata Uang Terlemah di Dunia

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan pelemahan dalam beberapa waktu terakhir

Celios Kritik Prabowo soal Rupiah: Terlalu Santai Hadapi Ancaman Ekonomi Global, Dampaknya Langsung ke Rakyat

Celios Kritik Prabowo soal Rupiah: Terlalu Santai Hadapi Ancaman Ekonomi Global, Dampaknya Langsung ke Rakyat

Bhima menilai gaya komunikasi Prabowo dalam menanggapi pelemahan rupiah berpotensi memunculkan sentimen negatif di tengah pasar

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement

Populer