Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Banyak Sarjana Menganggur, Strategi Ini Yang akan Dilakukan Pemerintah Pusat untuk Mengatasinya

Agus Jaka Purnama • Selasa, 5 Agustus 2025 | 21:30 WIB
Antrean para pencari kerja saat ada Jobfair 2025 di Bekasi belum lama tadi.
Antrean para pencari kerja saat ada Jobfair 2025 di Bekasi belum lama tadi.

radarsampit.jawapos.com-Badan Pusat Statistik (BPS) telah  mengumumkan lebih dari satu juta pengangguran di Indonesia adalah lulusan sarjana (S1). Kondisi ini pun menjadi keprihatinan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan.Pihaknya pun sudah menyiapkan strategi khusus untuk mengatasi masalah itu.

Sorotan soal banyaknya pengangguran bergelar sarjana itu, disampaikan Fauzan di sela peluncuran Beasiswa Cendekia Baznas 2025 di Jakarta (4/8).

Dalam momen itu, kuota beasiswa yang disediakan untuk mahasiswa keluarga miskin sebanyak 5.000 orang. Lokasi kuliahnya di sekitar 180 kampus di bawah naungan Kemendiktisaintek dan Kementerian Agama (Kemenag).

Menurut Fauzan, ada dua masalah yang dia hadapi saat ini. Yaitu masalah banyaknya pengangguran terdidik. Yaitu pengangguran yang sejatinya lulusan perguruan tinggi. "Pengangguran masih tinggi. Kami sedang bahas treatment-nya bersama Kementerian Investasi," ujarnya.

Ia mengaku beberapa kali berkunjung ke kawasan daerah terluar, tertinggal, dan terdepan (3T). Di sana dia menemukan fenomena banyak putra daerah yang tidak terserap ke industri setempat. Banyak perusahaan besar seperti tambang dan sejenisnya, yang bekerja malah pekerja dari luar daerah.

"Kami bersama Kementerian Investasi dan pemda akan berusaha menyelesaikan masalah yang menahun itu. Putra-putri daerah, seharusnya bisa memiliki peluang lebih besar untuk bekerja di perusahaan yang ada di daerahnya,” tegas Fauzan.

Dalam kesempatan itu ia juga menyampaikan masalah angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi yang masih sekitar 31 persen. "Artinya masih banyak anak-anak usia kuliah yang tidak kuliah," katanya. Masalah utamanya adalah akses.

Fauzan berharap lewat beasiswa Cendekia Baznas bisa membuka akses pendidikan tinggi lebih luas. Baginya perlu kolaborasi dari banyak lembaga negara, termasuk lembaga swasta untuk membuka akses pendidikan tinggi. Salah satunya dengan memberikan beasiswa. "Dari negara sudah ada KIP (Kartu Indonesia Pintar) Kuliah," ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama Ketua Baznas Noor Achmad menyampaikan, Beasiswa Cendekia merupakan wujud nyata zakat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin masa depan. “Beasiswa Cendekia Baznas bukan hanya bantuan biaya pendidikan, tapi juga investasi SDM," tegasnya.

Noor  juga menyatakan, mereka berkomitmen memberikan pendampingan dan pembinaan secara berkelanjutan kepada para penerima beasiswa. Tujuannya supaya mereka memiliki kompetensi akademik, spiritual, dan sosial yang mumpuni. “Beasiswa ini khusus untuk dalam negeri. Kami juga punya beasiswa untuk ke luar negeri," tuturnya.(hil/jpc)

Editor : Agus Jaka Purnama
#pengangguran #sarjana menganggur #lulusan sarjana #badan pusat stastik (bps) #kemendiktisainstek