SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Penutupan total jembatan darurat di Sei Lenggana, Jalan Jenderal Sudirman km 21-22 selama delapan jam mulai pukul 22.00 - 06.00 WIB Rabu (6/8) pagi, menimbulkan antrean panjang lebih dari lima kilometer.
Sopir yang rata-rata mengangkut muatan CPO dan buah kelapa sawit terpaksa menunggu, terjebak dalam kemacetan. Tak hanya kendaraan angkutan berat, mobil pribadi juga ikut mengantre.
”Sudah tiga jam saya mengantre dari km 18, sampai siang ini belum bisa melewati jembatan darurat. Karena sistem buka tutup dibuka hanya untuk satu jalur," ujar Vincent, sopir pengangkut buah sawit yang ingin menuju Mustika Sembuluh.
Antrean terjadi sejak Senin (28/7) lalu dan belum ada perubahan sampai kemarin.
Di sisi lain, penutupan total jembatan darurat membuat pengendara kelelahan, bahkan memilih merebahkan diri di atas aspal.
”Ada kawan tadi duluan berangkat dari tengah malam, paginya masih belum lolos melewati jembatan darurat, menunggu antrean sambil tiduran di aspal," ujarnya.
Site manager PT Persada Nusantara Prima selaku Penyedia Jasa William Leowanto menjelaskan, penutupan total jembatan darurat terpaksa dilakukan demi memperbaiki jembatan agar pengendara aman melintas.
”Malam tadi ada penutupan total sementara, karena ada perbaikan di jembatan darurat jadi kami terpaksa menutup total dari jam 10 malam sampai jam 6 pagi demi keselamatan pengendara," kata William saat diwawancarai Radar Sampit di lokasi, Rabu (6/8) siang.
Selama delapan jam, pekerja bekerja cepat memperbaiki jembatan darurat seperti mengencangkan baut, pengelasan titik lantai jembatan yang rawan ambles dan pemasangan kembali plat untuk landasan rel ban.
”Jembatan darurat itu panjangnya 30 meter dengan lebar 4,7 meter. Beberapa kali ada kejadian ban ambles dan as truk patah. Banyak faktor yang menyebabkan itu terjadi, bisa jadi karena kendaraan tidak dalam kondisi maksimal, membawa muatan berlebih dan pijakan ban yang kurang pas," ujarnya.
Jembatan darurat alternatif yang disediakan tepat di samping Jembatan Sei Lenggana lama, hanya mampu menopang beban terbatas dengan muatan kendaraan tak melebihi 8 ton. Kondisi inilah yang mengharuskan sistem buka tutup diterapkan.
”Ini yang sulit dikendalikan. Masih banyak kendaraan bermuatan berat melebihi 8 ton memaksa melewati jembatan darurat. Memang sudah ada yang sadar mengurangi muatannya, tapi tidak sedikit juga yang memaksa membawa muatan melebihi 8 ton bahkan belasan ton, inilah yang perlu menjadi perhatian bersama," ujarnya.
William mengingatkan pengendara, selain mengurangi beban muatan, pengendara juga harus berhati-hati mengurangi laju kendaraannya.
”Kami membuat jalan alternatif dengan menimbun urukan tanah di atas tanah gambut sepanjang 75 meter dari tikungan kanan menuju jembatan darurat, setelah itu dilanjutkan 116 meter jalan darurat," ujarnya.
Dengan kondisi jalan tanah alternatif ditambah debu yang bertebaran setiap kendaraan melintas, tidak memungkinkan pengendara melaju cepat apalagi mengantuk saat berkendara.
”Memasuki jalan alternatif darurat ini memang perlu kehati-hatian. Kami tidak memungkinkan melebarkan jalan atau mengaspal jalan, karena jalan ini hanya bersifat sementara sampai Jembatan Sei Lenggana selesai dibangun," ujarnya.
Selain itu, antrean panjang juga masih terus terjadi. Kepadatan maksimal dimulai dari jam 14.00-18.00 WIB sepanjang lebih dari 4-5 kilometer.
”Dengan sistem satu jalur ini, setiap 10-15 menit bergerak bergantian. Namun, kami juga mempertimbangkan kondisi di lapangan apabila kendaraan darurat melintas seperti ambulans atau pemadam itu tetap diprioritaskan," ujarnya.
Terkait progress peningkatan pembangunan Jembatan Sei Lenggana sepanjang 35x9 meter yang merupakan proyek Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kalimantan Tengah, dikerjakan sejak Mei lalu dan ditenggat selesai 3 Desember 2025. Proyek ini didanai menggunakan APBN senilai Rp20.533.451.000.
”Saat ini progress pembangunan Jembatan Sei Lenggana sudah 27 persen. Melibatkan 35-40 pekerja dan kami berupaya menyelesaikan pekerjaan sebelum target yang telah ditentukan," katanya. (hgn/ign)
Editor : Gunawan.