SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Kejadian serangan buaya yang menewaskan Badaruzaman (53) menjadi kejadian ketiga yang terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tahun ini.
Kejadian serangan buaya pernah dialami Lani alias Amang Olan warga Desa Satiruk, Kecamatan Pulau Hanaut saat sedang menjala ikan di tepi pantai belakang SDN 1 Satiruk pada Selasa (23/4/2024) tengah malam.
Atas kejadian itu, korban dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami luka cukup parah pada bagian perut, tulang rusak sebelah kiri dan kaki kiri.
Kejadian kedua dialami Lawiyah (59) saat mencuci beras jam 04.00 WIB Kamis (23/5/2024) di tepian Sungai Mentaya, Dusun Lenggana, Desa Bapanggang Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.
Beruntungnya korban selamat dari terkaman buaya, meski mengalami luka sobek pada lengan kanannya.
"Kejadian serangan buaya yang menerkam manusia sudah terjadi tiga kali tahun ini. Pertama di Desa Satiruk korban mengalami luka berat, kedua di Desa Bapanggang Raya korban mengalami luka berat dan ketiga kejadian Senin malam kemarin sekitar jam 21.00 WIB yang mengakibatkan korban meninggal dunia," kata Muriansyah, Komandan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit, Selasa (22/10).
BKSDA Resort Sampit sudah tak bosan-bosannya mengimbau warga sebelum kejadian bahkan setelah kejadian agar warga waspada terhadap kemunculan buaya dan hindari beraktivitas ditepian sungai saat hari gelap mulai waktu magrib hingga menjelang pagi.
"Kami tidak bosan-bosannya selalu mengingatkan warga khususnya yang tinggal di tepi sungai agar lebih waspada dan berhati-hati saat beraktifitas di Sungai Mentaya, di Sungai Cempaga dan anak-anak sungai lainnya terutama saat hari sudah gelap mulai malam hingga waktu subuh," katanya.
Pada malam hari, buaya lebih aktif bergerak dan pandangan manusia terbatas, sehingga tak menyadari kemunculan buaya yang bisa menerkam secara tiba-tiba.
"Saat malam hari hingga menjelang pagi, dengan penerangan dan penglihatan yang terbatas, kita tidak akan menyadari kalau ada buaya disekitar lokasi tepian sungai. Apalagi di saat ini, buaya sedang dalam musim atau fase kawin dan bertelur, sehingga buaya lebih ganas dan agresif," ujarnya.
Untuk mencegah kemunculan buaya, Muriansyah mengimbau warga agar tidak membuang bangkai hewan ke sungai dan tidak membangun kandang ternak ayam atau bebek ditepian sungai.
"Buaya akan datang ke lokasi yang terdapat kandang ternak hewan dan mengincar hewan ternak. Sehingga, usahakan agar tidak membuang sampah, bangkai hewan atau membangun kandang ternak ditepian sungai yang memancing kemunculan buaya," katanya.
Saat air sedang pasang buaya kerap muncul di dekat lanting bantaran sungai.
"Warga kami imbau tidak beraktivitas ditepi sungai tidak hanya saat hari sudah gelap, tetapi juga pada saat air pasang pergerakan buaya cepat dan dikhawatirkan menyerang warga seperti yang dialami korban di Desa Parebok. Korban mandi malam saat kondisi air sungai sedang pasang," katanya.
Terkait tindaklanjut atas kejadian serangan buaya yang menewaskan Badaruzaman (53) pihaknya akan merencanakan untuk mendatangi lokasi kejadian dalam waktu dekat.
"Tadi pagi kami mau ke sana, untuk membantu menguburkan buaya muara sepanjang 4 meter yang sudah mati ditombak warga. Tetapi, setelah dapat informasi ternyata buaya sudah di kuburkan pagi tadi. Rencana kami ke sana diundur untuk beberapa hari kedepan kami akan mendatangi keluarga korban bersama kades setempat," tandasnya. (hgn/sla)
Editor : Slamet Harmoko