Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Titik Panas Terpantau di Dua Kecamatan Ini, Tapi Kota Sampit Justru Diguyur Hujan 

Usay Nor Rahmad • Minggu, 13 Juli 2025 | 11:55 WIB
Ilustrasi anomali cuaca antara musim kemarau dan hujan. (Dibuat dengan akal imitasi)
Ilustrasi anomali cuaca antara musim kemarau dan hujan. (Dibuat dengan akal imitasi)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Meski hujan deras mengguyur wilayah perkotaan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam 24 jam terakhir, sejumlah titik panas (hotspot) justru terdeteksi di beberapa wilayah pedalaman, Minggu (13/7/2025).

Berdasarkan pemantauan satelit, terdapat tiga titik panas di Kecamatan Tualan Hulu, tepatnya di Desa Luwuk Sampun, dan satu titik panas di Kecamatan Mentaya Hulu, yakni di Desa Santilik.

Temuan ini cukup kontras dengan kondisi cuaca di wilayah perkotaan seperti Sampit dan sekitarnya yang dilaporkan diguyur hujan deras sejak Sabtu malam hingga Minggu pagi.

Sementara itu, citra satelit cuaca Himawari-8 Infra Red Enhanced pada pukul 07.00 WIB menunjukkan tidak adanya pertumbuhan awan signifikan di wilayah pedalaman Kotim, termasuk daerah yang terpantau titik panasnya.

Meski begitu, status potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdasarkan analisis parameter cuaca di wilayah Kalimantan Tengah masih berada dalam kategori aman.

Namun, kemunculan titik panas tetap menjadi perhatian, terutama menjelang musim kemarau yang diprediksi akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.

“Data ini menjadi alarm dini, meski secara umum kondisi masih aman. Namun masyarakat tetap kami imbau untuk tidak melakukan pembakaran terbuka, apalagi di lahan gambut,” ujar Suci Priatin Ningsih, Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit.

Pemerintah daerah bersama BPBD dan Manggala Agni disebut terus bersiaga, termasuk dengan patroli rutin di wilayah rawan karhutla.

Jika tidak diantisipasi sejak dini, kemunculan titik panas bisa berkembang menjadi kebakaran hutan dan lahan yang berdampak buruk, baik bagi lingkungan maupun kesehatan masyarakat.

“Langkah preventif lebih baik daripada pemadaman ketika api sudah membesar. Perlu kerja sama semua pihak, termasuk warga desa,” lanjutnya.

Sebagai langkah antisipasi, masyarakat diimbau melaporkan jika melihat aktivitas mencurigakan atau munculnya asap di area hutan dan perkebunan kepada aparat setempat atau melalui posko pengendalian karhutla terdekat. (*)

Editor : Slamet Harmoko
#titik panas #diguyur hujan #Kota sampit #kebakaran hutan dan lahan #dua kecamatan