Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Heboh Dugaan Pelecehan Saat Proses Ruqyah, Korban Lapor Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Slamet Harmoko • Minggu, 17 November 2024 | 09:21 WIB
Ilustrasi pelecehan seksual. (FOTO: DOK JAWA POS)
Ilustrasi pelecehan seksual. (FOTO: DOK JAWA POS)

Radarsampit.jawapos.com - Masyarakat Kalimantan Selatan terutama Banjarmasin dibuat heboh dengan pengakuan akun anonim @helloisxe di platform media sosial X (Twitter).

Dalam unggahannya, pemilik akun mengungkap bahwa kerabatnya menjadi korban pelecehan seksual saat menjalani ruqyah.

Warganet langsung bereaksi, mereka akhirnya turut berbagi pengalaman serupa.

Netizen bahkan menyebut nama terduga pelaku. Yaitu Achmad Junaidi, seorang ahli pengobatan spiritual yang membuka praktik di Jalan Belitung Darat, Gang Teuku Umar, Banjarmasin Barat.

Dugaan kian mengarah ke Junaidi tatkala Rabu (13/11/2024) ia tiba-tiba mengumumkan sayembara berhadiah Rp10 juta bagi siapa saja yang bisa mengungkap identitas pemilik akun @helloisxe.

Tak hanya itu, Junaidi juga melaporkan kasus ini ke Satreskrim Polresta Banjarmasin. Ia mengaku sebagai korban pencemaran nama baik.

Namun, yang membuat publik kian penasaran, unggahan kontroversial akun @helloisxe tiba-tiba lenyap tak bersisa.

Radar Banjarmasin (grup radar sampit) berhasil mewawancarai seorang perempuan berinisial L (26) pada Jumat (15/11).

L bukan pemilik akun @helloisxe, namun ia bersedia mengungkap pengalaman pahit yang terjadi pada tahun 2020.

“Saat itu, saya dibawa ibu untuk berobat karena sering cemas berlebihan. Di tempatnya, saya diminta berbaring dan merenung, sementara ia memutar musik relaksasi dan memberikan nasihat,” tutur L.

Namun, momen itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Junaidi dengan dalih "proses pengobatan" memegang tubuhnya dengan tidak senonoh.

“Dia menggerayangi dada saya dan mengucapkan kata-kata vulgar,” ujarnya.

Sebelum sesi berakhir, Junaidi menceletuk untuk menjadikan L sebagai istri keduanya.

"Tentu saja ibu saya menolak. Jangankan dimadu, sebagai istri pertama saja tidak," katanya menirukan perkataan mamanya.

Lebih mengejutkan, proses tersebut direkam secara live di Facebook tanpa sepengetahuan dan persetujuan L.

“Saya baru tahu setelah melihat siarannya. Saya langsung menghubungi akun Facebook-nya untuk meminta video tersebut dihapus,” beber L.

"Sampai berminggu-minggu postingan itu tidak juga dihapus," tambahnya.

Junaidi bahkan meminta L untuk kembali datang demi melanjutkan proses pengobatan.
"Disuruh mandi-mandi, tapi saya tidak mau. Saya trauma," katanya.

Menurut L, alasan dirinya tidak melapor waktu itu lantaran malu dan takut. Belakangan dia memilih angkat bicara lantaran perbuatan Junaidi kian menjadi-jadi.

"Saya akan segera berkonsultasi dan melaporkan ini ke polisi. Saya tidak ingin semakin banyak korban berjatuhan," tutupnya.

Diajak ke Hotel

Di tempat lain, seorang perempuan berinisial F (24) juga mengaku menjadi korban pelecehan Junaidi pada tahun 2021 silam.

Peristiwa ini terjadi saat F menemani kakaknya yang ingin menjalani terapi hamil.

"Kami datang bertiga. Saya, kakak, dan seorang teman pria," katanya, Jumat (15/11).

Namun saat terapi dimulai, teman pria mereka diminta menunggu di luar ruangan, sehingga hanya F dan kakaknya yang masuk ke dalam.

F mengungkap, saat proses terapi, Junaidi mulai menyentuh kakaknya di area perut hingga ke tubuh bagian bawah.

Setelah sesi tersebut, Junaidi bahkan melontarkan kalimat tidak pantas.

"Dia bilang, kalau kakak saya mau berhubungan badan dengannya, maka akan cepat hamil," katanya.

"Lalu dia tertawa sambil berkata kalau itu hanya becanda. Kami pun tidak menaruh kecurigaan," sambungnya.

Kepada F, Junaidi bilang, kalau korban harus datang pada dua pekan berikutnya. "Saya mengiyakan saja," katanya.

Pada hari yang dijadwalkan, F datang bersama ibunya. Saat sesi terapi dimulai, Junaidi meminta F berbaring sambil diputarkan musik relaksasi. Di momen inilah pelecehan terjadi.

"Saya menangis karena merenung," katanya.

Ketika ibu F lengah, Junaidi mulai memegang pipi, bibir, sampai ke areal tubuh sensitif korban.

"Saya tidak berani melawan. Tapi saya menggerak-gerakan badan ketika dia ingin memegang," katanya.

"Di satu momen, saya dicium dekat bibir sampai shock. Saya berkeringat dingin," lanjutnya.

Selanjutnya, F menangis. Tapi si ibu tidak mengerti. "Dikiranya saya menangis karena merenungi kesalahan," katanya.

Ia kemudian bangun dan meminta ibunya untuk segera pulang.

"Saat saya pulang, dia meminta saya untuk membalas pesannya. Dia bilang ingin memberikan kata-kata mutiara lagi," katanya.

Setelah pengobatan itu, Junaidi sering mengiriminya pesan berisi ajakan ke hotel.

"Dia mengirim pesan, meminta saya curhat kepadanya kalau punya masalah. Tapi selalu saya tolak," katanya.

Terakhir, Junaidi mengirim pesan pada tahun 2022. "Isinya dia bilang kangen berat," kata F.
F sejatinya punya niat melapor. Tapi karena takut sebab tidak mempunyai bukti kuat maka ia mengurungkannya.

"Saya masih pikir-pikir untuk melapor resmi. Saya masih menunggu korban lainnya muncul," katanya.

Melapor ke DP3A

Di tempat lain, beberapa perempuan yang juga mengaku sebagai korban Junaidi telah mengadu ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Banjarmasin.

"Dari beberapa aduan yang masuk melalui hotline, satu orang telah datang ke UPTD PPA," kata Kabid Perlindungan Perempuan di DP3A Banjarmasin, Rusdiati, kemarin.

Laporan tersebut kini dalam tahap pendampingan. Yang bersangkutan, kata Rusdiati, sudah menjalani proses assesmen bersama tim ahli hukum UPTD PPA.

"Kalau ingin melapor ke jalur hukum, kami siap mendampingi," ujarnya.

Korban juga akan mendapat pendampingan psikologis untuk mengatasi trauma yang dialami.

"Kami sedang mengatur jadwal pertemuan lanjutan untuk memastikan korban mendapat dukungan yang diperlukan," tandasnya.

Melalui sebuah video yang diunggah di akun Instagram-nya, Junaidi menepis tuduhan yang disematkan kepada dirinya.

"Silakan buktikan tuduhannya. Rumah kami full CCTV. Sisa anda sebutkan kapan kejadiannya maka akan ketahuan yang sebenarnya," katanya. (rb/jpc)

Editor : Slamet Harmoko
#perempuan #pelecehan seksual #ruqyah #kalimantan selatan #pelecehan #banjarmasin #lapor #korban