Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Truk Lebih 8 Ton Masih Melenggang sampai Jembatan Darurat Jebol, Ini Jawaban Lengkap Dishub Kotim

Heny Pusnita • Sabtu, 9 Agustus 2025 | 11:20 WIB
TETAP MELINTAS: Truk yang mengangkut TBS kelapa sawit saat melintas di jembatan darurat Sei Lenggana, Rabu (6/8) lalu.
TETAP MELINTAS: Truk yang mengangkut TBS kelapa sawit saat melintas di jembatan darurat Sei Lenggana, Rabu (6/8) lalu.

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kebijakan pembatasan terhadap angkutan berat yang melintas di jembatan darurat Sei Lenggana, ruas Sampit-Pangkalan Bun, tak berjalan di lapangan.

Akibatnya, jembatan alternatif jebol dan sempat menghambat arus lalu lintas di ruas padat tersebut, Kamis (7/8) malam.

Pantauan Radar Sampit sebelum jembatan darurat rusak, lalu lintas truk bermuatan berat nyaris tak ada jeda.

Terutama truk yang mengangkut tandan buah segar (TBS) kelapa sawit maupun crude palm oil (CPO).

Tak ada pemeriksaan terhadap angkutan yang melintas. Pemberitahuan agar kendaraan dengan sumbu terberat maksimal delapan ton hanya tersampaikan melalui papan pemberitahuan di titik kendaraan berhenti menunggu antrean.

Sejumlah kendaraan berat sempat terjebak dan roboh saat melintas. Jumat (1/8) lalu misalnya, truk bermuatan penuh TBS kelapa sawit terguling di jalur tersebut hingga muatannya tumpah di sisi kanan jalan menuju arah Pangkalan Bun.

Insiden itu—dan terjebaknya truk lain di hari sebelumnya—sejatinya jadi sinyal, kendaraan berat yang memaksa melintas, bakal berdampak buruk pada akses jembatan darurat.

Pengguna jalan lain juga dipaksa menunggu lebih lama dengan panjangnya antrean.

Terus-menerus dilindas angkutan berat, membuat ketahanan jembatan kian rapuh. Sebagian papan lantai jembatan ambruk.

Antrean panjang kembali tak terhindarkan. Akses di jalur perekonomian itu lumpuh selama beberapa jam lamanya.

”Saya menerima laporan jembatan darurat ambruk setelah dilintasi truk tangki pelat non-KH. Saya hubungi pihak kontraktor agar memastikan perbaikan dilakukan segera. Malam itu juga, selama kurang lebih tiga jam, jembatan darurat selesai diperbaiki dan sempat menimbulkan antrean kendaraan berkilometer," kata Raihansyah, Plt Kepala Dinas Perhubungan Kotim, Jumat (8/8).

Raihansyah menuturkan, pihaknya bersama Satlantas Polres Kotim sudah sering mengimbau perusahaan yang angkutannya melintasi Jalan Jenderal Sudirman km 21, agar mengurangi beban muatan kendaraannya.

”Kami imbau seluruh perusahaan yang memiliki armada angkutan berat, agar memperhatikan beban muatan tidak melebihi delapan ton. Hal itu agar kejadian truk as patah, jembatan ambruk, tidak terjadi lagi dan tidak sampai merugikan pengendara lain,” ujarnya.

Terkait angkutan berat melebihi batas kemampuan jalan yang tetap melintas, Raihansyah tak membantahnya.

Larangan melintas bagi angkutan tersebut tak bisa sepenuhnya diterapkan, mengingat jalur itu urat nadi perekonomian.

Apabila angkutan itu berangkat jauh dari titik jalur alternatif, akan sulit meminta mereka kembali.

”Pengawasan tetap kami lakukan. Kalau mereka bawa muatan dari luar kota, kami minta sopir berbalik arah itu tidak memungkinkan. Dari masuk Sampit itu kami imbau agar jangan membawa muatan melebihi delapan ton.  Kami harap perusahaan dan sopir angkutan memahami,” ujarnya.

Kondisi demikian juga telah diupayakan antisipasinya.

Menurut Raihansyah, apabila terjadi insiden yang tak diinginkan, seperti truk terjebak, kontraktor telah menyiagakan alat berat, urukan tanah, dan kayu untuk segera diatasi.

Adapun jalur alternatif yang tersedia di jalan perkebunan tak serta-merta jadi solusi.

Rute perkebunan itu mulai dari Jalan Jenderal Sudirman km 18 dan kembali ke jalan utama di km 22.

Musim kemarau dengan potensi kebakaran yang tinggi jadi pertimbangan kendaraan dialihkan ke ruas tersebut.

”Kalau dibuka jalur alternatif melewati jalan perkebunan, ada banyak pertimbangan. Saat ini musim kemarau, kalau ada sopir yang melempar puntung rokok, siapa yang bertanggung jawab apabila terjadi kebakaran lahan? Jadi, kalau pun memungkinkan, jalur perkebunan sawit ini hanya dapat digunakan saat jembatan mengalami perbaikan atau ambulans atau kendaraan darurat lain yang ingin melintas cepat tanpa mengantre," ujarnya.

Manager PT Persada Nusantara Prima William Leowanto Site, selaku kontraktor proyek jembatan tersebut, mengatakan, jembatan darurat panjangnya 30 meter dengan lebar 4,7 meter. Beberapa kali terjadi insiden ban truk ambles hingga as yang patah.

”Banyak faktor yang menyebabkan itu terjadi, bisa jadi karena kendaraan tidak dalam kondisi maksimal, membawa muatan berlebih dan pijakan ban yang kurang pas," katanya.

Dia mengakui masih banyak kendaraan bermuatan berat melebihi delapan ton melewati jembatan darurat.

”Memang sudah ada yang sadar mengurangi muatannya, tapi tidak sedikit juga yang memaksa membawa muatan melebihi delapan, bahkan belasan ton. Inilah yang perlu menjadi perhatian bersama,” katanya.

William mengingatkan pengendara, selain mengurangi beban muatan, juga harus berhati-hati mengurangi laju kendaraan. Pasalnya, kondisi tanah di jalur itu tak stabil.

”Kami membuat jalan alternatif dengan menimbun urukan tanah di atas tanah gambut sepanjang 75 meter dari tikungan kanan menuju jembatan darurat, setelah itu dilanjutkan 116 meter jalan darurat," ujarnya. (hgn/ign)

Editor : Gunawan.
#truk sawit #Dishub Kotim #Jembatan Lenggana #sampit #Pangkalan Bun