Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Bagaimana Jadinya Jika G30SPKI Sukses Kudeta NKRI? Begini Gambaran 'Mengerikannya'

Sabrianoor • Senin, 30 September 2024 | 08:00 WIB
Monumen Pancasila Sakti di Jakarta Timur.
Monumen Pancasila Sakti di Jakarta Timur.

Radarsampit.jawapos.com – Tepat hari ini, 59 tahun berlalu periode kelam Republlik Indonesia.

Tanggal 30 September 1965 menjadi catatan sejarah terjadinya kudeta Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tidak hanya berusaha mengambil alih kepemerintahan, namun juga haluan negara dari Pancasila ke Marxisme.

Marxisme atau dikenal dengan paham komunis seperti yang tumbuh di Tiongkok, Korea Utara, Vietnam, Kuba dan juga negara besar yang sudah mati seperti Uni Soviet memiliki upaya agresif untuk menekan pertumbuhan agama.

Paham yang dicetuskan Karl Marx ini tak sekedar atheisme (tak percaya Tuhan) saja di dalamnya, namun telah menanamkan kebencian dan akan mematikan agama itu sendiri.

Memang, jika kita telisik dari data statistik di beberapa negara, pertumbuhan orang yang sudah tidak percaya Tuhan semakin meningkat di negara-negara maju, seperti Swedia, Belanda, Prancis, Denmark, dan lainnya.

Namun, atheis yang diadopsi oleh negara-negara komunis (seperti Korut, Tiongkok) dengan negara-negara demokrasi yang meningkat atheisnya (rata-rata negara di Benua Eropa) punya karakteristik yang berbeda.

Komunis bisa dibilang sebagai atheisme yang intoleran dan agresif, serta tidak sama dengan atheisme yang lahir dari kebebasan Hak Asasi Manusia di negara demokrasi.

Dalam praktiknya, atheisme yang dipicu dari Marxisme seperti di era Uni Soviet ini punya manuver keras, di mana tempat ibadah dihancurkan.

Bahkan takkan segan-segan mengintimidasi dan melakukan kekerasan bagi warganya yang diketahui menjalankan praktik agama.

Marxisme (komunis) sendiri menganggap agama adalah candu dan khayalan yang menghambat tujuan bernegara.

Bisa dibayangkan, bagaimana jadinya negara ini jika Kudeta G30SPKI tersebut berhasil dan menguasai republik ini.

Mungkin saat ini kita tidak akan mendengar lagi lantunan azan, gereja yang berdiri megah, perayaan Idulfitri dan Natal yang meriah, serta praktik agama lainnya.

Semua pasti akan dimusnahkan jauh hari sebelumnya. Kita tidak hanya tak percaya Tuhan saja, namun sudah membenci dengan penindasan kepada pengikut agama lainnya.

Salah satu contohnya Albania, Negara Eropa di semenanjung Balkan. Dengan populasi kurang lebih 3 juta jiwa dan persentase muslim sebanyak kurang lebih 70 persen, negara ini dulunya merupakan negara yang agamis di bawah pengaruh Kesultanan Turki Utsmani.

Namun, segalanya berubah ketika negara jatuh ke tangan partai berhaluan komunis, Islam sebagian besar hanya menjadi identitas penduduk semata dan kehidupan telah jauh dari praktik keislaman.

Meskipun komunisme tak lagi menguasai, namun agama sudah cukup jauh di hati.

Hal tersebut mengindikasikan bahwa komunisme bisa memiliki efek tak mengenal agama hingga berdekade lamanya, meskipun partai tak lagi berkuasa.

Selain Albania di atas, negara-negara pecahan Uni Soviet bisa menjadi contoh lainnya. Apalagi di negara yang masih dikuasai rezim komunis seperti Korut dan Tiongkok.

Segala hal yang membuat kita menikmati ibadah, perayaan agama, dan duduk berdampingan dengan damai dengan pengikut agama lain sudah sepatutnya kita syukuri, nikmati, kita jaga, dan kita maksimalkan.

Refleksi dan mengingat Bahaya Laten Komunis mesti menjadikan kita memaklumi perbedaan agama, kepercayaan apalagi cuma beda manhaj, aliran, aswaja, salafi, dan lainnya karena tidak ada apa-apanya dari Komunisme jika sampai berkembang di Indonesia.

Kembali untuk tetap menjunjung tinggi persatuan Indonesia di bawah naungan Pancasila, yang dimana Ketuhanan yang Maha Esa sebagai sila pertama menaungi hak-hak rakyatnya dalam beribadah.

Perbedaan akan agama apalagi masih dalam satu tubuh agama, bukanlah hal yang patut dibesarkan.

Hal yang mestinya yang kita benci adalah komunisme itu sendiri. Paham seperti itulah yang menjadi ancaman. (sbn)

Editor : Gunawan.
#penghianatan pki #g30spki #korban g30spki #kesaktian pancasila #kudeta pki #pki #komunis #pancasila