KUALA KURUN, radarsampit.jawapos.com - Di Kabupaten Gunung Mas (Gumas) tercatat ada 59 desa masuk kategori rentan pangan, yang tersebar di sembilan kecamatan. Hal itu terungkap dari data Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Gunung Mas (Gumas) saat menggelar publikasi peta ketahanan dan kerentanan pangan (Food Security And Vulnerability Atlas-FSVS) tahun 2024, Senin (2/12).
Kepala DPKP Kabupaten Gumas Eigh Manto memaparkan, 59 desa itu yakni Tangki Dahuyan, Tumbang Samui, Tumbang Oroi, Luwuk Tukau, Putat Durei, Tumbang Mantuhe, Luwuk Kantor, Tumbang Jutuh, Tumbang Baringei, Tumbang Malahoi, Linau, Talangkah, Hujung Pata, Tumbang Jalemu Kajuei, Mangkawuk, Tajah Antang Raya, Tumbang Kuayan, Tumbang Langgah, Tusang Raya, Tumbang Bahanei, Kelurahan Rabambang.
Selanjutnya Desa Jangkit, Tumbang Lapan, Batu Puter, Sei Antai, Hantapang, Sangal, Tumbang Tuwe, Sarerangan, Tumbang Pajangei, Kasintu, Sei Riang, Batu Nyiwuh, Tanjung Untung, Upon Batu, Sumur Mas, Batu Nyapau, Taja Urap, Karason Raya, Rangan Mihing, Tumbang Pasangon, Tumbang Korik, Teluk Kanduri, Tumbang Hamputung, Tumbang Tajungan, Tumbang Takaoi.
Kemudian Lawang Kanji, Tumbang Mahuroi, Karetau Rambangun, Karetau Sarian, Rangan Hiran, Harowo, Tumbang Posu, Tumbang Anoi, Tumbang Manyoi, Mangkuhung, Tumbang Lapan, Bontoi dan Tumbang Hatung.
"Jumlah desa rawan pangan tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2023 lalu, yang hanya 21 desa," ujar Eigh Manto.
Dijelaskannya, indikator peta ketahanan dan kerentanan pangan tahun 2024 terbagi berdasarkan ketersediaan pangan yaitu rasio luas lahan pertanian terhadap jumlah penduduk, dan jumlah sarana prasarana penyedia pangan terhadap jumlah rumah tangga.
Kemudian lanjut Eigh, berdasarkan keterjangkauan pangan, yakni rasio jumlah penduduk dengan tingkat kesejahteraan terendah terhadap jumlah penduduk, dan desa yang tidak memiliki akses penghubung yang memadai melalui darat, air dan udara.
“Lalu pemanfaatan pangan berdasarkan rasio jumlah rumah tangga tanpa akses air bersih terhadap jumlah rumah tangga dan rasio jumlah penduduk per tenaga kesehatan terhadap kepadatan penduduk,” pungkasnya. (arm/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama